28 December 2007

Marketing ala Fengshui



Akan digelar di kota Medan

26 December 2007

[media-sumut] Surat kabar Medan Prijaji

Mengapa saya mundur dari tim penulis?
Catatan proyek buku Seabad Pers Kebangsaan
 
Oleh Basilius Triharyanto
 
 
Sekitar bulan Juli 2006, saya mendapat tawaran untuk ikut bergabung dalam tim penulis sebuah proyek buku untuk memperingati Tirtoadhisoerjo, yang pernah menerbitkan surat kabar bernama Medan Prijaji. Surat kabar itu terlahir tahun 1907, sehingga 2007 menjadi hitungan genap 100 tahun lalu ia terbit dengan Tirtoadhisoerjo yang waktu itu menjadi aktor penting dalam surat kabar tersebut.
 
Kali pertama, proyek buku ini saya pahami sebagai perayaan 100 tahun surat kabar Medan Priyayi. Ini momen yang sering dimanfaatkan oleh orang untuk memperingati kelahiran dan merayakan tahun-tahun yang dianggap penting. Untuk merayakan tahun tersebut, lembaga yang bernama Indexpress membuat sebuah buku yang berisi mengenai kisah sejarah singkat surat-surat kabar yang pernah hidup di Indonesia, dari zaman kolonial sampai sekarang tahun 2007.
 
Surat kabar yang dipilih adalah kisaran waktu 1890-an sampai 2007. Saat itu ditentukan jumlah surat kabar tersebut mengacu jumlah hari dalam 1 tahun, yaitu 365 hari. Semula ini terlihat aneh saja bagi saya. Jumlah itu dipilih untuk memudahkan pekerjaan saja dan tak ada dasar kuat jumlah tersebut dipakai dalam mengumpulkan dan memilih surat kabar yang ditulis. Saya sempat bertanya kenapa surat kabar yang ditulis sebanyak 365? Ya, jawabannya kembali untuk kebutuhan praktis saja. Jawaban jumlah itu yang melihat jumlah representatif dari perkembangan dan pertumbuhan surat kabar melayu di negeri ini tak saya dapatkan. Dan memang betul hanya untuk kebutuhan praktis saja, untuk memudahkan pekerjaan. Jadi ditetapkanlah oleh Indexpress, dengan tak membuka perbincangan untuk melihat lagi jumlah surat kabar yang pernah hidup di negeri ini.
 
Saya bersama tujuh orang penulis lain, yang waktu itu disebut-sebut sebagai penulis muda, memulai pekerjaan menulis kisah singkat surat-surat kabar yang ditentukan. Masing-masing penulis, di bulan pertama mendapatkan jatah 18 surat kabar. Agak unik, kami bisa menulis surat-surat kabar yang kami sukai, dan kebetulan berminat pada studi tertentu. Ada yang berminat soal komunis, ya memilih dan diberikan surat-surat kabar komunis. Ada yang berminat mengenai cina, ya dipilihkan surat-surat kabar Tionghoa. Ada yang berdasarkan wilayah, misalnya yang suka Jawa, ya diberi surat-surat kabar Jawa. Juga yang suka surat kabar di luar Jawa, diberi surat-surat kabar yang ada di luar Jawa.
 
Daftar surat-surat kabar sudah disusun oleh pimpinan proyek ini, yang diambil dari katalog perpustakaan nasional RI di jalan Salemba Raya Jakarta. Pada pembagian surat-surat kabar itu, ada yang sudah ditentukan oleh pimpinan proyek, kadang-kadang penulisnya menyela untuk minta surat kabar yang menurutnya menarik. Maka, masing-masing nampak dengan pembagian macam itu. Saya coba melontarkan untuk ditukar, supaya tak bosan dan masing-masing penulis tidak terdikotomi dan bisa mengenali surat-surat kabar lainnya, yang berbeda dari sisi wilayah, organisasi, pendirian politik, dan kelompok.
 
Usul itu sempat dijalankan sebentar, selebihnya pilihan-pilihan surat kabar kembali ke pola semula, sesuai ketertarikan masing-masing penulis. Saya pun memilih surat-surat kabar yang hidup dan terbit di luar pulau Jawa. Ini bukan semata pengaruh politik Orde Baru, Jawa dan luar Jawa, tapi ini lebih pada kondisi riel bahwa surat-surat kabar di daerah tersebut tak banyak yang menulisnya. Ini yang membuat saya sejak awal mempelajari sejarah pers melayu, yang saya awali di daerah Sumatra.  
 
Itu pun tak semua memasukkan surat-surat kabar yang terbit di negeri ini. Surat kabar yang ditulis dalam buku ini dipilih-pilih melalui pemilahan dengan menyisir berdasar periode waktu, mudahnya terbagi pada waktu penjajahan, kemerdekaan, orde lama, orde baru, dan reformasi. Nah, 365 koran dipilih dengan mendasarkan surat kabar yang hidup di masing-masing periode itu. Ya jumlah itu dibagi-bagi tiap periode. Tentu, jumlahnya tak sama karena terkadang ada masa-masa redup, dimana surat kabar berguguran karena represif rezim penguasa dan sebaliknya perkembangan yang cepat surat kabar melayu pada zaman kolonial. Dan, pada zaman kolonial, mungkin lebih banyak jumlahnya dari periode waktu lainnya, meski sekali lagi tak bisa dikatakan untuk mewakili surat-surat kabar secara kuantitas dan kualitas pada zamannya. 
 
Setiap bulan diharapkan tiap penulis menyelesaikan 18 surat kabar. Ya, hampir tiap hari pergi ke Perpustakaan Nasional RI. Tetapi, kebersamaan tim kali pertama yang nampak kompak. Selanjutnya, tim mulai berganti-ganti. Saya sendiri bulan kedua menyelesaikan 9 surat kabar. Bulan kedua, saya mulai tak bersemangat lagi mengerjakan proyek ini. Saya tak melihat alasan kuat dalam diri saya untuk menuliskan bagian surat kabar yang diberikan ke saya. Disamping, saya sedang mengerjakan edisi majalah Bataviase Nouvelles yang diproduksi oleh Indexpress.
 
Saya pun pelan-pelan dengan agak berat melepaskan surat-surat kabar yang menjadi tugas saya. Dan, memang pimpinan proyek meminta saya untuk tak menulis lagi, dan menyarankan untuk konsentrasi pada pekerjaan Bataviase Nouvelles. Saya pun melepaskan surat-surat kabar yang hendak saya tulis itu dengan tidak rela, karena bahan-bahan beberapa surat kabar sudah saya kumpulkan. Ya, akhirnya, seorang penulis baru menggantikannya, tanpa saya ketahui sebelumnya. Ya, okelah.
 
Saat sembilan surat kabar saya kerjakan, saya pernah melontarkan pertanyaan kenapa Tirtoadhisoerjo, pendiri Medan Prijaji menjadi pijakan dalam meletakkan sejarah pers Indonesia. Tahun terbitnya Medan Prijaji, 1907, dimunculkan dengan tegas sebagai titik berangkat untuk apa yang disebut pers kebangsaan. Yang jelas saat itu, tahun 1907 adalah periode yang bermasalah untuk mengatakan dimulainya pers kebangsaan. Bagi saya, ini artinya sejarah pers Indonesia dimulai sejak Medan Prijaji terbit.
 
Kemana surat kabar yang terbit tahun 1800-an, yang juga ditulis dan dimasukkan dalam 365 surat kabar itu? Ada surat-surat kabar yang terbit sebelum 1907, yang menulis dan menyoalkan kemerdekaan, menyuarakan kepentingan rakyat, kepentingan bersama, dan ide-ide kebangsaan. Dan, surat kabar macam itu tersebar di berbagai tempat di nusantara, dari Jawa, Sumatra, Celebes, Borneo.
 
Pada sebuah pertemuan di saat proyek ini tengah berjalan, saya mendapat jawaban dari pimpinan proyek buku ini, soal alasan dipilihnya tahun 1907 sebagai dimulainya pers kebangsaan. Saat itu ada tiga hal yang ia utarakan, yaitu Medan Prijaji adalah pers bumiputra, yang didirikan, didanai, dan dikelola oleh orang bumiputra. Lalu, Medan Prijaji, pers yang mampu menjalankan bisnisnya tanpa campur tangan orang Eropa, atau pihak asing. Ia mandiri. Kemudian, Tirto adalah jurnalis yang menggunakan surat kabarnya untuk mengavokasi persoalan-persoalan rakyat yang tertindas. Maka, Tirto pantas sebagai pelopor jurnalisme advokasi.   
 
Pendapat saya terhadap alasan tersebut saat itu adalah, pertama, ukuran pers bumiputra. Alasan ini telah mengabaikan pers melayu Tionghoa yang riel menumbuhkan gagasan-gagasan kebangsaan. Ada tokoh-tokoh pers Tionghoa yang sangat berpengaruh dalam masyarakat yang hidup di awal 1900, atau sebelum itu. Lalu, soal bisnis media, ini debatable. Bisnis media, adalah soal hidup dan mati, kadang pilihan itu, apakah ada pihak Eropa atau tidak di dalamnya, tetap saya pers melayu menunjukkan ide-ide atau pun haluan surat kabarnya, yang saat itu banyak dipengaruhi oleh pendirian politik pemimpin redaksi (hoofdredacteur). Artinya, meski ada saham orang Eropa, atau sebagian dana berasal dari pengusaha Eropa, tetap tumbuh pendirian politik redaksi yang menentang kolonialisme. Dan, dimunculkan Tirto sebagai pelopor atau perintis pers kebangsaan, ini berarti memunculkan pahlawan yang dalam perjalanan bangsa ini menyuburkan mitos-mitos baru untuk dipuja-puji. Bagi saya, ini sebuah kemunduran dalam historiografi pers Indonesia, karena menciptakan pemimpin tunggal dalam pers Indonesia.
 
Saya menolak dengan tegas Tirtoadhisoerjo dan Medan Prijaji sebagai periode penentu dimulainya pers kebangsaan Indonesia. Saya juga menentang Tirtoadhisoerjo dijadikan tonggak bagi pers kebangsaan Indonesia karena melupakan jejak-jejak sejarah pers (surat kabar) yang dibangun oleh tokoh-tokoh pers melayu sejak awal abad 19. Saya menolak adanya sebuah tonggak pers kebangsaan, yang kali ini Tirto adalah tonggak pers kebangsaan Indonesia. Dan saya keluar dan mundur dari tim penulis buku ini karena Pers Indonesia dipatok pada tahun 1907.
 
Pada 6 Desember 2007, pengunduran diri dan keluar dari tim penulis buku Seabad Pers Kebangsaan telah saya nyatakan dengan resmi dalam sebuah surat yang saya tujukan kepada Indexspress, Jakarta. Yang belakangan proyek ini dibawah bendera Ibuku, lembaga yang masih berada dalam satu keluarga. 
 
: Artikel ini bisa disimak pada www.duniabergerak.blogspot.com

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

25 December 2007

Lowongan magang di Indosat

Dibutuhkan 2 orang IT support untuk ditempatkan di Indosat Medan, Jl. Perintis Kemerdekaan No. 39

Minimal kemampuan bisa
- Installasi Operating System (Windows Xp),
- Aplikasi,
- Setting LAN dan
- Hardware PC Troubleshoot

Kontrak Magang untuk 1 Bulan, Full Times, Salary Harian

Bila Berminat hubungi saya langsung :
di Nomor 08153101844 atau 061-30088778


Thanks

Emil Hardi
Ilkom_usu'95

Jurnalis Harus Terus Dibekali


Senin, 24 Desember 2007
BANDAR LAMPUNG
Jurnalis Harus Terus Dibekali

BANDARLAMPUNG (Lampost): Pengetahuan dan semangat jurnalisme yang baik dan benar tidak hanya patut diberikan kepada para penggiat jurnalis muda. Para pendahulu yang telah lebih lama berkecimpung di dunia ini pun ternyata masih membutuhkannya.

Pengetahuan dan semangat itu seharusnya juga sudah merambah ke kalangan pelajar, tidak hanya diperuntukkan wartawan. Budaya tulis-menulis pun pada akhirnya akan melekat di kalangan mereka.

Hal ini menjadi benang merah dari beberapa pesan yang disampaikan para praktisi dan pemerhati pers Lampung saat memperingati perayaan hari jadi ketiga Bengkel Jurnalisme yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Kegiatan itu dilaksanakan Sabtu (22-12).

Kegiatan itu dihadiri akademisi Cahyono Eko Sugiarto dan Wahyu Sasongko, Pemimpin Redaksi Lampung Post Ade Alawi, dan beberapa jurnalis, di antaranya Budi Hutasuhut, Ibnu Khalid, Juwendra Asdiansyah, Budi Santoso, Firman Seponada, serta Gino Vanoli dari Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Lampung.

Perayaan tersebut juga turut melepas Ade Alawi yang pindah tugas dari Lampung Post ke Media Indonesia. Sebuah film dokumenter dipersembahkan berisi kesan dan pesan bagi Pemimpin Redaksi Lampung Post itu.

"Banyak hal yang perlu saya perbaiki ke depan, apalagi tugas saya tidak akan jauh berbeda dengan dunia yang selama ini saya jalani," ujar Ade menanggapi kesan dan pesan itu.

Cahyono Eko Sugiarto mengatakan Bengkel Jurnalisme seharusnya tidak hanya membengkeli para pemula, yang tua-tua juga harus dibengkeli. Hal ini disebabkan sebagian besar para jurnalis di Lampung masih termasuk kategori buruk, baik dari segi kemampuan maupun moral.

Dosen komunikasi Unila ini berharap pers yang sehat bisa berkembang dengan makin sadarnya para jurnalis untuk bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Selain itu, Bengkel Jurnalisme diharapkan terbuka bagi kalangan pelajar. "Para pelajar harus mengenal dunia pers sejak bangku sekolah agar mereka mengerti seperti apa semangat jurnalisme yang benar itu," ujar dosen hukum Unila Wahyu Sasongko.

Ia sangat mengapresiasi beberapa harian di Lampung yang memfasilitasi para pelajar dalam hal tulis-menulis. "Tulis-menulis itu sulit membudaya, makanya harus dikenalkan sejak dini," ujarnya.

Sejak awal berdiri, Bengkel Jurnalisme aktif mengadakan sekolah, diskusi, dan nonton film berkaitan dengan dunia jurnalis setiap dua pekan sekali. Tercatat ada beberapa penggiatnya yang sudah terjun ke dunia praktis.

Juwendra pun menyatakan salut atas keberadaan Bengkel Jurnalisme selama ini. "Mereka belum pernah sekalipun membuat proposal. Namun, dengan keterbatasan dana yang diusahakan lewat swadaya penggiatnya, mereka tetap bisa mengadakan kegiatan-kegiatan," ujar Ketua AJI Lampung ini.

Budi Santoso mengatakan tidak ada salahnya mendapatkan dana dengan membuat proposal. "Jangan tertutup dan takut terhadap funding (pihak pemberi dana, red) karena itu justru menjadi tantangan dan bagian dari sebuah kesuksesan," katanya.


24 December 2007

Orang-orang Aceh yang luar biasa

Di gelap malam ketika kembali menyusuri jalan darurat dari Calang
menuju Banda Aceh, dari balik jendela mobil saya seolah melihat
barisan kunang-kunang berkejar-kejaran. Itulah sorot lampu aneka
mobil milik LSM, lembaga pemerintah, dan sebagainya, yang melaju
dari dan ke Banda Aceh. Saya diam-diam menangis karena merasa tak
berarti dibanding orang-orang Aceh yang hebat itu menyusun hidup
baru setelah tsunami merenggut semuanya dari mereka.

Oleh Rusdi Mathari

MOBIL pick up dua gardan yang saya kendarai melonjak-lonjak menapaki
jalan darurat yang hanya berupa timbunan pasir dan kerikil. Berkali-
kali mobil itu harus dikendalikan dengan terampil untuk menghindari
kubangan lumpur, jembatan darurat, atau genangan air laut yang
menggerus daratan. Di kiri kanan jalan, beberapa dari genangan air
laut itu terlihat membentuk telaga seolah terjebak oleh daratan dan
tak bisa kembali ke samudera. Di kejauhan di atas bukit tampak satu
dua tenda putih bertuliskan U.N yang sudah kusam sebagian bahkan
terlihat sudah sobek.

Dari Banda Aceh, perjalanan saya awali pada sebuah pagi di bulan
Agustus tahun lalu. Tujuannya menyusuri garis pantai barat Aceh
sebuah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat tsunami
26 Desember 2004. Garis pantai itu menghubungkan dua kota besar
yaitu Banda Aceh dan Meulaboh. Di antara kedua kota ada Lamno dan
Calang dan beberapa kota kecamatan. Pagi-pagi sekali Sani, sopir
yang hendak mengantar saya sudah menunggu di depan penginapan.
Menurut dia semakin pagi berangkat akan semakin leluasa menyaksikan
sisa-sisa kehancuran pantai barat. "Kalau sudah agak malam tidak ada
penerangan," kata Sani.

Saya mengiyakan usul dia, dan kami berangkat dari Banda Aceh setelah
jarum kecil dari arloji saya menunjuk pada angka tujuh. Banda Aceh-
Meulaboh berjarak 250 kilometer. Dalam keadaan normal ketika jalan
antara dua kota itu belum hancur oleh terjangan ombak tsunami, jarak
itu bisa ditempuh dalam waktu empat jam dengan kendaraan umum. Namun
jalan darurat yang membuat mobil kami melonjak-lonjak, menyebabkan
rencana perjalanan itu tak tuntas. Saya tidak pernah sampai di
Meulaboh.

Jalan darurat itu menurut Sani, sebenarnya sudah lumayan bagus jika
dibandingkan dengan masa-masa awal pasca tsunami. Hingga masa
tanggap darurat, jalan itu tak bisa dilalui kendaraan apapun karena
beberapa ruas terputus total. Jembatan ambruk, sementara sebagian
dari badan jalan juga sudah tidak berbekas akibat digerus air laut.
Tentara dari Zeni Konstruksi 13 TNI-AD Srengseng Sawah, Jakarta dan
Zeni Marinir Cilandak, Jakarta kemudian membangun jalan darurat itu
dengan membuka hutan, membelah bukit tidak jauh dari jalan lama yang
sudah hancur. Beberapa jembatan darurat juga dibangun oleh para
tentara.

Namanya saja darurat tentu saja sifatnya hanya sementara. Setahun
setelah dibangun, sebagian dari jalan itu sudah hancur. Dan karena
jalan yang hancur itu pula, perjalanan saya hanya sampai di Calang,
itu pun sudah menjelang waktu ashar. Saya dan Ondy Syahputra yang
juga ikut dalam perjalanan itu, sebenarnya ingin meneruskan
perjalanan ke Meulaboh, tapi Sani mengingatkan, mobil yang kami
tumpangi, besok pagi sudah harus ada di Banda Aceh. Mobil itu memang
kendaraan pinjaman dari sebuah instansi.

Calang adalah kota yang paling hancur di Aceh bahkan jejak kota
lamanya, sudah tak tampak karena digantikan oleh ombak samudera.
Sekitar 80 persen penduduknya hilang atau tewas akibat tsunami.
Memasuki kota itu seperti disergap oleh suasana dunia yang berbeda,
selain kesenyapan.

Di tengah kesenyapan itulah, Dina Astina, seorang guru SMP di Calang
terus membangun harapan untuk dirinya dan orang-orang lain di sana.
Perempuan itu kini hanya tinggal bersama suaminya, Usman Ahmady,
Kepala Dinas Pemukimam dan Prasarana Wilayah Calang karena tiga
anak lekakinya yang hilang ditelan ombak tsunami. Hari ketika
tsunami menerjang Aceh, Dina dan Usman memang sedang tidak bersama
anak-anaknya karena sedang berada di Banda Aceh menghadiri
pernikahan seorang kerabat mereka.

Mereka berangkat dari Calang ke Banda Aceh selepas shubuh, sementara
anak-anaknya ditinggal di rumah bersama seorang pengasuh. Dina
sempat menciup kening dari ketiga anaknya, sebelum benar-benar
berangkat pada shubuh itu. "Rencana kami akan pulang-pergi dan
sehabis dhuhur sudah kembali ke Calang," kata Dina. Namun ciuman
Dina pagi itu adalah sentuhan terakhirnya kepada ketiga anaknya.

Jam tujuh pagi ketika dia dan suaminya mendengar ada gempa dan lalu
disusul air laut yang naik, dia mencoba menghubungi rumahnya di
Calang melalui telepon tapi tak jawaban. Hingga orang-orang di Banda
Aceh berlarian karena panik, Dina dan Usman tetap mencoba mengontak
Calang walau hasilnya sama: tak ada jawaban. Kepanikan pasangan itu
mencapai puncaknya, setelah terdengar kabar bahwa Calang tidak
berbekas lagi. Mereka sebenarnya berusaha menuju Calang menggunakan
kendaraan pribadi, namun jalan Banda Aceh ke Calang sudah terputus.
Dina dan Usman tertahan di Banda Aceh.

Mereka kembali menginjak tanah Calang, setelah dua hari tsunami
berlalu. Menggunakan kapal motor dari Banda Aceh, Dina dan Usman
mendarat di pantai Calang. Mula-mula dicarinya rumah mereka, tapi
tak ada lagi bahkan jika itu harus berupa bekas. Sepanjang mata
memandang, hanya genangan air laut yang terlihat.

Setiap orang di Calang yang mereka temui, lalu ditanya soal nasib
anak mereka. Ada yang mengatakan tidak tahu atau tidak melihat,
sebagian menjawab sempat melihat namun tak tahu nasib selanjutnya,
ada yang berujar ketiga anak lelaki mereka selamat dan sedang
mengungsi di bukit. Namun ketika tempat pengungsian di sekitar
Calang disisir oleh mereka, tak satupun yang menampung anak-anak
mereka. Dina dan Usman lantas kembali ke "pantai" tempat rumah
mereka semula berdiri.

Beberapa hari setelah itu kemudian dihabiskan Dina di tepi pantai.
Setiap sore dan pagi dia duduk di tepi pantai mencoba bertanya pada
air laut, di mana anak-anaknya. "Saya sempat kehilangan harapan,
sebelum menyadari semua itu suratan takdir," kata Dina menjelaskan
perjuangan melawan perasaannya.

Dina kini terlibat dalam sebuah penerbitan yang dibiayai UNDP
sembari tetap mengajar Bahasa Inggris di SMP Calang. Tulisan dia
kirim lewat internet untuk dicetak di Banda Aceh, edisi cetaknya
beredar di Calang.

Di pesisir barat Aceh dari Banda Aceh hingga Calang, saya menjumpai
banyak orang yang bernasib seperti Dina dan Usman dan juga bersikap
seperti mereka: menerima semua yang terjadi sebagai takdir. Di
Gampong Pande, Banda Aceh, saya bertemu dengan Ismail Sarong,
seniman peniup serunai Aceh. Dia kini tinggal bersama Rusdianto,
anak bungsunya. Keempat anaknya yang lain dan juga istrinya telah
ditelan ombak pada 26 Desember 2004. Ketika tsunami datang, salah
seorang anaknya bahkan mengandung tujuh bulan. "Semuanya habis,"
kata Ismail.

Ismail dan Dian bisa selamat, karena pada hari itu dia sedang pentas
di pusat kota Banda Aceh. Istri dan anak-anaknya yang lain dia
tinggalkan di rumah yang hanya berjarak puluhan meter dari bibir
pantai. Bapak dan anak itu sempat timbul tenggelam ditelan air bah
yang masuk ke pusat Banda Aceh. Serunainya ikut mengambang. "Saya
katakan kepada serunai, `Kamu kok mau ikut saya terus, bencana sudah
begitu berat'", kata Ismail.

Ketika mendapatkan kenyataan bahwa istri, anak-anak dan rumahnya
telah tiada, Ismail mengutuk lautan. Dia melemparkan apa saja ke
lautan sambil berteriak, "Kenapa bukan aku yang engkau telan. Ayo
datanglah kembali, telanlah aku." Namun kata Ismail, lama-lama dia
menyadari, dirinya begitu bodoh karena hanya sanggup mengutuk lautan
dan mengganggap seolah tidak ada lagi harapan. "Saya melihat Dian,
dan sadar hidup ini harus dilanjutkan," kata Ismail.

Ismail kini tetap meniup serunai dan Dian menjadi penabuh
gendangnya. Dia dan anaknya banyak diundang untuk pentas, termasuk
oleh Sardono W. Kusomo, seniman dan rektor IKJ, yang sejak awal
bencana memberi semangat dan bantuan kepada Ismail.

Saya juga menemui Husaini yang tinggal Lamteungoh, Aceh Besar.
Sarjana pertanian ini sempat putus asa, karena kehilangan semua
orang-orang yang dicintai dan mencintainya: ibu, tiga saudara laki-
laki, istri dan anaknya yang baru berusia dua tahun. Anak perempuan
itu lepas dari gendongan Husaini ketika ombak besar setinggi dua
pohon kelapa menghantamnya.

Ketika bunyi dentuman pertama terdengar dari rumahnya, yang hanya
berjarak 300 meteran dari pantai, Husaini berusaha membawa anggota
keluarganya lari menuju ke bukit. Namun jalan-jalan menuju ke bukit
sudah sesak dengan orang yang juga berlarian dan panik. Ketika
sampai di bawah pohon kelapa, Husaini melihat air sudah berada di
atas pohon kelapa. Ujung ombaknya seperti lidah raksasa namun belum
menyentuh tanah. Dia mendekap sang anak lebih erat, namun ombak
terlalu kuat menghempas. Anak itu lepas, bersama harapan Husaini.

Selama hampir tiga bulan sejak tsunami, dia tak mau melakukan
pekerjaan apapun termasuk membangun kembali rumahnya. Satu-satunya
foto kenangan yang tersisa adalah foto dia, istri dan anaknya yang
tersimpan di dompet. "Saya terus diburu perasaaan bersalah," kata
Husaini.

Keadaan berubah ketika Chris Valley dan Christoper Lee dari USAID
masuk ke Lamteungoh dan datang menemuinya. Husaini terpilih sebagai
salah satu peserta pelatihan wirakarya. Seminggu lamanya dia
berkumpul dengan orang-orang senasib, berdiskusi dengan orang asing,
dan mengorganisir masalah. Intinya mereka diingatkan untuk tak larut
dalam duka dan segera bangkit membangun rumah-rumah mereka.

Tiga hari setelah pelatihan, Husaini mengajak beberapa tukang untuk
mengumpulkan kayu bekas dan membangun dapur yang sudah tiga bulan
hanya dipikirkannya. Dananya berasal dari USAID. Sampai Juli 2005,
bukan hanya dapur yang selesai dibangun Husaini. Rumah dan sebuah
warung kecil yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari seperti minyak
tanah, gula, beras, sabun, dan rokok selesai dia dirikan. Di depan
warungnya tertulis "Operacy", nama pelatihan yang pernah diikutinya.
Dia juga mendapat bantuan komputer sebagai sarana untuk menulis
laporan kemajuan usaha dan kelompoknya. "Sekarang saya sudah
memikirkan calon pendamping hidup saya," kata Husaini.

Di Meuraxa, Banda Aceh, Firman menjumpai saya dengan senyum. Dia
baru kelas dua SMU dan sudah tidak memiliki siapapun: semua
saudaranya, dan kedua orang tuanya hilang ditelan air, di depan
matanya. Dia kini aktif berlatih musik bersama teman-temannya di
Meuraxa, tapi Firman tak tahu siapa yang akan membiayai hidupnya.
Tahun ini dia akan lulus dari SMU itu.

Meskipun pemandangan laut di sisi sebelah barat, sungguh mempesona
tapi saya tidak menikmati perjalanan hari itu, sebuah perjalanan di
Aceh yang saya rencanakan untuk sebuah penulisan buku. Di gelap
malam ketika kembali menyusuri jalan darurat dari Calang menuju
Banda Aceh, dari balik jendela mobil saya seolah melihat barisan
kunang-kunang berkejar-kejaran. Itulah sorot lampu aneka mobil milik
LSM, lembaga pemerintah, dan sebagainya, yang melaju dari dan ke
Banda Aceh. Saya diam-diam menangis karena merasa tak berarti
dibanding orang-orang Aceh yang hebat itu. Ketika pagi ini saya
menulis artikel ini, saya kembali menangis mengingat mereka.

*Artikel lain bisa dibaca di
http://www.rusdimathari.wordpress.com


[media-sumut] AFP: Pembangunan kembali Aceh berjalan lancar

Kantor berita Prancis AFP memberitakan, pembangunan kembali Aceh berjalan lancar,
kendati awalnya banyak hambatan. Ketua Badan Rehabilitasi dan
Rekonstruksi Aceh dan Nias Kuntoro Mangkusubroto mengenang ketika
pertama kali bencana terjadi. Saat itu kendati BRR didirikan dengan
dekrit presiden, namun pemerintah hanya memberikan bantuan sedikit
saja bagi BRR untuk melaksanakan tugasnya. Bahkan waktu itu BRR
terpaksa menerima bantuan Australia untuk membayar tiket pesawatnya.

Masalahnya bertambah parah ketika itu dengan adanya gerakan separatis
GAM dan korupsi. Namun saat ini Kuntoro boleh menarik nafas lega. BRR
yang dipimpinnya boleh bangga dengan pencapaian target pembangunan
rumah. Dari 120 ribu rumah baru yang ditargetkan sampai saat ini sudah
100 ribu yang selesai. Sisanya akan dirampungkan pada April 2008.

Proyek sukses lain adalah proyek pelatihan guru. Untuk menggantikan
sekitar 2500 guru yang tewas akibat tsunami, BRR melatih 20 ribu calon
tenaga guru. Sementara itu sudah setengah dari 2000 sekolah-sekolah
yang bakal dibangun telah selesai. Apa sebetulnya kunci keberhasilan
BRR di Aceh? Rahasianya adalah otoritas penuh untuk rekonstruksi. Hal
itu pulalah yang kadang menyakitkan bagi instansi pemerintahan lain.

Kantor berita AFP melanjutkan bahwa BRR satu-satunya organisasi yang
memiliki kekuatan seperti itu. "Kami harus menjelaskannya kepada
pemerintah, bahwa BRR berwenang penuh, jadi jangan coba-coba
menghalangi kami." Selain itu perdamaian antara GAM dan pemerintah
juga turut mensukseskan program BRR di Aceh tersebut.

Demikian kantor berita AFP dan sekian pula ulasan pers kali ini.

 
Radio Nederland Wereldomroep, Postbus 222, 1200 JG Hilversum
http://www.ranesi.nl/
http://www.radionetherlands.nl/

Keterangan lebih lanjut mengenai siaran radio kami dapat Anda
peroleh melalui
ranesi@rnw.nl

 
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

22 December 2007

[media-sumut] Earthquake rocks Aceh Indonesia

http://aceh-media.blogspot.com/

22.12.07

Earthquake rocks Aceh Indonesia

www.chinaview.cn
2007-12-22 21:03:57


JAKARTA, Dec. 22 (Xinhua) -- A moderate earthquake with magnitude of 5.8 on the Richter scale rattled Aceh province, in northern tip of Sumatra Island, Indonesia on Saturday evening, no immediate report of damages or casualty, meteorology agency said here.


The quake rattled at 19:26 Jakarta time (1206 GMT) with epicenter at 48 kilometers southeast Sinabang town of the province and at 10 kilometers under sea bed, an official of the agency Bayu Pranata told Xinhua.


The quake was felt in Meulaboh town and in Sibolga of nearby province of North Sumatra, he said.


Pranata also said that the quake was felt at Sinabang town, but still difficult to contact official there.

Editor: Bi Mingxin

http://news.xinhuanet.com/english/2007-12/22/content_7296026.htm

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Unjuk rasa di Labuhanbatu


http://hariansib.com/2007/12/19/ratusan-petani-labuhanbatu-unjuk-rasa-tuntut-pt-sipef-kembalikan-lahan-662-ha/

Labuhanbatu (SIB)

Ratusan Petani Labuhanbatu Unjuk Rasa Tuntut PT Sipef Kembalikan Lahan 662 Ha

Ratusan massa petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Tiga Maju
(KTTM) Kecamatan Pangkatan, Labuhanbatu, berunjukrasa ke DPRD
setempat, Senin (17/12), menuntut agar lahan seluas 662 hektar yang
kini dikuasai PT Sipef Pangkatan, dikembalikan kepada masyarakat
sebagai pemilik lahan. Termasuk di dalamnya, Dusun Tiga Maju Bulu
Sari, Desa Sido Rukun yang turut dikuasai perusahaan perkebunan kelapa
sawit itu.

Dalam aksi damai itu, massa yang diterima Komisi A, juga membawa alat
peraga yang menggambarkan ketertindasan masyarakat oleh PT Sipef. Alat
peraga itu berupa tabung berbentuk pabrik dengan pelataran rumah dinas
PT Sipef. Alat peraga itu dipikul warga dalam aksi itu, yang
menggambarkan beban berat yang diterima warga terhadap kehadiran
perusahaan itu.

Lebih lanjut, klik dan baca di
http://serikat-tani-nasional.blogspot.com/2007/12/sumatera-utara-ratusan-petani.html

Salam,
/donny pradana wr

-------
Komite Pimpinan Pusat - Serikat Tani Nasional
[Sementara] Jl. Pustaka Jaya II No. 3, Rawamangun
Jakarta Timur, Indonesia 13220.
Fax: +62-21-4757281
M-phone +62 856 8075066
Email :
serikat.tani.nasional@gmail.com
Blog : http://serikat-tani-nasional.blogspot.com
 
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Tanggapan atas Kajian UGM dalam Kasus Asian Agri Group

Tanggapan atas Kajian UGM
dalam Kasus Asian Agri Group

Oleh : Metta Dharmasaputra

Kajian Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UGM atas
pemberitaan Kasus Pajak Asian Agri oleh Majalah Tempo
dan Koran Tempo mengandung sejumlah catatan dan
kelemahan signifikan. Terlebih lagi, kajian itu
membuat sejumlah kesimpulan yang menyesatkan.

Karena itu, sebagai wartawan yang meliput dan menulis
artikel tentang kasus ini, atas nama pribadi saya
merasa perlu memberikan sejumlah tanggapan sbb:

I. PERSOALAN UTAMA

1.INDEPENDENSI
Kajian bertajuk Independent Study ini patut
dipertanyakan, karena merupakan pesanan dan dibiayai
sepenuhnya oleh Asian Agri Group.

2. KONFIRMASI DAN KLARIFIKASI
Pada bagian Metodologi dari Bab I kajian tersebut
(hal. 27) disebutkan bahwa data antara lain diperoleh
dari wawancara terhadap pengelola Koran Tempo atau
majalah Tempo. Sepengetahuan saya, Tim Peneliti belum
pernah meminta penjelasan resmi kepada pihak Tempo,
termasuk kepada saya selaku penulis artikel tersebut.

3. TIDAK KONTEKSTUAL
Kajian seperti diakui Tim Peneliti hanya didasarkan
pada teks, tanpa memperdulikan konteks (waktu dan
kejadian/fakta). Akibatnya terdapat sejumlah kesalahan
fatal atas hasil kajian tersebut.

Sejumlah kesalahan fatal itu, antara lain:

A. Akurasi berita.
Tim Peneliti menilai laporan Tempo tidak akurat. Salah
satu tolok ukurnya yaitu pemuatan nilai kerugian
negara yang berubah-ubah dari Rp 1,1 triliun menjadi
sekitar Rp 786 miliar.

Kesalahan penyimpulan ini terjadi karena kajian tidak
melihat konteks waktu kejadian. Indikasi kerugian Rp
1,1 triliun merupakan angka taksiran Vincentius pada
November 2006. Setelah itu muncul angka taksiran
Ditjen Pajak, yaitu Rp 786 miliar (Mei 2007), Rp 794
miliar (September 2007), dan Rp 1,3 triliun (Oktober
2007).

Perubahan angka terjadi karena hasil pemeriksaan tim
investigasi Ditjen Pajak atas 1.400 boks atau 9 truk
dokumen Asian Agri yang disita dari sebuah ruko di
Duta Merlin, Mei lalu, hingga kini belum rampung (baru
sekitar setengahnya).

B. Perbandingan Asian Agri-Lapindo.
Memperbandingkan liputan Tempo atas kasus Asian Agri
dan Lapindo dalam kurun Januari-Mei 2007 jelas
merupakan suatu kesalahan fatal. Bencana Lapindo sudah
terjadi sejak Mei 2006, sedangkan kasus Asian Agri
baru muncul Januari 2007.

Kajian ini tidak menganalisis sejumlah liputan khusus
Tempo atas kasus Lapindo pada 2006, termasuk cover
story pada 3 Desember 2006. Karena itu, kesimpulan tim
peneliti bahwa Tempo bersifat lebih moderat dalam
pemberitaan Lapindo ketimbang Asian Agri tidak punya
dasar yang jelas.

C.Tendensius
Tim peneliti menyimpulkan Tempo terlalu menekan dan
abrasive dalam pemberitaan kasus Asian Agri, padahal
kasus ini baru sebatas dugaan. Tim peneliti tampaknya
tidak memperhitungkan dua kali pernyataan pers tim
investigasi Ditjen Pajak (Mei dan September 2007) soal
indikasi manipulasi pajak Asian Agri, yang juga telah
menetapkan 8 tersangka.

II. ISI KAJIAN

1. Keberimbangan dan konfirmasi

Isi Kajian:
"Mempertimbangkan keluhan salah satu pihak yang
diteliti....masalah keberimbangan ini dapat
dikategorikan sebagai masalah serius dari sisi
ketaatan pada kode etik jurnalistik."

Tanggapan:
- Persoalannya, dalam wawancara, pihak Asian Agri
tidak pernah mau mengomentari data-data indikasi
manipulasi pajak dengan alasan data tersebut berasal
dari seorang maling (Vincent).

2. Kepentingan publik

"Perlu ditanyakan kepentingan publik apa yang bisa
diperoleh dari sejumlah labelling bersifat negatif"

- Kasus Asian Agri jelas memiliki dimensi kepentingan
publik dan negara yang besar. Menurut taksiran Ditjen
Pajak, kerugian negara sedikitnya Rp 1,3 triliun,
terbesar dalam sejarah Indonesia.

3. Konflik Vincent Vs RGM

"Tempo tidak menyadari bahwa aktivitas jurnalisme
investigatifnya berada pada konflik yang tengah
terjadi antara Asian Agri dan Vincentius....Apakah
Tempo justru melibatkan diri dalam konflik yang ada."

- Liputan investigasi yang saya lakukan terfokus pada
indikasi manipulasi pajak Asian Agri, yang berarti
konflik antara Asian Agri dengan Negara. Bukan pada
konflik antara Asian Agri dan Vincentius. Vincent
sebatas pemberi data dan informasi.

- Artikel sepenuhnya didasarkan pada data-data
berlapis (bukti pembukuan internal perusahaan, catatan
rekening bank, bukti transfer bank, dokumen transaksi,
dll) yang telah diverifikasi ke berbagai pihak.

- Validitas data bisa dipertanggungjawabkan, terbukti
paparan Tempo sama dengan temuan tim investigasi
Ditjen Pajak.

4. Personifikasi Sukanto Tanoto

"Tone pemberitaan tampak menekan dan menyerang Sukanto
Tanoto dalam kasus Asian Agri."

- Tampilnya sosok Sukanto didasarkan pada sejumlah
bukti dokumen yang mengindikasikan bahwa aliran uang
yang diduga hasil manipulasi pajak pada akhirnya
mengalir ke keluarga Sukanto lewat sejumlah perusahaan
di luar negeri.

- Tudingan Tim Peneliti bahwa ada agenda tertentu dari
Tempo terhadap Sukanto tidak berdasar. Banyak media
massa di Tanah Air pernah pula memberitakan sosok
Sukanto dalam berbagai persoalan, seperti Indorayon,
Unibank, Raja Garuda Mas, Riau Pulp and Paper, dll.
Karena itu, sesungguhnya penting bagi Tim Peneliti
untuk membandingkannya dengan peliputan oleh media
lain atau dalam kasus lain.

5. Perlakuan Asian Agri dan Lapindo

"Penggambaran Tempo tentang pihak yang bertanggung
jawab dalam menangani semburan lumpur Lapindo
sepenuhnya ada dalam wacana moderat. Berbeda sekali
dengan penggambaran Asian Agri dalam kasus penggelapan
pajak."

- Perlu dicatat, Tempo termasuk salah satu media
pertama yang mengungkap kaitan keluarga Bakrie dengan
Lapindo Brantas (Majalah Tempo, 2 Juli 2006).

- Tempo juga yang pertama mengungkap adanya surat dari
Medco Energi yang mengindikasikan adanya kelalaian
pemasangan selubung bor (casing) sebagai penyebab
bencana (Majalah Tempo, 2 Juli 2006)

- Beberapa kali kasus Lapindo dituliskan dalam cover
story majalah Tempo (3 Desember 2006) dan Koran Tempo
(23 November 2006), serta sejumlah liputan panjang.

6. Prasangka

"Analisis teks berita Tempo menunjukkan penggambaran
yang bernuansa prasangka baik terhadap sosok
Vincentius, sementara bernuansa prasangka buruk
terhadap Sukanto Tanoto."

- Dalam penulisan, saya tidak pernah menutup-nutupi
aksi pembobolan uang oleh Vincent. Hanya saja, isu
indikasi manipulasi pajak yang merugikan negara jauh
lebih penting ketimbang pembobolan uang perusahaan.

- Vincent pun selalu menyatakan akan
mempertanggungjawabkan aksi kejahatannya. Niatnya
mengungkap indikasi manipulasi pajak Asian Agri
didasari keinginannya untuk bisa diadili secara fair
dan mendapat jaminan keselamatan atas diri dan
keluarganya dari negara.

7. Agenda Tersembunyi Tempo

"Koran dan majalah Tempo cenderung terlihat begitu
memiliki agenda tersembunyi yang hanya bisa ditanyakan
dengan mengetuk pintu hati nurani para wartawan
Tempo."

"Kepercayaan penuh wartawan Tempo terhadap statement
pihak pemerintah (dalam kasus Lapindo) menunjukkan
bahwa kebebasan pers yang dulunya digunakan Tempo
untuk berhadapan dengan status quo perlahan mulai
bergeser pada kebebasan sebagai story teller kebijakan
pemerintah."

- Praduga tim UGM di ujung kesimpulannya ini merupakan
tudingan serius bagi Tempo. Karena itu, tim UGM harus
mengungkap jelas fakta-fakta yang mendasari tudingan
tersebut.

AKHIR KATA
UGM yang selama ini dikenal sebagai kampus "wong
cilik" hendaknya senantiasa setia membela dan
menyuarakan kepentingan publik, ketimbang
mengedepankan kepentingan sempit dari pihak-pihak
tertentu.

* * *

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Re: [media-sumut] Yang lagi HOT di kota Medan!!!

ah, yg bener bro ? hehehehe...

--- Ferry Budiman <b03d1m4n@yahoo.com> wrote:

> Telah Beredar!
>
> 9PM Magazine
> "The guide to 'around-around' Medan!"
> Vol I - No.01 - 8 Desember 2007
>
> Content:
> ISSUE
> Industri Kreatif di Kota Medan
>
> INSPIRATION
> Dimardi Abbas
> Hels
> Roemah Chocolate
> Herwin Kampusi
>
> LIVE REPORT
> Konser X MILD Seurieus
> Pameran Foto Medan x Nadem
>
> TALENT
> DJ Rico
>
> 9PM DATE
> Ajeng
>
> TASTE
> Vintage Wine
> Lontong Setan
>
> PLAYGROUND
> Warungkopi GPH
>
> ZOOM
> Hansen Teo
>
> PROPERTY
> Heman Dexter
>
> THE A TEAM
> Star Indonesia
>
> BRAND ON ME
> Betty Windasari
>
> REAL LIFE
> PUNK
>
> FASHION
> How Color Are You? by Hels
>
> TECHNO
> Layartancap.com
>
> ENGINE
> Micro Auto
>
> WEALTH
> Bersahabat dengan Kartu Kredit by BNI 46
>
> COMMUNITY
> Mio Atutomatic Club - Medan
>
> FREAK
> Dadong, Gila India
>
> dan masih banyak lagi rubrik menarik lainnya...
>
> 9PM Magazine, satu-satunya majalah lokal kota Medan,
>
> didistribusikan GRATIS!!! 10.000 eksemplar per
> duamingguan di pickup-point2 kota Medan.
>
> Jika berminat, silahkan tinggalkan jejak pesan di
> medan9pm@yahoo.com atau
> www.friendster.com/majalah9pm
>
> Untuk informasi berlangganan, iklan atau kerjasama
> silahkan hubungi 0813 7053 8855 (ferry).
>
> Support Your Local Media,
> 9PM Magazine - Medan Juga Bisa!
>
>
>
>
____________________________________________________________________________________
> Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
> http://www.yahoo.com/r/hs


salam,
andi lubis

www.andilubis.multiply.com

____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.

http://www.yahoo.com/r/hs


media sumut
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/media-sumut/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/media-sumut/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:media-sumut-digest@yahoogroups.com
mailto:media-sumut-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
media-sumut-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

[media-sumut] Calon Gubernur SUMUT dari PK Sejahtera

 
----- Original Message -----
Sent: Saturday, December 22, 2007 8:20 AM
Subject: [mediacare] Calon Gubernur SUMUT dari PK Sejahtera

22/12/2007 00:52 WIB

PKS Segera Umumkan Dua Nama Cagub Sumut

Khairul Ikhwan - detikcom

Medan - Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masih  menggodok lima nominator yang akan dicalonkan sebagai gubernur (cagub) Sumut. Kemungkinan pekan depan sudah bisa diumumkan dua nama yang akan  dijagokan dalam Pilkada Sumut 16 April 2008 mendatang.

Presiden PKS Tifatul Sembiring menyatakan, dari lima nama yang diajukan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Sumut, saat ini sebenarnya sudah  mengekerucut pada dua nama. Namun Tifatul belum bersedia menyebut kedua nama tersebut.

"Sudah agak mengkerucut ke dua nama. Tetapi belum bisa diumumkan ke publik saat ini. Mudah-mudahan pekan depan sudah bisa," kata Tifatul  Sembiring kepada wartawan di Medan, Jumat (21/12/2007).

Sebelumnya PKS Sumut mengajukan lima calon gubernur untuk digodok DPP PKS. Sumut Kelima nama tersebut adalah Ketua DPRD Sumut Abdul Wahab Dalimunthe, Deputi Menkopolkam Chairuman Harahap, Bupati Langkat Syamsul  Arifin, Bupati Labuhan Batu HT Milwan, dan anggota DPR Rambe Kamaruzzaman.

Sementara untuk kandidat calon wakil gubernur (cawagub), internal PKS  juga sudah menyiapkan lima nama yang unggul dari hasil Pemilihan Umum Internal beberapa waktu lalu. Kelima nama itu secara berurutan adalah, Ketua PKS Sumut Gatot Pujo Nugroho, Ketua Majelis

Pertimbangan Wilayah (MPW) PKS Sumut  Sigit Pramono Asri,  anggota MPW PKS Sumut Muhammad Nuh,  Ketua PKS Medan Surianda Lubis, dan  anggota MPW PKS Sumut Heriansyah.

"Kita memang menyiapkan nama, tapi bukan berarti kita akan memaksakan diri untuk memajukan kader internal sebagai Wagub Sumut. Semua tergantung kesepakatan di dalam koalisi partai Islam nanti. Bagi kita kepentingan umat yang lebih utama," urai Tifatul.

Tifatul menyatakan PKS masih berkomitmen kuat untuk terus mendorong terciptanya koalisi partai Islam dalam Pilkada Sumut yang sampai saat  ini masih terus dalam proses negoisasi. ( rul / ndr )

Source : http://www.detiknews.com/indexfr.php?url=http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/12/tgl/22/time/005203/idnews/869930/idkanal/10


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.6/1192 - Release Date: 21/12/2007 13:17
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Jamaah haji kleleran pegugas Depag tak bertanggungjawab

 
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, December 19, 2007 9:26 PM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Jamaah haji kleleran pegugas Depag tak bertanggungjawab


Subject: SOS : jamaah haji kleleran pegugas Depag tak bertanggungjawab

Salam
Berikut sms dari adik saya, M. Hamid Wijaya, jamaah haji Indonesia kloter asal Medan.
Sms pertama, 19 des, jam 08.23 waktu Saudi:

"Ass.dengan istigfar, karena kami sedang berhaji, kalo mas punya kenalan wartawan yang bertugas di Mekah, segera saja suruh meluncur ke maktab 2 mina jadid/musdalifah, karena kami semua protes dengan penginapan yang ukuran 3x4 m, untuk lebih dari 20 orang dengan fasilitias kamar mandi yang sangat minim. kami dijejal 450 orang dalam satu rauangan, sedangkan penjabnya (Daker depag) nggak bisa dihubungi,"

Kujawab : "Segera"

Sms kedua, 19 des jam 08.56:
"Tks. Bener ya mas nampaknya meteri agama harus sgr tahu untuk segera ada perbaikan, karna kondisi benar-benar sangat parah, sehingga sore ini harus ada penyelesaian!,"

Kujawab : "Tolong jelaskan kondisi jamaah lebih detil,"

Sms ketiga, 19 Des,jam 09.19:
"Kami dijejal seperti ikan asin, laki-laki, perempuan duduk maupun bergeletak, saling bersilangan diantara tumpukan tas, diselilingi irama batuk bersautan, kalau mo berjalan, melangkahi tubuh-tubuh letik, air untuk berbersih sangat terbatas. Ya Allah, rasanya kalau sampai besok kondisi masih seperti ini akan banyak yang bersakitan. sangat dzalim n tega sekali orang-orang yang menempatkan kami (para tamu allah) seperti ini,"

Kujawab : "Bertahanlah. Semoga kalian secara fisik dan mental tahan".

Buat kawan2 jurnalis: Silakan memuat sms adik saya itu. Jika perlu konfirmasi silakan hubungi dia, M. Hamid Wijaya (dan jamaah lain di maktabnya) di nomor hp: +96 6544200715.

Saya sudah kontak beberapa kawan via sms, dan baru sekarang bisa ke internet

Email ini boleh disebar ke milis lain.
Saya mohon doa kawan2 supaya adik saya dan istrinya, kakak ipar saya, adik sepupu saya (beserta jamaah lain, selamat dari Indonesia, yang pemerintahnya mengelola jamaah haji aja ga bisa, padahal mbayar haji mahal banget dibanding negara lain) selamat.

Terima kasih sebelumnya.
Faried Cahyono



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.6/1192 - Release Date: 21/12/2007 13:17
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Jamaah haji kleleran pegugas Depag tak bertanggungjawab

 
----- Original Message -----
Sent: Wednesday, December 19, 2007 9:26 PM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Jamaah haji kleleran pegugas Depag tak bertanggungjawab


Subject: SOS : jamaah haji kleleran pegugas Depag tak bertanggungjawab

Salam
Berikut sms dari adik saya, M. Hamid Wijaya, jamaah haji Indonesia kloter asal Medan.
Sms pertama, 19 des, jam 08.23 waktu Saudi:

"Ass.dengan istigfar, karena kami sedang berhaji, kalo mas punya kenalan wartawan yang bertugas di Mekah, segera saja suruh meluncur ke maktab 2 mina jadid/musdalifah, karena kami semua protes dengan penginapan yang ukuran 3x4 m, untuk lebih dari 20 orang dengan fasilitias kamar mandi yang sangat minim. kami dijejal 450 orang dalam satu rauangan, sedangkan penjabnya (Daker depag) nggak bisa dihubungi,"

Kujawab : "Segera"

Sms kedua, 19 des jam 08.56:
"Tks. Bener ya mas nampaknya meteri agama harus sgr tahu untuk segera ada perbaikan, karna kondisi benar-benar sangat parah, sehingga sore ini harus ada penyelesaian!,"

Kujawab : "Tolong jelaskan kondisi jamaah lebih detil,"

Sms ketiga, 19 Des,jam 09.19:
"Kami dijejal seperti ikan asin, laki-laki, perempuan duduk maupun bergeletak, saling bersilangan diantara tumpukan tas, diselilingi irama batuk bersautan, kalau mo berjalan, melangkahi tubuh-tubuh letik, air untuk berbersih sangat terbatas. Ya Allah, rasanya kalau sampai besok kondisi masih seperti ini akan banyak yang bersakitan. sangat dzalim n tega sekali orang-orang yang menempatkan kami (para tamu allah) seperti ini,"

Kujawab : "Bertahanlah. Semoga kalian secara fisik dan mental tahan".

Buat kawan2 jurnalis: Silakan memuat sms adik saya itu. Jika perlu konfirmasi silakan hubungi dia, M. Hamid Wijaya (dan jamaah lain di maktabnya) di nomor hp: +96 6544200715.

Saya sudah kontak beberapa kawan via sms, dan baru sekarang bisa ke internet

Email ini boleh disebar ke milis lain.
Saya mohon doa kawan2 supaya adik saya dan istrinya, kakak ipar saya, adik sepupu saya (beserta jamaah lain, selamat dari Indonesia, yang pemerintahnya mengelola jamaah haji aja ga bisa, padahal mbayar haji mahal banget dibanding negara lain) selamat.

Terima kasih sebelumnya.
Faried Cahyono



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.6/1192 - Release Date: 21/12/2007 13:17
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

21 December 2007

[media-sumut] Natalan Kampung Madras

 
----- Original Message -----
Sent: Saturday, December 22, 2007 12:45 PM
Subject: [Forum Pembaca KOMPAS] Natalan Kampung Madras

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/22/Natal/4093631.htm
==================

Goyang pinggul dan lirikan mata pada tarian India mewarnai perayaan
Natal warga India keturunan suku Tamil di Kota Medan, Sabtu (15/12)
malam. Mereka melestarikan tradisi Tamil.

Ratusan warga keturunan Tamil malam itu menghadiri perayaan Natal
bersama yang digelar Gereja Holy Trinity Anglikan di Gedung Suara
Nafiri, Medan. Selain warga Kristiani, perayaan juga dihadiri warga
India suku Tamil yang memeluk agama Hindu dan Buddha.

Kebanyakan hadirin mengenakan baju tradisional India, terutama para
ibu dan gadis-gadis. Rambut mereka dihiasi untaian bunga melati
berikut aksesoris yang dikenakan pada tubuh, kaki, tangan, kepala,
leher, telinga, hingga hidung.

Bahasa yang digunakan dalam acara merupakan campuran antara bahasa
Indonesia, Tamil, dan sesekali bahasa Inggris. Lagu Malam Kudus
dinyanyikan dalam bahasa Tamil menjadi Oopilah. Perayaan dipenuhi
pertunjukan kesenian tradisi India Tamil. Ditampilkan antara lain tari
Bharatha-naatiyem.

Pendeta Gereja Anglikan Holy Trinity Medan, Moses Alegesan,
mengatakan, memuji Tuhan bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah
satunya menggunakan tradisi kesenian yang dimiliki masyarakat
setempat. Penggunaan kebudayaan asli membuat kebudayaan masyarakat
tidak hilang.

"Kami justru ingin melestarikan tradisi setempat," kata Moses.

Di Medan, tradisi dan budaya Tamil sudah ada sejak berabad-abad
lampau. Moses menjelaskan, warga India memasuki Nusantara dalam empat
kali gelombang. Pertama pada masa kerajaan-kerajaan Hindu seperti
Sriwijaya dan Majapahit. Kedua sekitar abad ke-10 di pelabuhan Barus,
Sumatera, untuk berdagang rempah-rempah. Ketiga pada masa pembukaan
perkebunan di Sumatera Timur pada abad ke-17-18.

Pada gelombang ketiga, beberapa warga India Tamil yang berasal dari
Provinsi Tamilnadu, India Selatan, sudah memeluk Kristen. Itu
merupakan pengaruh kolonisasi Inggris di India. Sedangkan tahap
keempat adalah pada abad ke-19-20 saat terjadi hubungan dagang
India-Indonesia.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 70.000 warga keturunan Tamil India
yang bermukim di Medan. Sekitar satu persennya memeluk agama Kristen,
baik Kristen Anglikan maupun Katolik. Selebihnya adalah pemeluk Hindu
dan Buddha.

Buku Batak Toba: Kehidupan di Balik Tembok Bambu karya Bisuk Siahaan
menjelaskan, kebudayaan India sangat erat dengan kehidupan masyarakat
Sumatera, khususnya Batak. Pada abad ke-18 permukiman kuno warga Tamil
India ditemukan di Lobu Tua, Barus.

Saat ditemukan, permukiman penduduk Tamil sudah hidup lebih dari dua
abad. Dua prasasti berbahasa Tamil yang ditemukan di kawasan itu
menyatakan, pada tahun 1088 sebanyak 1.500 warga Tamil datang ke Barus
untuk berdagang kapur barus dan kemenyan.

Mereka telah lama menjadi bagian warga Medan, bangsa Indonesia. Mereka
banyak tinggal di perkampungan India di Jalan Zainul Arifin, Medan,
yang dikenal sebagai Kampung Madras. Kultur Tamil yang mereka pelihara
turut memperkaya tradisi Natal.

(AUFRIDA WISMI WARASTRI)


No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.6/1192 - Release Date: 21/12/2007 13:17
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Teater Koma: "Kenapa Leonardo?"


PRODUKSI YANG KE-112 TEATER KOMA

 
"KENAPA LEONARDO?"

Karya EVALD FLISAR

Alih Bahasa RANGGA RIANTIARNO

Sutradara N. RIANTIARNO


TEMPAT:
Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (GBB TIM)
Jl. Cikini Raya no. 73 Jakarta Pusat


TANGGAL:
11 – 25 JANUARI 2008, setiap pukul 19.30 WIB

(Setiap Senin Libur)

 
HTM :

Rp 100.000 (VIP)
Rp 75.000
Rp 50.000

Rp 30.000

 

Tersedia tiket VVIP

 

Informasi pemesanan tiket:

_   Jl. Cempaka Raya No. 15 Bintaro • Jakarta Selatan 12330
       Telp  021 735 0460  •  Telp/Fax 021 735 9540

_   Jl. Setiabudi Barat No. 4 Jakarta Selatan
       Telp 021 525 1066  •  Telp/Fax 522 4058 ; 529 63603

_   Tiket box Graha Bhakti Budaya – TIM (pembelian/pemesanan langsung di tempat)


_   email: teaterkomajakarta@yahoo.com, rnr@centrin.net.id

 

_   milis: teaterkomajakarta@yahoogroups.com

 

_   Pembayaran via transfer :
An. Ratna K. Riantiarno
BCA Cab. Bintaro Utama
No. Rek. 6030 142 070

(Batas pemesanan via email & milis, kami layani paling lambat tanggal 1 Januari 2008)


"..Leonardo Da Vinci kedua dicetak paksa,

impian menyakitkan berbuah kemustahilan .."

 

SINOPSIS

Kenapa Leonardo? Karya penulis Slovenia, EVALD FLISAR, yang disutradarai N. RIANTIARNO adalah  sebuah upaya menyajikan refleksi bagi diri kita. Betapa dekat jarak antara "kenyataan" dan "khayalan". Betapa dalam khayal kita mempengaruhi kehidupan sehari-hari.

 

Inilah pertarungan antara neurologi, psikiatri, psikologi, dan politik. Ketika hukum kausalitas tak lagi berlaku karena yang bersangkutan tidak bisa saling melihat, itulah kengerian bagi dunia.

 

Masyarakat masa kini dibentuk oleh tuntutan-tuntutan yang sukar dipenuhi, sehingga lahir masyarakat yang 'sakit'. KENAPA LEONARDO?, wadah kita mempertimbangkan; akankah terus jadi penonton, atau segera tersadar sejak dini. Korbankah kita atau malah kita sendiri penyebabnya?

 

 

Didukung oleh :

BUDI ROS, CORNELIA AGATHA, RATNA RIANTIARNO, SARI MADJID, DUDUNG HADI, OHAN ADIPUTRA,

DORIAS PRIBADI, EKO PARTITUR, TUTI HARTATI,JOKO YUWONO, HENGKY GUNAWAN, ADRI PRASETYO,

HERLINA SYARIFUDIN,YULIUS, RANGGA, YOGI, SENA SUKARYA, SUNTEA, INA KAKA, L.YOGA.

 

 

Skenografi  ONNY K.

Cahaya  ISKANDAR K. LOEDIN

Busana  SAMUEL WATTIMENA

Rias&rambut  SENA SUKARYA

Akustik  TOTOM KODRAT

Grafis  SAUT IRIANTO MANIK

Konsultan Gerak  LINDA KARIM

Manajer Panggung  TINTON PRIANGGORO

Pimpinan Produksi  RATNA RIANTIARNO

 
Pada momen yang penting dan bermakna ini, rasanya sungguh tak lengkap jika Anda tidak datang menyaksikan. Kami menunggu kehadiran anda.

 

 

Salam hangat,

KELUARGA BESAR TEATER KOMA

 


Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search. __._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Yang lagi HOT di kota Medan!

 
----- Original Message -----
Sent: Saturday, December 22, 2007 2:32 AM
Subject: [warga] Yang lagi HOT di kota Medan!

Telah Beredar!

9PM Magazine
"The guide to 'around-around' Medan!"
Vol I - No.01 - 8 Desember 2007

Content:
ISSUE
Industri Kreatif di Kota Medan

INSPIRATION
Dimardi Abbas
Hels
Roemah Chocolate
Herwin Kampusi

LIVE REPORT
Konser X MILD Seurieus
Pameran Foto Medan x Nadem

TALENT
DJ Rico

9PM DATE
Ajeng

TASTE
Vintage Wine
Lontong Setan

PLAYGROUND
Warungkopi GPH

ZOOM
Hansen Teo

PROPERTY
Heman Dexter

THE A TEAM
Star Indonesia

BRAND ON ME
Betty Windasari

REAL LIFE
PUNK

FASHION
How Color Are You? by Hels

TECHNO
Layartancap.com

ENGINE
Micro Auto

WEALTH
Bersahabat dengan Kartu Kredit by BNI 46

COMMUNITY
Mio Atutomatic Club - Medan

FREAK
Dadong, Gila India

dan masih banyak lagi rubrik menarik lainnya...

9PM Magazine, satu-satunya majalah lokal kota Medan,
didistribusikan GRATIS!!! 10.000 eksemplar per
duamingguan di pickup-point2 kota Medan.

Jika berminat, silahkan tinggalkan jejak pesan di
medan9pm@yahoo.com atau www.friendster.com/majalah9pm

Untuk informasi berlangganan, iklan atau kerjasama
silahkan hubungi 0813 7053 8855 (ferry).

Support Your Local Media,
9PM Magazine - Medan Juga Bisa!

__________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ



No virus found in this incoming message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.5/1191 - Release Date: 20/12/2007 14:14
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Yang lagi HOT di kota Medan!!!

Telah Beredar!

9PM Magazine
"The guide to 'around-around' Medan!"
Vol I - No.01 - 8 Desember 2007

Content:
ISSUE
Industri Kreatif di Kota Medan

INSPIRATION
Dimardi Abbas
Hels
Roemah Chocolate
Herwin Kampusi

LIVE REPORT
Konser X MILD Seurieus
Pameran Foto Medan x Nadem

TALENT
DJ Rico

9PM DATE
Ajeng

TASTE
Vintage Wine
Lontong Setan

PLAYGROUND
Warungkopi GPH

ZOOM
Hansen Teo

PROPERTY
Heman Dexter

THE A TEAM
Star Indonesia

BRAND ON ME
Betty Windasari

REAL LIFE
PUNK

FASHION
How Color Are You? by Hels

TECHNO
Layartancap.com

ENGINE
Micro Auto

WEALTH
Bersahabat dengan Kartu Kredit by BNI 46

COMMUNITY
Mio Atutomatic Club - Medan

FREAK
Dadong, Gila India

dan masih banyak lagi rubrik menarik lainnya...

9PM Magazine, satu-satunya majalah lokal kota Medan,
didistribusikan GRATIS!!! 10.000 eksemplar per
duamingguan di pickup-point2 kota Medan.

Jika berminat, silahkan tinggalkan jejak pesan di
medan9pm@yahoo.com atau www.friendster.com/majalah9pm

Untuk informasi berlangganan, iklan atau kerjasama
silahkan hubungi 0813 7053 8855 (ferry).

Support Your Local Media,
9PM Magazine - Medan Juga Bisa!


____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.

http://www.yahoo.com/r/hs

media sumut
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:

http://groups.yahoo.com/group/media-sumut/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:

http://groups.yahoo.com/group/media-sumut/join

(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:media-sumut-digest@yahoogroups.com
mailto:media-sumut-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
media-sumut-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:

http://docs.yahoo.com/info/terms/

17 December 2007

[media-sumut] "Ratu" opera Batak dari Tiga Dolok

Oleh Kenedi Nurhan
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/18/Sosok/4075370.htm
===================

Ngeri-ngeri sedap! Itulah ungkapan cerdas sarat makna dari Zulkaidah
br Harahap (60), mantan maskot opera Batak pimpinan Tilhang Gultom
pada 1960-an hingga awal 1970-an.

Konteks ucapan Zulkaidah br Harahap, yang amat populer dengan
panggilan boru Harahap itu, sebetulnya sederhana. Bahwa, menjadi
seniman tradisi seperti yang ia geluti selama ini ternyata penuh
dinamika. Suka dan duka kerap berjalan beriring. Jarak yang memisahkan
keduanya pun terkadang begitu tipis meski di lain waktu bisa begitu
jauh merentang; ibarat bumi dan langit.

Apalagi ketika nasib opera Batak yang ia geluti sejak tahun 1963 kini
sudah lebih dari dua dekade mati suri. Zulkaidah pun dipaksa menerima
kenyataan jauh lebih buruk. Bukan saja ia kehilangan panggung seni
yang menghidupinya, tetapi sekaligus kehilangan kesempatan memenuhi
wasiat (alm) Tilhang Gultom agar ia tetap bisa menghidupi seni tradisi
yang ikut membesarkannya tersebut.

Agar bisa bertahan hidup, Zulkaidah harus berjualan tuak dan kacang
goreng keliling. Ikut kapal penyeberangan Danau Toba dari Tuktuk ke
Tomok di Pulau Samosir sudah kerap ia jalani. Setiap ada keramaian di
desa-desa yang bisa ia capai, tentu akan didatanginya.

Namun, satu hal yang tak pernah ia lupakan, ke mana pun pergi aneka
jenis sulimâ€"seruling khas yang biasa ia gunakan untuk mendendangkan
lagu-lagu opera Batakâ€"selalu menyertainya, bahkan di kala tidurnya.

"Sambil jual tuak dan kacang goreng, ketika lagi tidak ada pembeli,
kutiuplah sulim dalam irama lagu ungut-ungut (lagu kesedihan). Pernah
sekali waktu, saat aku tiup sulim sambil duduk di pokok kayu tak jauh
dari pesta keramaian, eh, datang bapak-bapak. Katanya, ’Namboru, sedih
’kali, ya, suara sulim-nya.’ Lalu orang pun satu per satu datang.
Pokoknya ramai," ujar Zulkaidah.

Alhasil, tambahnya, tak ada lagi orang ke pesta itu. "Semua ngerubungi
aku. Pemilik pesta pun datang, bayarin tuak dan kacang goreng. Dia
borong semua, tapi dengan syarat aku dimintanya pergi. Kejadian
seperti itu sering terulang di banyak tempat," katanya.

Kini pun, meski tak lagi jualan keliling lantaran usianya kian senja,
ia masih berjualan tuak serta sedikit penganan di kedai kopinya di
tepi jalan raya Desa Tiga Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Di salah satu tiang penyanggah, tak jauh dari tempat penggorengan,
tersangkut kantong kain lusuh berisikan peralatan sulim, yang hingga
kini masih setia menemani Zulkaidah.

Ditemui pada suatu malam gerimis di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt)
di Pematang Siantar, beberapa waktu lalu, Zulkaidah begitu energik
ketika memainkan sulim dan hasapi (kecapi dua tali) secara bergantian.
Sesekali vokalnya yang bening muncul ke permukaan lewat nyanyian
onang-onang (tentang adat istiadat) dan ungut-ungut.

Pada masanya, berkat talenta bermain sulim dan vokalnya yang bening
itu, Zulkaidah tak ubahnya bagai "ratu" yang selalu ditunggu
kemunculannya di atas panggung opera Batak.

Sejak bergabung sebagai tukang masak dan penjaga anak-anak para pemain
opera Batak pada usia 13 tahun, Zulkaidah sudah merasakan pahit getir
hidup di tengah komunitas seni tradisi. Sampai kemudian "karier"-nya
meningkat menjadi pemain, pemusik, dan pelantun lagu-lagu opera Batak,
ia pun tampil bagai sri panggung yang diidolakan.

Apalagi sejak suara beningnya mulai di-"rekam" dengan tape recorder
saat ia diundang ke rumah orang-orang kaya, Zulkaidah mengaku serasa
bagai hidup di atas awan. Katanya, "Seperti melayang-layang. Ke
mana-mana dijemput naik sedan."

Bahkan, setelah bangkrut pun ia mengaku masih "melayang-layang" bila
ada wartawan datang, difoto-foto, dan masuk koran. Tak peduli para
tetangga kerap men-cemeeh-nya sebagai seniman penjual kacang goreng.

Lebih-lebih saat Rizaldi Siagian (etnomusikolog yang saat itu, 1989,
masih sebagai dosen di Universitas Sumatera Utara) datang ke gubuknya.
Rizaldi mengajak Zulkaidah pergi untuk ikut pentas di tempat yang
baginya bagai tak terjangkau: New York, Amerika Serikat.

"Ke Amerika! Ya, ke Amerika. Ini foto-fotonya dan ini fotokopi
koran-koran orang Amerika tentang kami. Lalu, ini piagam dari panitia
dan dari pemerintah," kata Zulkaidah begitu antusias. Juga ketika ia
bercerita tentang lawatan mereka ke Jepang.

Dua sisi mata uang

"Opung meninggal tahun 1973. Sebelum meninggal, ia minta agar aku
meneruskan kelangsungan grup opera Batak yang telah ia bangun dengan
susah payah. Kata dia, ’Boru Harahap, jangan kau sia-siakan usaha ini.
Kalau kau sia-siakan, awas kau!’ Begitu Opung bilang, seperti
mengancam," kata Zulkaidah mengenang awal dari peristiwa kebangkrutan
opera Batak yang ditinggalkan Tilhang Gultom, sang pendiri.

Tak ada catatan persis bagaimana kehadiran jenis opera yang lebih
mirip teater keliling ini di tanah Batak. Namun, yang pasti, nama
Tilhang Oberlin Gultom selalu dikaitkan sebagai pemicu "kelahiran"-nya
pada 1920-an ketika ia menggelar tontonan ini di pedalaman Tapanuli
Utara. Adapun istilah opera Batak itu sendiri dilekatkan Diego van
Biggelar, misionaris Belanda yang datang ke Pulau Samosir pada 1930-an.

Sepeninggal (alm) Tilhang Gultom, atas persetujuan keluarga Tilhang
Gultom, perempuan kelahiran Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli
Selatan, ini memutuskan melanjutkan usaha pertunjukan opera Batak
bernama Seni Ragam Indonesia alias Serindo tersebut.

Untuk menghidupi sekitar 70 anggota, ia jual sebagian besar harta yang
sempat dikumpulkannya selama menjadi maskot opera Batak semasa Tilhang
Gultom. Sawah, tanah, serta perhiasan emas yang melingkari leher,
lengan, dan pergelangan kakinya pun dilego.

Serindo kembali menggelar pertunjukan keliling dari desa ke desa. Akan
tetapi, ternyata "dunia luar" sudah berubah. Penontonnya sebagian
besar sudah pergi ke pertunjukan dangdut dan televisi, sementara pajak
tontonan dan "pajak" tak resmi dari oknum aparat membuat keuangan
Serindo kelimpungan.

Modal hidup terus terkuras, sampai akhirnya Zulkaidah menyerah. Tahun
1985 grup opera Batak Serindo ia kembalikan ke pemiliknya, keluarga
(alm) Tilham Gultom. Sekitar 45 anggota yang masih tersisa akhirnya ia
bubarkan.

Hidup dari seni tradisi dan menghidupi seni tradisi, bagi Zulkaidah,
ibarat dua sisi dari keping mata uang. Sejak bergabung sebagai tukang
masak sampai pada satu masa menjadi tauke grup tersebut, opera Batak
bagai sudah mengalir dalam darahnya.

"Jadi seniman tradisional seperti kami ini, ya, ngeri-ngeri sedaplah.
Bagaimana tak sedap, waktu di Jepang dan Amerika, semua orang hormat.
Tidur di hotel mewah, makan tak kurang. Awak merasa kayak presiden
saja, padahal cuma penjual kacang goreng," ujarnya.

"Tapi begitu pulang ke rumah, habis dari hotel mewah tidur di tikar.
Air kadang tak ada, makan sehari-hari pun terancam. Belum lagi awak
di-cemeh orang kampung. Ha-ha-ha.... Kadang-kadang awak berpikir,
macam mana pula ini. Tapi sudahlah, darah kita kan sudah di
kesenian...." (ken)

Biodata

Nama: Zulkaidah boru Harahap

Tempat Lahir: Desa Bunga Bondar, Sipirok, Tapanuli Selatan, tahun 1947

Pendidikan: Tidak tamat SD

Suami: Pontas Gultom alias Zulkarnaen

Anak:

- Nurjunita

- Nurjuniati

- Bandit

- Halijah

- Metro

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___