11 April 2008

[media-sumut] Cerita tentang Oleh-Oleh


Oleh: Mula Harahap

Kemarin ketika pulang dari Medan saya dititipi
oleh-oleh berupa makanan. Sebenarnya saya adalah orang
yang paling malas untuk membawa oleh-oleh dari sebuah
perjalanan. Anak-anak saya yang sudah dewasa itu tak
terlalu perduli dengan oleh-oleh. (Bagi mereka
oleh-oleh itu hanya satu macam: uang). Dan lagipula,
saya adalah orang tak suka repot-repot bila masuk ke
kabin pesawat terbang.

Karena sanak-saudara sudah berlelah-lelah membelinya,
terpaksa jugalah saya bawa oleh-oleh itu. Tapi
sepanjang perjalanan menuju Bandara Polonia saya terus
berpikir bagaimana membawa oleh-oleh yang "ribet"
tersebut ke dalam kabin.

Ketika sedang menunggu giliran check-in, saya melihat
orang-orang di sekitar saya ternyata membawa oleh-oleh
yang sama dengan saya: bolu gulung "meranti" yang
dikemas dalam kotak dan diberi tali untuk memudahkan
menentengnya. Ternyata orang-orang itu memasukkan
oleh-olehnya sebagai bagasi. Dengan senang hati saya
pun melakukan hal yang sama.

Tapi ketika tiba di Bandara Soekarno-Hatta dan hendak
memungut bagasi saya jadi pusing tujuh keliling. Ada
tujuh atau delapan kotak dengan merek "bolu meranti"
yang berjalan di conveyor-belt. Semua tanpa nama
pemilik. Terpaksalah saya harus memelototi setiap
kotak untuk mencocokkan nomor pada stiker klaim yang
melekat di kotak itu agar sesuai dengan nomor pada
potongantiket yang ada di tangan saya.

Oleh-oleh berupa makanan khas setiap kota memang
lucu-lucu: Dulu oleh-oleh yang khas dari Medan adalah
bika ambon dan sirop markisa. Saya tidak tahu sejak
kapan bolu gulung "meranti" (pabriknya terletak di
Jalan Meranti--Medan) mulai menggeser popularitas bika
ambon dan markisa.

Disebabkan oleh alasan praktis yaitu agar tidak repot
menenteng bika ambon atau markisa itu ke kabin pesawat
terbang, maka dulu ada "sistem" yang memungkinkan kita
hanya membawa secaris kertas yang disebut "DO"
(Delivery Order). Kertas itulah yang kita berikan
kepada sanak-saudara yang kita kasihi, lalu urusan
mereka selanjutnyalah untuk mengklaim bika ambon atau
markisa itu di kantor perwakilan fabrikannya yang ada
di Jakarta.

Sekarang saya tak pernah lagi melihat "sistem" itu.
Hal ini mungkin disebabkan karena faktor kemacetan
lalulintas Jakarta yang sudah sampai ke tingkat
jahanam itu. Seandainya ada seseorang dari Medan
memberikan saya oleh-oleh berupa secarik kertas "DO",
maka saya pun pasti akan marah. Pasti saya akan
berkata, "Kau suruh saya yang tinggal di Ciputat ini
untuk mengklaim sekotak markisa di Pluit? Kau makan
sendirilah oleh-olehmu itu...."

Oleh-oleh dari Palembang juga sering membuat saya
tersenyum-senyum. Kalau kita naik pesawat terbang dari
Palembang, maka setibanya di Bandara Soekarno-Hatta
baju kita pasti akan berbau khas. Kabin pesawat
terbang yang berangkat dari Palembang selalu berbau
cuka empek-empek. (Dan saya rasa salah satu keahlian
yang dimiliki oleh security yang memelototi layar
monitor pemeriksaan x-ray di Badara Polonia--dan yang
tidak dimiliki oleh security di tempat lain--adalah
mendeteksi durian).

Disamping ikan bilis kering, maka oleh-oleh dari kota
Padang yang mengesankan saya adalah keripik singkong
bersambal atau "keripik balado". Salah satu merek yang
terkenal ialah keripik balado "Rohana Kudus". Dulu
saya pikir keripik tersebut adalah buatan keluarga
atau keturunan pahlawan nasional itu. Tapi ternyata
yang membuatnya adalah orang Tionghoa. Dinamakan
"Rohana Kudus" karena pabriknya terletak di Jalan
Rohana Kudus--Padang. Tak bisa saya bayangkan apa yang
akan terjadi kalau saya membuat oleh-oleh babi
panggang, lalu produk itu saya namakan sesuai dengan
nama jalan dimana usaha saya berada, misalnya Jl. H.
Agus Salim--Kabanjahe atau Jl. K.H. Hasyim
Ashari--Tarutung.

Bandung adalah kota yang paling kreatif dan suka
gonta-ganti oleh-oleh. Dulu pernah terkenal kue "soes
merdeka". Lalu kue keju "kartika sari". Lalu brownies
kukus (saya lupa mereknya).

Sebagaimana layaknya turis-turis Jakarta yang "frenzy"
dengan oleh-oleh makanan khas dari sebuah kota, saya
pun pernah menemani seorang teman untuk berbelanja kue
"kartika sari" di tokonya yang terletak tak jauh dari
stasiun kereta api itu. Kami tiba di tempat itu jam
tujuh pagi. Tapi orang-orang yang mengendarai mobil
dengan pelat nomor B itu sudah antri untuk belanja.
Kata saya dalam hati, "Pemilik usaha oleh-oleh ini
sungguh adalah orang yang paling diberkati Tuhan.
Begitu bangun tidur dan cuci muka mesin kasnya telah
bergemerencing....."

Yogyakarta juga memiliki beberapa makanan khas yang
oleh industri "dibaptis" menjadi oleh-oleh. Ada gudeg
dan ada "bakpia pathuk". Oleh suratkabar pernah
diberitakan bahwa pada sebuah liburan panjang
turis-turis domestik yang datang ke Yoyakarta
kehabisan "bakpia pathuk" (ada beberapa merek yang
hampir sama).

Magelang juga punya banyak oleh-oleh yang khas: ada
getuk lindri, wajik dan makanan lainnya. Saya sangat
terkesan dengan wajik "nyonya weik". Bukan karena
rasanya, tapi karena mereknya. Membuat makanan dengan
merek "uek" saya rasa sungguh adalah sebuah
keberanian. Keberaniannya mungkin sama dengan orang
yang memberi merek rumah makannya "sabar menanti".
Kalau sudah lewat tengah hari dan perut sudah
keroncongan, maka "sabar menanti" adalah rumah makan
yang paling tak ingin saya kunjungi.

Tapi walaupun saya bukanlah orang yang "care" untuk
menenteng oleh-oleh, sesekali saya tergerak juga untuk
membelinya. Di Magelang saya pernah membeli kerak nasi
yang sudah dikeringkan dan diberi rasa garam atau gula
itu. Oleh-oleh itu mengingatkan saya akan masa kecil
saya:

Dulu ibu saya selalu menanak nasi dengan periuk (bukan
dengan dandang, apalagi "rice cooker"). Karena itu, di
dasar periuk selalu tersisa kerak. Dan sebagai anak
paling tua, yang punya rahang dan gigi paling kuat,
maka adalah tugas saya untuk memakan kerak nasi itu.

Oh, oleh-oleh....! [.]

 
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: