29 March 2008

[media-sumut] Kualitas Media di Aceh Masih Rendah: Penelitian Free Voice´s

 
------ Forwarded Message
From: "[Binyo] Wandy Nicodemus" <wntdata@yahoo.com>
Reply-To: <wntdata@yahoo. com>
Date: Sat, 29 Mar 2008 07:41:51 +0000
Subject: FW: Serambi Online - Riset Media Aceh 2008

SERAMBI Online - 29/02/2008 09:38 WIB

Kualitas Media di Aceh Masih Rendah:
Penelitian Free Voice´s

BANDA ACEH - Penelitian terbaru yang dilakukan lembaga internasional, Free
Voice´s, mengungkapkan kualitas media lokal di Aceh masih rendah. Aspek
penilaian pada penelitian ini merujuk aspek eksternal media, kemandirian,
kemampuan dan profesionalisme jurnalis, serta peran media pascakonflik.

Hasil penelitian itu disusun oleh Media Consultan Free Voice´s, post tsunami
& conflik Aceh media assesment 2008, Wandy Nicodemus Tuturoong (Binyo), dan
Research & Metodhology Consultant Eriyanto. Resume itu dipaparkan pada acara
Aceh Media Conference di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Selasa dan Rabu
(27-28/2).

Pada laporan itu disebutkan, aspek eksternal media yang dicermati
meliputi regulasi dan peraturan yang membelenggu kebebasan pers. Terutama
menyangkut wacana penerbitan undang-undang pers Islami, yang hingga kini
masih dalam perdebatan hangat antara yang setuju dengan menolak.

Selain itu, juga menyangkut kekerasan terhadap jurnalis yang cenderung
menurun, namun tetap menjadi masalah. Soal penyajian berita yang semestinya
variatif, tidak seragam seperti yang terjadi di era konflik. Serta,
rendahnya kesadaran wartawan untuk berorganisasi.

Salah satu permasalahan media di daerah pascakonflik ialah daya hidup
(sustainability) . Media yang kuat secara ekonomi menjadi penting, agar tidak
terjebak ´rumus´ lama, yakni memperbesar pembaca dengan penyajian
berita-berita provokatif atau memancing konflik, tulis Wandy dalam laporan
itu.

Terkait profesionalisme media, banyak terjadi keragaman pendapat. Ada
yang menilai media di Aceh bertindak profesional, namun ada juga berpendapat
media telah kebablasan, ditandai dengan mulai munculnya liputan tidak cover
both side (berimbang) dan tidak sesuai fakta.

Sementara tentang peran media pascakonflik, disebutkan media dapat
berperan menjaga perdamaian yang telah terjalin di Aceh. Namun yang terjadi,
masih ada media memberitakan secara sensasional dan provokatif, agar lebih
laku dan bisa menarik khalayak.

Apa pun keputusannya, media di Aceh mesti secara tegas merumuskan visi
yang hendak dicapai. Sebab, visi tersebut akan membedakan bagaimana media
satu dengan lainnya, memberitakan sebuah peristiwa, demikian isi laporan
tersebut.

Penelitian itu melibatkan tiga media cetak lokal, sembilan kantor radio,
dan satu stasiun televisi swasta lokal. Mulai dari kepemilikan, distribusi
dan wilayah jangkauan, fasilitas dimiliki, jumlah dan gaji pegawai,
operasional, iklan, pendapatan, segmen khalayak, pendidikan pegawai,
pemberitaan, dan jumlah nara sumber berita.

Juga dilengkapi petikan wawancara dengan sekitar 25 nara sumber, baik
pemilik media, jurnalis, pengamat media, dan aktivis. Penelitian itu
bertujuan merekomendasikan upaya terbaik yang bisa dilakukan untuk
peningkatan kualitas media di Aceh ke depan.

Kami melihat adanya kemajuan yang dicapai media pascakonflik dan tsunami.
Namun, ada masih ada juga yang perlu diperbaiki. Sehingga perlu pendiskusian
bersama untuk membantu meujudkan media profesional, kata Binyo kepada
Serambi, kemarin.(yos)

Sent from my BlackBerry®
 
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: