26 December 2007

[media-sumut] Surat kabar Medan Prijaji

Mengapa saya mundur dari tim penulis?
Catatan proyek buku Seabad Pers Kebangsaan
 
Oleh Basilius Triharyanto
 
 
Sekitar bulan Juli 2006, saya mendapat tawaran untuk ikut bergabung dalam tim penulis sebuah proyek buku untuk memperingati Tirtoadhisoerjo, yang pernah menerbitkan surat kabar bernama Medan Prijaji. Surat kabar itu terlahir tahun 1907, sehingga 2007 menjadi hitungan genap 100 tahun lalu ia terbit dengan Tirtoadhisoerjo yang waktu itu menjadi aktor penting dalam surat kabar tersebut.
 
Kali pertama, proyek buku ini saya pahami sebagai perayaan 100 tahun surat kabar Medan Priyayi. Ini momen yang sering dimanfaatkan oleh orang untuk memperingati kelahiran dan merayakan tahun-tahun yang dianggap penting. Untuk merayakan tahun tersebut, lembaga yang bernama Indexpress membuat sebuah buku yang berisi mengenai kisah sejarah singkat surat-surat kabar yang pernah hidup di Indonesia, dari zaman kolonial sampai sekarang tahun 2007.
 
Surat kabar yang dipilih adalah kisaran waktu 1890-an sampai 2007. Saat itu ditentukan jumlah surat kabar tersebut mengacu jumlah hari dalam 1 tahun, yaitu 365 hari. Semula ini terlihat aneh saja bagi saya. Jumlah itu dipilih untuk memudahkan pekerjaan saja dan tak ada dasar kuat jumlah tersebut dipakai dalam mengumpulkan dan memilih surat kabar yang ditulis. Saya sempat bertanya kenapa surat kabar yang ditulis sebanyak 365? Ya, jawabannya kembali untuk kebutuhan praktis saja. Jawaban jumlah itu yang melihat jumlah representatif dari perkembangan dan pertumbuhan surat kabar melayu di negeri ini tak saya dapatkan. Dan memang betul hanya untuk kebutuhan praktis saja, untuk memudahkan pekerjaan. Jadi ditetapkanlah oleh Indexpress, dengan tak membuka perbincangan untuk melihat lagi jumlah surat kabar yang pernah hidup di negeri ini.
 
Saya bersama tujuh orang penulis lain, yang waktu itu disebut-sebut sebagai penulis muda, memulai pekerjaan menulis kisah singkat surat-surat kabar yang ditentukan. Masing-masing penulis, di bulan pertama mendapatkan jatah 18 surat kabar. Agak unik, kami bisa menulis surat-surat kabar yang kami sukai, dan kebetulan berminat pada studi tertentu. Ada yang berminat soal komunis, ya memilih dan diberikan surat-surat kabar komunis. Ada yang berminat mengenai cina, ya dipilihkan surat-surat kabar Tionghoa. Ada yang berdasarkan wilayah, misalnya yang suka Jawa, ya diberi surat-surat kabar Jawa. Juga yang suka surat kabar di luar Jawa, diberi surat-surat kabar yang ada di luar Jawa.
 
Daftar surat-surat kabar sudah disusun oleh pimpinan proyek ini, yang diambil dari katalog perpustakaan nasional RI di jalan Salemba Raya Jakarta. Pada pembagian surat-surat kabar itu, ada yang sudah ditentukan oleh pimpinan proyek, kadang-kadang penulisnya menyela untuk minta surat kabar yang menurutnya menarik. Maka, masing-masing nampak dengan pembagian macam itu. Saya coba melontarkan untuk ditukar, supaya tak bosan dan masing-masing penulis tidak terdikotomi dan bisa mengenali surat-surat kabar lainnya, yang berbeda dari sisi wilayah, organisasi, pendirian politik, dan kelompok.
 
Usul itu sempat dijalankan sebentar, selebihnya pilihan-pilihan surat kabar kembali ke pola semula, sesuai ketertarikan masing-masing penulis. Saya pun memilih surat-surat kabar yang hidup dan terbit di luar pulau Jawa. Ini bukan semata pengaruh politik Orde Baru, Jawa dan luar Jawa, tapi ini lebih pada kondisi riel bahwa surat-surat kabar di daerah tersebut tak banyak yang menulisnya. Ini yang membuat saya sejak awal mempelajari sejarah pers melayu, yang saya awali di daerah Sumatra.  
 
Itu pun tak semua memasukkan surat-surat kabar yang terbit di negeri ini. Surat kabar yang ditulis dalam buku ini dipilih-pilih melalui pemilahan dengan menyisir berdasar periode waktu, mudahnya terbagi pada waktu penjajahan, kemerdekaan, orde lama, orde baru, dan reformasi. Nah, 365 koran dipilih dengan mendasarkan surat kabar yang hidup di masing-masing periode itu. Ya jumlah itu dibagi-bagi tiap periode. Tentu, jumlahnya tak sama karena terkadang ada masa-masa redup, dimana surat kabar berguguran karena represif rezim penguasa dan sebaliknya perkembangan yang cepat surat kabar melayu pada zaman kolonial. Dan, pada zaman kolonial, mungkin lebih banyak jumlahnya dari periode waktu lainnya, meski sekali lagi tak bisa dikatakan untuk mewakili surat-surat kabar secara kuantitas dan kualitas pada zamannya. 
 
Setiap bulan diharapkan tiap penulis menyelesaikan 18 surat kabar. Ya, hampir tiap hari pergi ke Perpustakaan Nasional RI. Tetapi, kebersamaan tim kali pertama yang nampak kompak. Selanjutnya, tim mulai berganti-ganti. Saya sendiri bulan kedua menyelesaikan 9 surat kabar. Bulan kedua, saya mulai tak bersemangat lagi mengerjakan proyek ini. Saya tak melihat alasan kuat dalam diri saya untuk menuliskan bagian surat kabar yang diberikan ke saya. Disamping, saya sedang mengerjakan edisi majalah Bataviase Nouvelles yang diproduksi oleh Indexpress.
 
Saya pun pelan-pelan dengan agak berat melepaskan surat-surat kabar yang menjadi tugas saya. Dan, memang pimpinan proyek meminta saya untuk tak menulis lagi, dan menyarankan untuk konsentrasi pada pekerjaan Bataviase Nouvelles. Saya pun melepaskan surat-surat kabar yang hendak saya tulis itu dengan tidak rela, karena bahan-bahan beberapa surat kabar sudah saya kumpulkan. Ya, akhirnya, seorang penulis baru menggantikannya, tanpa saya ketahui sebelumnya. Ya, okelah.
 
Saat sembilan surat kabar saya kerjakan, saya pernah melontarkan pertanyaan kenapa Tirtoadhisoerjo, pendiri Medan Prijaji menjadi pijakan dalam meletakkan sejarah pers Indonesia. Tahun terbitnya Medan Prijaji, 1907, dimunculkan dengan tegas sebagai titik berangkat untuk apa yang disebut pers kebangsaan. Yang jelas saat itu, tahun 1907 adalah periode yang bermasalah untuk mengatakan dimulainya pers kebangsaan. Bagi saya, ini artinya sejarah pers Indonesia dimulai sejak Medan Prijaji terbit.
 
Kemana surat kabar yang terbit tahun 1800-an, yang juga ditulis dan dimasukkan dalam 365 surat kabar itu? Ada surat-surat kabar yang terbit sebelum 1907, yang menulis dan menyoalkan kemerdekaan, menyuarakan kepentingan rakyat, kepentingan bersama, dan ide-ide kebangsaan. Dan, surat kabar macam itu tersebar di berbagai tempat di nusantara, dari Jawa, Sumatra, Celebes, Borneo.
 
Pada sebuah pertemuan di saat proyek ini tengah berjalan, saya mendapat jawaban dari pimpinan proyek buku ini, soal alasan dipilihnya tahun 1907 sebagai dimulainya pers kebangsaan. Saat itu ada tiga hal yang ia utarakan, yaitu Medan Prijaji adalah pers bumiputra, yang didirikan, didanai, dan dikelola oleh orang bumiputra. Lalu, Medan Prijaji, pers yang mampu menjalankan bisnisnya tanpa campur tangan orang Eropa, atau pihak asing. Ia mandiri. Kemudian, Tirto adalah jurnalis yang menggunakan surat kabarnya untuk mengavokasi persoalan-persoalan rakyat yang tertindas. Maka, Tirto pantas sebagai pelopor jurnalisme advokasi.   
 
Pendapat saya terhadap alasan tersebut saat itu adalah, pertama, ukuran pers bumiputra. Alasan ini telah mengabaikan pers melayu Tionghoa yang riel menumbuhkan gagasan-gagasan kebangsaan. Ada tokoh-tokoh pers Tionghoa yang sangat berpengaruh dalam masyarakat yang hidup di awal 1900, atau sebelum itu. Lalu, soal bisnis media, ini debatable. Bisnis media, adalah soal hidup dan mati, kadang pilihan itu, apakah ada pihak Eropa atau tidak di dalamnya, tetap saya pers melayu menunjukkan ide-ide atau pun haluan surat kabarnya, yang saat itu banyak dipengaruhi oleh pendirian politik pemimpin redaksi (hoofdredacteur). Artinya, meski ada saham orang Eropa, atau sebagian dana berasal dari pengusaha Eropa, tetap tumbuh pendirian politik redaksi yang menentang kolonialisme. Dan, dimunculkan Tirto sebagai pelopor atau perintis pers kebangsaan, ini berarti memunculkan pahlawan yang dalam perjalanan bangsa ini menyuburkan mitos-mitos baru untuk dipuja-puji. Bagi saya, ini sebuah kemunduran dalam historiografi pers Indonesia, karena menciptakan pemimpin tunggal dalam pers Indonesia.
 
Saya menolak dengan tegas Tirtoadhisoerjo dan Medan Prijaji sebagai periode penentu dimulainya pers kebangsaan Indonesia. Saya juga menentang Tirtoadhisoerjo dijadikan tonggak bagi pers kebangsaan Indonesia karena melupakan jejak-jejak sejarah pers (surat kabar) yang dibangun oleh tokoh-tokoh pers melayu sejak awal abad 19. Saya menolak adanya sebuah tonggak pers kebangsaan, yang kali ini Tirto adalah tonggak pers kebangsaan Indonesia. Dan saya keluar dan mundur dari tim penulis buku ini karena Pers Indonesia dipatok pada tahun 1907.
 
Pada 6 Desember 2007, pengunduran diri dan keluar dari tim penulis buku Seabad Pers Kebangsaan telah saya nyatakan dengan resmi dalam sebuah surat yang saya tujukan kepada Indexspress, Jakarta. Yang belakangan proyek ini dibawah bendera Ibuku, lembaga yang masih berada dalam satu keluarga. 
 
: Artikel ini bisa disimak pada www.duniabergerak.blogspot.com

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: