25 December 2007

Jurnalis Harus Terus Dibekali


Senin, 24 Desember 2007
BANDAR LAMPUNG
Jurnalis Harus Terus Dibekali

BANDARLAMPUNG (Lampost): Pengetahuan dan semangat jurnalisme yang baik dan benar tidak hanya patut diberikan kepada para penggiat jurnalis muda. Para pendahulu yang telah lebih lama berkecimpung di dunia ini pun ternyata masih membutuhkannya.

Pengetahuan dan semangat itu seharusnya juga sudah merambah ke kalangan pelajar, tidak hanya diperuntukkan wartawan. Budaya tulis-menulis pun pada akhirnya akan melekat di kalangan mereka.

Hal ini menjadi benang merah dari beberapa pesan yang disampaikan para praktisi dan pemerhati pers Lampung saat memperingati perayaan hari jadi ketiga Bengkel Jurnalisme yang jatuh pada tanggal 25 Desember. Kegiatan itu dilaksanakan Sabtu (22-12).

Kegiatan itu dihadiri akademisi Cahyono Eko Sugiarto dan Wahyu Sasongko, Pemimpin Redaksi Lampung Post Ade Alawi, dan beberapa jurnalis, di antaranya Budi Hutasuhut, Ibnu Khalid, Juwendra Asdiansyah, Budi Santoso, Firman Seponada, serta Gino Vanoli dari Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Lampung.

Perayaan tersebut juga turut melepas Ade Alawi yang pindah tugas dari Lampung Post ke Media Indonesia. Sebuah film dokumenter dipersembahkan berisi kesan dan pesan bagi Pemimpin Redaksi Lampung Post itu.

"Banyak hal yang perlu saya perbaiki ke depan, apalagi tugas saya tidak akan jauh berbeda dengan dunia yang selama ini saya jalani," ujar Ade menanggapi kesan dan pesan itu.

Cahyono Eko Sugiarto mengatakan Bengkel Jurnalisme seharusnya tidak hanya membengkeli para pemula, yang tua-tua juga harus dibengkeli. Hal ini disebabkan sebagian besar para jurnalis di Lampung masih termasuk kategori buruk, baik dari segi kemampuan maupun moral.

Dosen komunikasi Unila ini berharap pers yang sehat bisa berkembang dengan makin sadarnya para jurnalis untuk bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya.

Selain itu, Bengkel Jurnalisme diharapkan terbuka bagi kalangan pelajar. "Para pelajar harus mengenal dunia pers sejak bangku sekolah agar mereka mengerti seperti apa semangat jurnalisme yang benar itu," ujar dosen hukum Unila Wahyu Sasongko.

Ia sangat mengapresiasi beberapa harian di Lampung yang memfasilitasi para pelajar dalam hal tulis-menulis. "Tulis-menulis itu sulit membudaya, makanya harus dikenalkan sejak dini," ujarnya.

Sejak awal berdiri, Bengkel Jurnalisme aktif mengadakan sekolah, diskusi, dan nonton film berkaitan dengan dunia jurnalis setiap dua pekan sekali. Tercatat ada beberapa penggiatnya yang sudah terjun ke dunia praktis.

Juwendra pun menyatakan salut atas keberadaan Bengkel Jurnalisme selama ini. "Mereka belum pernah sekalipun membuat proposal. Namun, dengan keterbatasan dana yang diusahakan lewat swadaya penggiatnya, mereka tetap bisa mengadakan kegiatan-kegiatan," ujar Ketua AJI Lampung ini.

Budi Santoso mengatakan tidak ada salahnya mendapatkan dana dengan membuat proposal. "Jangan tertutup dan takut terhadap funding (pihak pemberi dana, red) karena itu justru menjadi tantangan dan bagian dari sebuah kesuksesan," katanya.


No comments: