24 December 2007

Orang-orang Aceh yang luar biasa

Di gelap malam ketika kembali menyusuri jalan darurat dari Calang
menuju Banda Aceh, dari balik jendela mobil saya seolah melihat
barisan kunang-kunang berkejar-kejaran. Itulah sorot lampu aneka
mobil milik LSM, lembaga pemerintah, dan sebagainya, yang melaju
dari dan ke Banda Aceh. Saya diam-diam menangis karena merasa tak
berarti dibanding orang-orang Aceh yang hebat itu menyusun hidup
baru setelah tsunami merenggut semuanya dari mereka.

Oleh Rusdi Mathari

MOBIL pick up dua gardan yang saya kendarai melonjak-lonjak menapaki
jalan darurat yang hanya berupa timbunan pasir dan kerikil. Berkali-
kali mobil itu harus dikendalikan dengan terampil untuk menghindari
kubangan lumpur, jembatan darurat, atau genangan air laut yang
menggerus daratan. Di kiri kanan jalan, beberapa dari genangan air
laut itu terlihat membentuk telaga seolah terjebak oleh daratan dan
tak bisa kembali ke samudera. Di kejauhan di atas bukit tampak satu
dua tenda putih bertuliskan U.N yang sudah kusam sebagian bahkan
terlihat sudah sobek.

Dari Banda Aceh, perjalanan saya awali pada sebuah pagi di bulan
Agustus tahun lalu. Tujuannya menyusuri garis pantai barat Aceh
sebuah wilayah yang mengalami kerusakan paling parah akibat tsunami
26 Desember 2004. Garis pantai itu menghubungkan dua kota besar
yaitu Banda Aceh dan Meulaboh. Di antara kedua kota ada Lamno dan
Calang dan beberapa kota kecamatan. Pagi-pagi sekali Sani, sopir
yang hendak mengantar saya sudah menunggu di depan penginapan.
Menurut dia semakin pagi berangkat akan semakin leluasa menyaksikan
sisa-sisa kehancuran pantai barat. "Kalau sudah agak malam tidak ada
penerangan," kata Sani.

Saya mengiyakan usul dia, dan kami berangkat dari Banda Aceh setelah
jarum kecil dari arloji saya menunjuk pada angka tujuh. Banda Aceh-
Meulaboh berjarak 250 kilometer. Dalam keadaan normal ketika jalan
antara dua kota itu belum hancur oleh terjangan ombak tsunami, jarak
itu bisa ditempuh dalam waktu empat jam dengan kendaraan umum. Namun
jalan darurat yang membuat mobil kami melonjak-lonjak, menyebabkan
rencana perjalanan itu tak tuntas. Saya tidak pernah sampai di
Meulaboh.

Jalan darurat itu menurut Sani, sebenarnya sudah lumayan bagus jika
dibandingkan dengan masa-masa awal pasca tsunami. Hingga masa
tanggap darurat, jalan itu tak bisa dilalui kendaraan apapun karena
beberapa ruas terputus total. Jembatan ambruk, sementara sebagian
dari badan jalan juga sudah tidak berbekas akibat digerus air laut.
Tentara dari Zeni Konstruksi 13 TNI-AD Srengseng Sawah, Jakarta dan
Zeni Marinir Cilandak, Jakarta kemudian membangun jalan darurat itu
dengan membuka hutan, membelah bukit tidak jauh dari jalan lama yang
sudah hancur. Beberapa jembatan darurat juga dibangun oleh para
tentara.

Namanya saja darurat tentu saja sifatnya hanya sementara. Setahun
setelah dibangun, sebagian dari jalan itu sudah hancur. Dan karena
jalan yang hancur itu pula, perjalanan saya hanya sampai di Calang,
itu pun sudah menjelang waktu ashar. Saya dan Ondy Syahputra yang
juga ikut dalam perjalanan itu, sebenarnya ingin meneruskan
perjalanan ke Meulaboh, tapi Sani mengingatkan, mobil yang kami
tumpangi, besok pagi sudah harus ada di Banda Aceh. Mobil itu memang
kendaraan pinjaman dari sebuah instansi.

Calang adalah kota yang paling hancur di Aceh bahkan jejak kota
lamanya, sudah tak tampak karena digantikan oleh ombak samudera.
Sekitar 80 persen penduduknya hilang atau tewas akibat tsunami.
Memasuki kota itu seperti disergap oleh suasana dunia yang berbeda,
selain kesenyapan.

Di tengah kesenyapan itulah, Dina Astina, seorang guru SMP di Calang
terus membangun harapan untuk dirinya dan orang-orang lain di sana.
Perempuan itu kini hanya tinggal bersama suaminya, Usman Ahmady,
Kepala Dinas Pemukimam dan Prasarana Wilayah Calang karena tiga
anak lekakinya yang hilang ditelan ombak tsunami. Hari ketika
tsunami menerjang Aceh, Dina dan Usman memang sedang tidak bersama
anak-anaknya karena sedang berada di Banda Aceh menghadiri
pernikahan seorang kerabat mereka.

Mereka berangkat dari Calang ke Banda Aceh selepas shubuh, sementara
anak-anaknya ditinggal di rumah bersama seorang pengasuh. Dina
sempat menciup kening dari ketiga anaknya, sebelum benar-benar
berangkat pada shubuh itu. "Rencana kami akan pulang-pergi dan
sehabis dhuhur sudah kembali ke Calang," kata Dina. Namun ciuman
Dina pagi itu adalah sentuhan terakhirnya kepada ketiga anaknya.

Jam tujuh pagi ketika dia dan suaminya mendengar ada gempa dan lalu
disusul air laut yang naik, dia mencoba menghubungi rumahnya di
Calang melalui telepon tapi tak jawaban. Hingga orang-orang di Banda
Aceh berlarian karena panik, Dina dan Usman tetap mencoba mengontak
Calang walau hasilnya sama: tak ada jawaban. Kepanikan pasangan itu
mencapai puncaknya, setelah terdengar kabar bahwa Calang tidak
berbekas lagi. Mereka sebenarnya berusaha menuju Calang menggunakan
kendaraan pribadi, namun jalan Banda Aceh ke Calang sudah terputus.
Dina dan Usman tertahan di Banda Aceh.

Mereka kembali menginjak tanah Calang, setelah dua hari tsunami
berlalu. Menggunakan kapal motor dari Banda Aceh, Dina dan Usman
mendarat di pantai Calang. Mula-mula dicarinya rumah mereka, tapi
tak ada lagi bahkan jika itu harus berupa bekas. Sepanjang mata
memandang, hanya genangan air laut yang terlihat.

Setiap orang di Calang yang mereka temui, lalu ditanya soal nasib
anak mereka. Ada yang mengatakan tidak tahu atau tidak melihat,
sebagian menjawab sempat melihat namun tak tahu nasib selanjutnya,
ada yang berujar ketiga anak lelaki mereka selamat dan sedang
mengungsi di bukit. Namun ketika tempat pengungsian di sekitar
Calang disisir oleh mereka, tak satupun yang menampung anak-anak
mereka. Dina dan Usman lantas kembali ke "pantai" tempat rumah
mereka semula berdiri.

Beberapa hari setelah itu kemudian dihabiskan Dina di tepi pantai.
Setiap sore dan pagi dia duduk di tepi pantai mencoba bertanya pada
air laut, di mana anak-anaknya. "Saya sempat kehilangan harapan,
sebelum menyadari semua itu suratan takdir," kata Dina menjelaskan
perjuangan melawan perasaannya.

Dina kini terlibat dalam sebuah penerbitan yang dibiayai UNDP
sembari tetap mengajar Bahasa Inggris di SMP Calang. Tulisan dia
kirim lewat internet untuk dicetak di Banda Aceh, edisi cetaknya
beredar di Calang.

Di pesisir barat Aceh dari Banda Aceh hingga Calang, saya menjumpai
banyak orang yang bernasib seperti Dina dan Usman dan juga bersikap
seperti mereka: menerima semua yang terjadi sebagai takdir. Di
Gampong Pande, Banda Aceh, saya bertemu dengan Ismail Sarong,
seniman peniup serunai Aceh. Dia kini tinggal bersama Rusdianto,
anak bungsunya. Keempat anaknya yang lain dan juga istrinya telah
ditelan ombak pada 26 Desember 2004. Ketika tsunami datang, salah
seorang anaknya bahkan mengandung tujuh bulan. "Semuanya habis,"
kata Ismail.

Ismail dan Dian bisa selamat, karena pada hari itu dia sedang pentas
di pusat kota Banda Aceh. Istri dan anak-anaknya yang lain dia
tinggalkan di rumah yang hanya berjarak puluhan meter dari bibir
pantai. Bapak dan anak itu sempat timbul tenggelam ditelan air bah
yang masuk ke pusat Banda Aceh. Serunainya ikut mengambang. "Saya
katakan kepada serunai, `Kamu kok mau ikut saya terus, bencana sudah
begitu berat'", kata Ismail.

Ketika mendapatkan kenyataan bahwa istri, anak-anak dan rumahnya
telah tiada, Ismail mengutuk lautan. Dia melemparkan apa saja ke
lautan sambil berteriak, "Kenapa bukan aku yang engkau telan. Ayo
datanglah kembali, telanlah aku." Namun kata Ismail, lama-lama dia
menyadari, dirinya begitu bodoh karena hanya sanggup mengutuk lautan
dan mengganggap seolah tidak ada lagi harapan. "Saya melihat Dian,
dan sadar hidup ini harus dilanjutkan," kata Ismail.

Ismail kini tetap meniup serunai dan Dian menjadi penabuh
gendangnya. Dia dan anaknya banyak diundang untuk pentas, termasuk
oleh Sardono W. Kusomo, seniman dan rektor IKJ, yang sejak awal
bencana memberi semangat dan bantuan kepada Ismail.

Saya juga menemui Husaini yang tinggal Lamteungoh, Aceh Besar.
Sarjana pertanian ini sempat putus asa, karena kehilangan semua
orang-orang yang dicintai dan mencintainya: ibu, tiga saudara laki-
laki, istri dan anaknya yang baru berusia dua tahun. Anak perempuan
itu lepas dari gendongan Husaini ketika ombak besar setinggi dua
pohon kelapa menghantamnya.

Ketika bunyi dentuman pertama terdengar dari rumahnya, yang hanya
berjarak 300 meteran dari pantai, Husaini berusaha membawa anggota
keluarganya lari menuju ke bukit. Namun jalan-jalan menuju ke bukit
sudah sesak dengan orang yang juga berlarian dan panik. Ketika
sampai di bawah pohon kelapa, Husaini melihat air sudah berada di
atas pohon kelapa. Ujung ombaknya seperti lidah raksasa namun belum
menyentuh tanah. Dia mendekap sang anak lebih erat, namun ombak
terlalu kuat menghempas. Anak itu lepas, bersama harapan Husaini.

Selama hampir tiga bulan sejak tsunami, dia tak mau melakukan
pekerjaan apapun termasuk membangun kembali rumahnya. Satu-satunya
foto kenangan yang tersisa adalah foto dia, istri dan anaknya yang
tersimpan di dompet. "Saya terus diburu perasaaan bersalah," kata
Husaini.

Keadaan berubah ketika Chris Valley dan Christoper Lee dari USAID
masuk ke Lamteungoh dan datang menemuinya. Husaini terpilih sebagai
salah satu peserta pelatihan wirakarya. Seminggu lamanya dia
berkumpul dengan orang-orang senasib, berdiskusi dengan orang asing,
dan mengorganisir masalah. Intinya mereka diingatkan untuk tak larut
dalam duka dan segera bangkit membangun rumah-rumah mereka.

Tiga hari setelah pelatihan, Husaini mengajak beberapa tukang untuk
mengumpulkan kayu bekas dan membangun dapur yang sudah tiga bulan
hanya dipikirkannya. Dananya berasal dari USAID. Sampai Juli 2005,
bukan hanya dapur yang selesai dibangun Husaini. Rumah dan sebuah
warung kecil yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari seperti minyak
tanah, gula, beras, sabun, dan rokok selesai dia dirikan. Di depan
warungnya tertulis "Operacy", nama pelatihan yang pernah diikutinya.
Dia juga mendapat bantuan komputer sebagai sarana untuk menulis
laporan kemajuan usaha dan kelompoknya. "Sekarang saya sudah
memikirkan calon pendamping hidup saya," kata Husaini.

Di Meuraxa, Banda Aceh, Firman menjumpai saya dengan senyum. Dia
baru kelas dua SMU dan sudah tidak memiliki siapapun: semua
saudaranya, dan kedua orang tuanya hilang ditelan air, di depan
matanya. Dia kini aktif berlatih musik bersama teman-temannya di
Meuraxa, tapi Firman tak tahu siapa yang akan membiayai hidupnya.
Tahun ini dia akan lulus dari SMU itu.

Meskipun pemandangan laut di sisi sebelah barat, sungguh mempesona
tapi saya tidak menikmati perjalanan hari itu, sebuah perjalanan di
Aceh yang saya rencanakan untuk sebuah penulisan buku. Di gelap
malam ketika kembali menyusuri jalan darurat dari Calang menuju
Banda Aceh, dari balik jendela mobil saya seolah melihat barisan
kunang-kunang berkejar-kejaran. Itulah sorot lampu aneka mobil milik
LSM, lembaga pemerintah, dan sebagainya, yang melaju dari dan ke
Banda Aceh. Saya diam-diam menangis karena merasa tak berarti
dibanding orang-orang Aceh yang hebat itu. Ketika pagi ini saya
menulis artikel ini, saya kembali menangis mengingat mereka.

*Artikel lain bisa dibaca di
http://www.rusdimathari.wordpress.com


No comments: