16 December 2007

[media-sumut] Sri Sultan HB X terima ulos

Manfaatkan Kemajemukan untuk Kemajuan Bangsa

http://www.kompas.com/kompas-cetak/0712/17/daerah/4087315.htm

Yogyakarta, Kompas - Gubernur DI Yogyakarta yang juga Raja Keraton
Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X bersama Permaisuri GKR Hemas,
Sabtu (15/12) malam, menerima ulos dari warga Batak yang tinggal di
Yogyakarta. Sultan dinilai sebagai sosok yang mengayomi warga Batak di
DIY.

Ulos merupakan wujud penghargaan tertinggi dalam budaya Batak.
Penyematan ulosâ€"yang berupa kain tenun khas Batakâ€" itu dilakukan
Parsadaan Bona Pasogit (Parbopas), wadah bagi orang Batak di Daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY), dalam Aksi Budaya Batak bertema "Semalam di
Bona Pasogit" di Jogja Expo Center Yogyakarta.

Ketua panitia yang juga Kepala Bidang Seni dan Budaya Parbopas, Edi
Sidabutar, menyatakan, selama kepemimpinannya, baik sebagai Gubernur
maupun sebagai Raja DIY, Sultan HB X telah memberi perhatian besar dan
mengayomi warga Batak di DIY. "Sultan menjunjung kemajemukan, tidak
membeda-bedakan suku atau agama," katanya.

Mosaik indah

Dalam orasi budayanya, Sultan mengatakan, penghargaan yang diterimanya
bersama istri adalah juga penghargaan bagi masyarakat Yogyakarta.
"Masyarakat Yogyakarta memiliki kontribusi terbesar dalam menjaga dan
memelihara suasana kekeluargaan dan kerukunan antarsuku, agama,
kelompok, dan strata sosial," katanya.

Sultan menambahkan, keanekaragaman etnik dan budaya di Indonesia
seperti mosaik yang indah. "Pluralisme harus dijadikan perekat
ketahanan bangsa dalam menghadapi globalisasi," ujar Sultan.

Ia menekankan, ketika aneka perbedaan, seperti suku, bahasa, dan
agama, dirayakan bersama sebagai sesuatu yang baik bagi kehidupan, hal
itu akan menjadi sumber kehidupan. Sebaliknya, jika permusuhan yang
dikembangkan, hasilnya adalah kematian dan peperangan.

Kemajemukan yang dimanfaatkan secara positif, menurut Sultan, antara
lain telah membuat negara besar, seperti Amerika Serikat dan Eropa,
maju. "Di Nusantara, hal itu (kemajemukan) bisa dilihat dari karya
monumental Candi Prambananâ€"yang merupakan simbol toleransi agama Hindu
dan Buddha," ujarnya.

Indonesia baru

Belajar dari sejarah masa silam dan tantangan masa kini, kata Sultan
mengingatkan, seluruh masyarakat harus siap mewujudkan bangunan
Indonesia baru dengan lebih mengukuhkan identitas bangsa guna
memperkuat solidaritas di antara seluruh warga bangsa. Melupakan
nilai-nilai etnik dan masyarakat adat dalam kehidupan berbangsa
berarti hanya akan menciptakan Indonesia tanpa jiwa dan identitas.

"Dalam fungsi pemberi identitas, unsur-unsur budaya etnik yang
memiliki ciri khas Indonesia dapat menjadi pembentuk budaya Indonesia
baru," kata Sultan mengingatkan.(RWN)

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: