22 December 2007

[media-sumut] Tanggapan atas Kajian UGM dalam Kasus Asian Agri Group

Tanggapan atas Kajian UGM
dalam Kasus Asian Agri Group

Oleh : Metta Dharmasaputra

Kajian Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UGM atas
pemberitaan Kasus Pajak Asian Agri oleh Majalah Tempo
dan Koran Tempo mengandung sejumlah catatan dan
kelemahan signifikan. Terlebih lagi, kajian itu
membuat sejumlah kesimpulan yang menyesatkan.

Karena itu, sebagai wartawan yang meliput dan menulis
artikel tentang kasus ini, atas nama pribadi saya
merasa perlu memberikan sejumlah tanggapan sbb:

I. PERSOALAN UTAMA

1.INDEPENDENSI
Kajian bertajuk Independent Study ini patut
dipertanyakan, karena merupakan pesanan dan dibiayai
sepenuhnya oleh Asian Agri Group.

2. KONFIRMASI DAN KLARIFIKASI
Pada bagian Metodologi dari Bab I kajian tersebut
(hal. 27) disebutkan bahwa data antara lain diperoleh
dari wawancara terhadap pengelola Koran Tempo atau
majalah Tempo. Sepengetahuan saya, Tim Peneliti belum
pernah meminta penjelasan resmi kepada pihak Tempo,
termasuk kepada saya selaku penulis artikel tersebut.

3. TIDAK KONTEKSTUAL
Kajian seperti diakui Tim Peneliti hanya didasarkan
pada teks, tanpa memperdulikan konteks (waktu dan
kejadian/fakta). Akibatnya terdapat sejumlah kesalahan
fatal atas hasil kajian tersebut.

Sejumlah kesalahan fatal itu, antara lain:

A. Akurasi berita.
Tim Peneliti menilai laporan Tempo tidak akurat. Salah
satu tolok ukurnya yaitu pemuatan nilai kerugian
negara yang berubah-ubah dari Rp 1,1 triliun menjadi
sekitar Rp 786 miliar.

Kesalahan penyimpulan ini terjadi karena kajian tidak
melihat konteks waktu kejadian. Indikasi kerugian Rp
1,1 triliun merupakan angka taksiran Vincentius pada
November 2006. Setelah itu muncul angka taksiran
Ditjen Pajak, yaitu Rp 786 miliar (Mei 2007), Rp 794
miliar (September 2007), dan Rp 1,3 triliun (Oktober
2007).

Perubahan angka terjadi karena hasil pemeriksaan tim
investigasi Ditjen Pajak atas 1.400 boks atau 9 truk
dokumen Asian Agri yang disita dari sebuah ruko di
Duta Merlin, Mei lalu, hingga kini belum rampung (baru
sekitar setengahnya).

B. Perbandingan Asian Agri-Lapindo.
Memperbandingkan liputan Tempo atas kasus Asian Agri
dan Lapindo dalam kurun Januari-Mei 2007 jelas
merupakan suatu kesalahan fatal. Bencana Lapindo sudah
terjadi sejak Mei 2006, sedangkan kasus Asian Agri
baru muncul Januari 2007.

Kajian ini tidak menganalisis sejumlah liputan khusus
Tempo atas kasus Lapindo pada 2006, termasuk cover
story pada 3 Desember 2006. Karena itu, kesimpulan tim
peneliti bahwa Tempo bersifat lebih moderat dalam
pemberitaan Lapindo ketimbang Asian Agri tidak punya
dasar yang jelas.

C.Tendensius
Tim peneliti menyimpulkan Tempo terlalu menekan dan
abrasive dalam pemberitaan kasus Asian Agri, padahal
kasus ini baru sebatas dugaan. Tim peneliti tampaknya
tidak memperhitungkan dua kali pernyataan pers tim
investigasi Ditjen Pajak (Mei dan September 2007) soal
indikasi manipulasi pajak Asian Agri, yang juga telah
menetapkan 8 tersangka.

II. ISI KAJIAN

1. Keberimbangan dan konfirmasi

Isi Kajian:
"Mempertimbangkan keluhan salah satu pihak yang
diteliti....masalah keberimbangan ini dapat
dikategorikan sebagai masalah serius dari sisi
ketaatan pada kode etik jurnalistik."

Tanggapan:
- Persoalannya, dalam wawancara, pihak Asian Agri
tidak pernah mau mengomentari data-data indikasi
manipulasi pajak dengan alasan data tersebut berasal
dari seorang maling (Vincent).

2. Kepentingan publik

"Perlu ditanyakan kepentingan publik apa yang bisa
diperoleh dari sejumlah labelling bersifat negatif"

- Kasus Asian Agri jelas memiliki dimensi kepentingan
publik dan negara yang besar. Menurut taksiran Ditjen
Pajak, kerugian negara sedikitnya Rp 1,3 triliun,
terbesar dalam sejarah Indonesia.

3. Konflik Vincent Vs RGM

"Tempo tidak menyadari bahwa aktivitas jurnalisme
investigatifnya berada pada konflik yang tengah
terjadi antara Asian Agri dan Vincentius....Apakah
Tempo justru melibatkan diri dalam konflik yang ada."

- Liputan investigasi yang saya lakukan terfokus pada
indikasi manipulasi pajak Asian Agri, yang berarti
konflik antara Asian Agri dengan Negara. Bukan pada
konflik antara Asian Agri dan Vincentius. Vincent
sebatas pemberi data dan informasi.

- Artikel sepenuhnya didasarkan pada data-data
berlapis (bukti pembukuan internal perusahaan, catatan
rekening bank, bukti transfer bank, dokumen transaksi,
dll) yang telah diverifikasi ke berbagai pihak.

- Validitas data bisa dipertanggungjawabkan, terbukti
paparan Tempo sama dengan temuan tim investigasi
Ditjen Pajak.

4. Personifikasi Sukanto Tanoto

"Tone pemberitaan tampak menekan dan menyerang Sukanto
Tanoto dalam kasus Asian Agri."

- Tampilnya sosok Sukanto didasarkan pada sejumlah
bukti dokumen yang mengindikasikan bahwa aliran uang
yang diduga hasil manipulasi pajak pada akhirnya
mengalir ke keluarga Sukanto lewat sejumlah perusahaan
di luar negeri.

- Tudingan Tim Peneliti bahwa ada agenda tertentu dari
Tempo terhadap Sukanto tidak berdasar. Banyak media
massa di Tanah Air pernah pula memberitakan sosok
Sukanto dalam berbagai persoalan, seperti Indorayon,
Unibank, Raja Garuda Mas, Riau Pulp and Paper, dll.
Karena itu, sesungguhnya penting bagi Tim Peneliti
untuk membandingkannya dengan peliputan oleh media
lain atau dalam kasus lain.

5. Perlakuan Asian Agri dan Lapindo

"Penggambaran Tempo tentang pihak yang bertanggung
jawab dalam menangani semburan lumpur Lapindo
sepenuhnya ada dalam wacana moderat. Berbeda sekali
dengan penggambaran Asian Agri dalam kasus penggelapan
pajak."

- Perlu dicatat, Tempo termasuk salah satu media
pertama yang mengungkap kaitan keluarga Bakrie dengan
Lapindo Brantas (Majalah Tempo, 2 Juli 2006).

- Tempo juga yang pertama mengungkap adanya surat dari
Medco Energi yang mengindikasikan adanya kelalaian
pemasangan selubung bor (casing) sebagai penyebab
bencana (Majalah Tempo, 2 Juli 2006)

- Beberapa kali kasus Lapindo dituliskan dalam cover
story majalah Tempo (3 Desember 2006) dan Koran Tempo
(23 November 2006), serta sejumlah liputan panjang.

6. Prasangka

"Analisis teks berita Tempo menunjukkan penggambaran
yang bernuansa prasangka baik terhadap sosok
Vincentius, sementara bernuansa prasangka buruk
terhadap Sukanto Tanoto."

- Dalam penulisan, saya tidak pernah menutup-nutupi
aksi pembobolan uang oleh Vincent. Hanya saja, isu
indikasi manipulasi pajak yang merugikan negara jauh
lebih penting ketimbang pembobolan uang perusahaan.

- Vincent pun selalu menyatakan akan
mempertanggungjawabkan aksi kejahatannya. Niatnya
mengungkap indikasi manipulasi pajak Asian Agri
didasari keinginannya untuk bisa diadili secara fair
dan mendapat jaminan keselamatan atas diri dan
keluarganya dari negara.

7. Agenda Tersembunyi Tempo

"Koran dan majalah Tempo cenderung terlihat begitu
memiliki agenda tersembunyi yang hanya bisa ditanyakan
dengan mengetuk pintu hati nurani para wartawan
Tempo."

"Kepercayaan penuh wartawan Tempo terhadap statement
pihak pemerintah (dalam kasus Lapindo) menunjukkan
bahwa kebebasan pers yang dulunya digunakan Tempo
untuk berhadapan dengan status quo perlahan mulai
bergeser pada kebebasan sebagai story teller kebijakan
pemerintah."

- Praduga tim UGM di ujung kesimpulannya ini merupakan
tudingan serius bagi Tempo. Karena itu, tim UGM harus
mengungkap jelas fakta-fakta yang mendasari tudingan
tersebut.

AKHIR KATA
UGM yang selama ini dikenal sebagai kampus "wong
cilik" hendaknya senantiasa setia membela dan
menyuarakan kepentingan publik, ketimbang
mengedepankan kepentingan sempit dari pihak-pihak
tertentu.

* * *

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: