30 May 2008

[media-sumut] Bahan Pangan Lokal Terabaikan

Bahan Pangan Lokal Terabaikan
Jumat, 30 Mei 2008 | 20:21 WIB


MEDAN, JUMAT
- Bahan pangan alternatif berbasis lokal banyak terabaikan sebagai produk pangan berpotensi. Padahal bahan pangan alternatif bisa dipakai mengganti bahan pangan utama yang selama ini dikonsumsi masyarakat.  

Salah satu produk lokal Sumut yang berpotensi adalah pisang barangan. "Sejak lama pisang ini sudah berkembang baik di Sumut, " kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Katolik (Unika) Santo Thomas, Medan Posman Sibuea, Jumat (30/5) dalam acara peluncuran Program Bantuan Dana Penelitian Pangan Bagi Kalangan Akademisi 2008.

Posman menjelaskan, selain pisang barangan ada ubi jalar yang bisa dikembangkan untuk menggantikan bahan pangan utama. "Sayangnya, bahan pangan itu hanya diolah seadanya, minim inovasi. Padahal pengembangan ini berpotensi mengurangi konsumsi beras dan terigu masyarakat yang tinggi," katanya.

Penggantian bahan baku utama, tuturnya, bisa terwujud jika ada keberpihakan pemerintah. Pemerintah Provinsi Sumut mestinya mengembangkan pisang ini sebagai sumber pangan alternatif yang strategis. Dia menuturkan produk olahan pisang barangan bisa dipakai sebagai bahan campuran roti dan puding.  

"Olahan ini mudah dikonsumsi untuk sarapan pagi," katanya. Posman mengatakan pisang barangan baik untuk kesehatan karena merupakan sumber karbohidrat, vitamin antioksidan dan mineral. Pisang ini bisa berbuah 105 sampai 109 per tandan. Daerah penghasil pisang di Sumut di antaranya Kabupaten Karo dan Deli Serdang.  

Manajer Komunikasi PT PT Indofood Sukses Makmur (ISM) Tbk Roland Taunay mengatakan mengubah kebiasaan pola konsumsi pangan masyarakat perlu waktu panjang. Hal ini menyangkut dengan budaya dan pencitraan yang ada di masyarakat. "Bisa muncul anggapan jika tidak makan nasi maka kelas sosialnya akan turun," katanya.

Untuk mengembangkan bahan pangan alternatif, PT ISM membantu pendanaan penelitian kepada peneliti dan mahasiswa. Setiap tahun PT ISM menyediakan dana Rp 1 miliar untuk penelitian bahan pangan alternatif. "Namun dana yang kami sediakan selalu saja berlebih. Tidak banyak penelitian yang serius mencari bahan pangan," tuturnya.

Bahan pangan alternatif yang dimaksud antara lain gandum, jagung, ubi jalar, pisang, singkong, kelapa sawit, kedelai, kentang, sagu, dan garut. Menurut dia, pengembangan bahan alternatif ini penting untuk menghindari ketergantungan pada beras. "Semakin lama produksi beras semakin menurun, lahannya semakin menyempit," katanya.(NDY)     

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/30/20215253/bahan.pangan.lokal.terabaikan

 

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Berbagi Kebahagian Bersama PWS - Medan

Berbagi Kebahagian Bersama PWS - Medan

Paguyuban Wargi Sunda ( PWS ) - Medan , adalah wadah komunitas masyarakat Sunda di Medan Sumatra Utara , baik yang berdomisili ataupun bertugas.

Dalam rangka Bhakti Sosial nya , PWS akan menyelenggarakan khitanan massal dan pengobatan gratis khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu di Medan pada tanggal 29 Juni 2008 ( bertepatan dengan libur sekolah )

Melalui kegiatan ini , atas nama pengurus PWS - Medan , kami mengajak Bapak / Ibu pembaca web ini untuk turut berbagi kebahagiaan dengan membantu / berderma / beramal melalui kegiatan PWS ini. ( proposal terlampir )

Sumbangan dapat disalurkan melalui :

BCA Cabang Diponenoro
No. Rek. 0220828603
a/n Ir.Dedi Mulyadi ( bendahara PWS-Medan )

Ditengah kesulitan ekonomi dan naiknya BBM kami harapkan bantuan Bapak / Ibu dapat menjadi langkah nyata penawar kesulitan bagi masyarakat di Medan.

Hormat kami,

Djodi Ismanto
Paguyuban Wargi Sunda Medan
www.pwsmedan.blogspot.com


 

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

28 May 2008

[media-sumut] Re: [orangmedia] Harian Rakyat Aceh.....

 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, May 29, 2008 9:01 AM
Subject: [orangmedia] Harian Rakyat Aceh.....

Dear All...
 
Buat temen'' yg butuh promo di Bumi Nangroe Aceh Darussalam... (NAD),
dengan senang hati kami siap membantu...!
 
Sebagai salah satu media Jawa Pos Group Rakyat Aceh terus berkembang dan menjadi mitra bisnis di Bumi Rencong....
 
Telah hadir juga...,
Harian Metro Aceh (koran kriminal yg sdh diterima baik oleh masyarakat daerah)
hadir dengan tampilan menarik uk 5 kl, lebih minimalis dengan harga Rp.1000/ eksp
 
Info Lebih lanjut,
 
 
 
ZULIFNI
Perwakilan Jakarta
 
Gedung Graha Pena Lt.05
Jl. Kebayoran Lama No.12 Jaksel
Telp.53699617  Fax.5333048
HP. 0817.984.1126/98004194
 

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

27 May 2008

[media-sumut] Gempa Sichuan Picu Gempa Di Sumut



--- On Tue, 5/27/08, vivian ping <crystalping@gmail.com> wrote:
From: vivian ping <crystalping@gmail.com>
Subject: Fwd: Fw: Gempa Sichuan Picu Gempa Di Sumut
To: toeffendi@yahoo.com, "Vera Lee" <leevera@gmail.com>, "david kz" <dulidebu@gmail.com>, adindagolid@yahoo.com, erny_manis@yahoo.com, "v" <ewin_fong@yahoo.com>
Date: Tuesday, May 27, 2008, 1:35 AM



---------- Forwarded message ----------
From: Rosni Chandra <rosni@pacificmedan.com>
Date: 2008/5/23
Subject: Fw: Gempa Sichuan Picu Gempa Di Sumut
To: Undisclosed-Recipient



 
-- 

 

 

Jumat, 23 Mei 2008 01:26 WIB

Gempa Sichuan Picu Gempa Di Sumut                            

HASANUL HIDAYAT

WASPADA ONLINE

 

(MEDAN) - Pakar geologi mengatakan mengingatkan masyarakat untuk waspada karena gempa 7,9 skala Richter (SR) yang mengguncang Sichuan, China pada Senin (12/5) kemarin berpotensi memicu terjadinya gempa berkekuatan besar di Sumut.

 

Hal itu mungkin terjadi karena patahan yang menjadi sumber gempa China itu, ternyata berhubungan dengan jalur patahan yang membelah pulau Sumatera.

 

Demikian disampaikan Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumut NAD, Gagarin Sembiring dan Ketua Dewan Pakar IAGI Sumut-NAD, Jonathan Tarigan kepada Waspada, di Medan, Kamis (22/5).   

 

Gagarin menjelaskan, gempa di Sichuan China terjadi akibat pertemuan Lempeng Indo-Australia dengan Lempeng Eurasia, yang menyebabkan terjadinya gempa di patahan yang terdapat di dataran tinggi Tibet.

 

Ditambahkannya, pertemuan dua lempeng tadi menyebabkan terjadinya gerakan memuntir pada patahan, sehingga terus memanjang melewati Patahan Sagaing di Birma, sampai ke patahan besar Sumatera.

 

Hal itulah, menurut Gagarin, beberapa hari setelah gempa China, gempa juga terjadi di beberapa kawasan yang dilalui jalur patahan besar Sumatera, seperti di Bengkulu, Padangsidimpuan dan Tapanuli Tengah. "Gempa itu satu jalur dengan Patahan Sagaing yang dipengaruhi langsung prilaku gerakan bumi di Tibet," katanya.

 

Karena itulah, Gagarin memprediksikan, setelah gempa di China, bakal ada gempa berkekuatan besar terjadi di daerah Sumut yang dilewati jalur Patahan Sumatera. Apalagi Jonathan menilai beberapa gempa yang telah terjadi belakangan adalah gempa pendahuluan.

 

Sementara itu, Jonathan Tarigan mengatakan, menurut siklus waktu sejarah kegempaan di Sumut, beberapa gempa berkekuatan besar juga bakal mengguncang Sumut dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang.

 

Jonathan mengatakan, gempa berkekuatan 7,2 SR yang pernah terjadi di Karo pada 1936 lalu memiliki siklus 70-80 tahun. Sehingga diyakininya gempa itu bakal kembali mengguncang Sumut.

 

"Dan sekarang (2008-red) sudah 72 tahun setelah gempa tersebut terjadi, maka hampir bisa saya pastikan maksimal dalam sepuluh tahun ini gempa itu pastikan terjadi lagi, dengan kekuatan yang hampir sama," ujarnya.     

 

Jonathan menambahkan, menurut data pada 1933 di kawasan Sichuan China juga pernah terjadi gempa berkekuatan 7,3 SR. Setelah itu, disusul pada 1936 gempa berkekuatan 7,2 SR terjadi di Batukarang Karo. "Sehingga memperbesar kemungkinan gempa di Sumut akan terulang kembali dalam waktu dekat," katanya.

 

Dijelaskannya, selain akan mengakibatkan kerusakan pada daerah yang berada di pusat gempa, juga akan memberikan efek guncangan yang sangat keras sampai ke Medan, karena ibukota Sumut ini berdiri di atas tanah aluvial (lembek). Sehingga dapat merontokkan banyak bangunan dan infrastruktur.

 

Jonathan juga mengatakan, dalam data USGS (United States Geological Survey) terekam bahwa pada 30 Maret 2008 lalu terjadi gempa secara bersamaan di Binjai berkekuatan 4,5 SR dan Sibolga 5,3 SR. Namun getarannya tidak disadari sebagian besar masyarakat. "Bisa jadi itu adalah gempa pembuka, belum main shock (gempa utamanya)," kata Jonathan.

 

Karena itu Jonathan mengharapkan, untuk mengantisipasi hal itu pemerintah khususnya Pemprovsu menyikapi segera melakukan mitigasi (pemetaan daerah rawan gempa), pemetaan kerawanan sosial seperti kesiapan masyarakat menghadapi ancaman bencana, serta pemetaan risiko bencana gempa.

 

"Paling tidak harapan kepada Pemprovsu yang baru untuk memperhatikan ancaman ini. Dan melakukan langkah-langkah konkrit. Karena rezim pemerintahan yang lama tidak punya perhatian terhadap kondisi kebencanaan di Sumut," kata Jonathan.


PT. Toba Pulp Lestari (www.tobapulp.com)
This email may contain confidential and/or legally privileged information. If you are not the intended recipient (or have received his mail by error), please notify the sender immediately and delete this mail.
Any unauthorized copying, disclosure, or distribution of the material in this email is sticly forbidden.



__________ NOD32 3118 (20080521) Information __________

This message was checked by NOD32 antivirus system.
http://www.eset.com



--
VIVIAN-e

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

26 May 2008

[media-sumut] Re: [mediacare] Penghargaan Jurnalistik: Isu Hutan dan Lingkungan Aceh

 
----- Original Message -----
From: dewagumay
Sent: Monday, May 26, 2008 2:09 PM
Subject: [mediacare] Penghargaan Jurnalistik: Isu Hutan dan Lingkungan Aceh

Penghargaan Jurnalistik untuk Isu Hutan dan Lingkungan Aceh

Memperingati hari Lingkungan Hidup dan Hutan Tropis Sedunia, Fauna & Flora International Program Aceh menyelenggarakan Festival Alam dan Budaya Aceh III pada 5 dan 6 Juli 2008. Salah satu event Festival tersebut adalah Lomba penulisan bagi jurnalist dengan Tema: Hutan dan Lingkungan Aceh.

Persyaratan:

1.      Lomba ini terbuka bagi setiap orang yang berprofesi sebagai jurnalis.

2.      Tulisan yang dilombakan berbentuk reportase/feature/berita analisis.

3.      Tulisan telah dipublikasikan di media cetak dan online sejak 1 Januari hingga 30 Juli 2008.

4.      Setiap peserta bisa mengirimkan karya sebanyak-banyaknya untuk dilombakan.

5.      Materi dikirim dalam bentuk: Fotokopi atau kliping naskah.

6.      Materi paling lambat diterima oleh Sekretariat pada 2 Juli 2008.

7.      Pengiriman materi disertai fotokopi kartu pers atau surat keterangan dari pemimpin redaksi.

Penilaian:

Unsur-unsur yang dinilai: pemilihan tema, perspektif, dan kedalaman serta gaya tulisan

Dewan Juri:

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Banda Aceh

Pemenang:

Hadiah yang akan diberikan untuk tiga (3) pemenang:

Pemenang I, Rp 3.000.000,-

Pemenang II, Rp 2.000.000,-

Pemenang III, Rp 1.000.000,-

Pengumuman dan Penerimaan Hadiah:

Keputusan Dewan Juri bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.

Pengumuman dan penerimaan hadiah akan diselenggarakan pada Festival Alam dan Budaya Aceh pada 6 Juli 2008 di Taman Sari, Banda Aceh. 

Pengiriman Naskah:

Materi dikirimkan melalui pos atau kurir ke Sekretariat Panitia Jl. T. Nyak Arief Lr. Cendana No. 3 A Lingke, Banda Aceh 23114. (Belakang Dinas Syariat Islam Provinsi NAD) Telp. 0651-7552085 atau melalui e-mail ke dewagumay@ffi.or.id

Informasi lebih lanjut hubungi:

Dewa Gumay, M: +812 6931990, E: dewagumay@ffi.or.id  

Shaummil Hadi, M: +813 77442600, E: shaummil.hadi@ffi.or.id 

 
 
===================================
 
"Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
[Pramoedya Ananta Toer]

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

25 May 2008

[media-sumut] Re: [mediacare] Undangan Terbuka: Diskusi Publik 5 Juni 2008

 
----- Original Message -----
From: dewagumay
Sent: Monday, May 26, 2008 12:32 PM
Subject: [mediacare] Undangan Terbuka: Diskusi Publik 5 Juni 2008

 

Nomor             : 182/L-Com/FFI/BAO/05/08-dw

Lampiran         : Term of References-

Perihal             : Undangan Terbuka Diskusi Publik

Kepada Yth.

Rekan-Rekan Aktivist/Pegiat Lingkungan/Jurnalist

di-

            Banda Aceh

Salam Lestari,

            Pada 6 Juni 2008, tepat satu tahun kebijakan moratorium logging di berlakukan oleh Gubernur Pemerintahan Aceh. Untuk itu bertepatan dengan hari Lingkungan Hidup Sedunia, Fauna & Flora International akan menggelar diskusi publik, dengan tema "Satu Tahun Moratorium Logging, Bagaimana Kondisi Hutan Aceh." Kami bermaksud mengundang Rekan Aktivist/Pegiat Lingkungan/Jurnalist untuk dapat menjadi peserta pada diskusi tersebut (detail kegiatan terlampir) Diskusi publik tersebut akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal             : Kamis, 5 Juni 2008

Waktu                          : 10.00 s/d 12.00 Wib.

Tempat                        : Sekretariat Bersama Komunitas Jurnalis

                                      Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah No. 8 Banda Aceh

                                      (Samping Kantor Golkar/Telkom)

Demikianlah undangan ini kami sampaikan, atas kesediaan Bapak kami ucapkan terima kasih.

Salam Lestari,

Banda Aceh, 25 Mei 2008

Fauna & Flora International – Program Aceh

 

Dewa Gumay

Koordiantor Informasi

 

==================================

 

Term of References

Diskusi Publik Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2008

"Satu Tahun Moratorium Logging, Bagaimana Kondisi Hutan Aceh ?"

I.       Informasi Umum

I.1.      Nama Kegiatan

            Diskusi Publik Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2008

            Tema "Satu Tahun Moratorium Logging, Bagaimana Kondisi Hutan Aceh ?."

I.2       Tempat dan Waktu

            

            Sekretariat Bersama Komunitas Jurnalis, Jalan Sultan Alaidin Mahmudsyah No. 8 Banda Aceh

            (Samping Kantor Golkar/Telkom).           

            Waktu: 5 Juni 2008, Pukul 10.00 wib s/d 12.00

I.3       Penyelenggara

            Fauna & Flora International-Program Aceh

            Jl. Arifin Ahmad III No. 3 Ie Masen, Kayee Adang Lampineung-Banda Aceh 23116

            Telp. +62 651 7410024, Fax. +62 651 7551483. E: ffi.aceh@ffi.or.id W: www.ffi.or.id 

            Contact Person:

            Dewa Gumay, M: +812 6931990, E: dewagumay@ffi.or.id

            Shaummil Hadi, M: +813 77442600, E: shaummil.hadi@ffi.or.id  

I.4       Narasumber

            # Bakti Siahaan –Ketua Tim Penyusun Rencana Strategis Pengelolaan Hutan Aceh

                Topik: "Rencana strategis pengelolaan hutan Aceh terkini."

            # Bambang Antariksa –Direktur Eksekutif WALHI Aceh

                Topik: "Catatan kritis satu tahun kebijakan moratorium logging dalam perspektif pengelolaan sumberdaya alam." 

            # Muhammad Hamzah –Ketua Aliansi Jurnalistik Independen Banda Aceh

                Topik: "Catatan kritis satu tahun kebijakan Moratorium Logging dalam perspektif media sebagai sumber informasi yang diperoleh publik."

            # M. Jakfar –Sekretaris Forum Sayeung Krueng Kalok (FORSAKA) Aceh Besar

                Topik: "Catatan kritis satu tahun kebijakan moratorium logging dalam perspektif masyarakat sekitar hutan."

I.5       Moderator

            Adi Warsidi (Jurnalis)

I.5       Peserta

            Diskusi publik ini akan diikuti oleh peserta yang berasal dari banyak background: Pemerintah, Non Government Organization, Akademisi, Praktisi, Masyarakat, dan Pers.

 

 

II.      Latar Belakang

P

ada 6 Juni 2008, genap satu tahun kebijakan moratorium logging di berlakukan oleh Gubernur Pemerintahan Aceh. Kebijakan moratorium logging atau jeda tebang, yaitu; penghentian sementara penebangan hutan di wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Pasca deklarasi moratorium logging, muncul ide-ide dan konsep untuk mengisi kebijakan ini, diantaranya lahir konsep "Aceh Green." Aceh Green merupakan konsep yang diusung oleh Pemerintahan Aceh untuk menjawab dua persoalan pokok, kondisi hutan yang terdegradasi dan kemiskinan masyarakat di sekitar hutan.

            Jika kita runut, latar belakang lahirnya kebijakan moratorium logging didasari oleh kondisi objektif pengelolaan hutan Aceh yang tidak terkendali, sehingga kerap melahirkan bencana ekologis berupa banjir dan tanah longsor, serta konflik antara satwa dan manusia. Tujuan yang ingin dicapai dari pemberlakukan moratorium logging adalah "Hutan Lestari Rakyat Aceh Sejahtera" melalui tiga program pokok. Redesign, reforestrasi, dan reduksi laju deforestrasi.

            Program redesign merupakan langkah untuk menata ulang hutan Aceh dan konsesi perizinan yang berkinerja buruk yang akan dituangkan dalam revisi rencana tata ruang untuk mewujudkan pembangunan Aceh yang berimbang secara ekologi, ekonomi, dan sosial. Program redesign akan di implementasikan melalui; revisi tata ruang sesuai kebutuhan pembangunan berimbang, meninjau kembali status luas dan izin konsesi hutan, rasionalisasi industri kayu sesuai dengan ketersediaan bahan baku, pengembangan hasil hutan non kayu, optimalisasi luas dan manfaat hutan konservasi, penataan kembali lembaga dan tata hubungan kerja pengelolaan hutan Aceh.

            Program reforestrasi merupakan bagian dari strategi pengelolaan hutan Aceh melalui rehabilitasi hutan dan lahan dengan melibatkan masyarakat. Program reforestrasi akan diisi dengan program reorientasi prioritas lokasi penanaman (RHL), mengupayakan berbagai sumber dana untuk RHL (APBK, APBA, Donor, dan Karbon Market), dan mengembangkan hutan tanaman (HTI atau HTR, Hutan Rakyat).

            Sementara, program reduksi laju kerusakan hutan dilakukan untuk menciptakan keseimbangan antara laju penghutanan dan pemanfaatan yang merupakan indikator pengelolaan hutan lestari melalui pengembangan sistem pengamanan hutan yang efektif dan penegakan hukum secara konsisten. Program ini akan dicapai dengan cara melakukan upaya penegakan hukum, penerapan system pengamanan hutan menjadi lebih efisien dan efektif, menambah jumlah jagawana dan rekruitmen polhut kontrak, dan penertiban peralatan eksploitasi hutan.

            Selama satu tahun pelaksanaan kebijakan moratorium logging, banyak hal yang telah dilakukan Pemerintah Aceh baik dalam penyusunan konsep untuk mengisi moratorium logging maupun upaya penegakan hukum melalui berbagai operasi terpadu terhadap pembalak liar di hutan Aceh.

            Tetapi, pemberlakuan kebijakan moratorium logging juga menimbulkan implikasi bagi kehidupan masyarakat sekitar hutan, terutama masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil hutan berupa kayu. Kemudian, banyak muncul pendapat-pendapat terutama yang kontra terhadap kebijakan moratorium logging, karena menghambat berbagai aktivitas yang menggunakan bahan baku kayu, seperti nelayan dan kerajinan yang menggunakan kayu.

            Pegiat lingkungan cenderung sepakat dengan kebijakan moratorium logging, tetapi persoalannya, banyak ditemukan kasus-kasus dalam implementasi moratorium logging yang tidak sesuai dengan visi dan cita-cita awal kebijakan ini.

            Misalnya, terkait penggunaan kayu oleh masyarakat dari kebun, tak luput menjadi sasaran operasi illegal, padahal dalam Instruksi Gubernur No.5 tahun 2007 pada instruksi kedua akan diatur mekanisme pemanfaatannya melalui mekanisme Izin Pemanfaatan Kayu Tanah Milik (IPKTM), tetapi tetap saja pemanfaatan kayu dari kebun ini menjadi persoalan hingga hari ini, satu tahun kebijakan moratorium logging diberlakukan.

            Selain itu ada persoalan yang cukup substansi, menyangkut investasi modal yang akan melakukan eksplorasi dan eksploitasi di wilayah Aceh, mulai dari investasi tambang, kehutanan, hingga infrastruktur. Persoalannya, apakah investasi tersebut juga akan mengikuti skema moratorium logging atau sebaliknya. Seharusnya, jika jenis investasi tertentu akan menggarap wilayah hutan, tetap saja harus mengikuti aturan kebijakan moratorium logging, agar tidak menimbulkan tumpang tindih status hutan dan lahan yang digarap.

            Satu tahun kebijakan moratorium logging menjadi momentum yang tepat untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap kebijakan tata kelola hutan Aceh, dengan memunculkan pertanyaan, satu tahun kebijakan moratorium logging, bagaimana kondisi hutan Aceh ?.

            Jika dianalisis lebih dalam akan banyak lagi muncul pertanyaan, terutama terkait dengan progress dan capaian pelaksanaan moratorium. Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi latar belakang diskusi publik ini dilakukan. Setidaknya, ada sebuah mekanisme sharing dan update kepada publik tentang kondisi hutan Aceh pasca satu tahun moratorium logging diberlakukan.   

             

           

III.     Tujuan

           

Tujuan diskusi publik "Satu Tahun Moratorium Logging, Bagaimana Kondisi Hutan Aceh." adalah adanya sharing dan update kepada publik terhadap kondisi hutan Aceh pasca satu tahun pemberlakuan moratorium logging, dan menghasilkan catatan kritis terhadap pelaksanaan moratorium logging sebagai masukan untuk Pemerintahan Aceh.           

IV.     Out-put

Output yang akan dihasilkan adalah pertukaran informasi terkini antara para pihak, baik yang terlibat langsung dalam implementasi kebijakan moratorium logging dan publik secara luas. Selain itu, diskusi publik ini akan menghasilkan kertas posisi atau catatan kritis terhadap satu tahun pelaksanaan moratorium logging yang akan disampaikan kepada Gubernur Pemerintahan Aceh. Serta mendorong lahirnya forum stakeholder hutan Aceh ditiap Kabupaten dalam mengambil inisiatif untuk merumuskan model pengelolaan dan pemanfaatan sektor kehutanan di Aceh.

V.      Proses

Untuk mencapai tujuan dan output dari diskusi publik ini akan dilakukan dalam dua proses, pertama, proses paparan oleh narasumber yang cukup representatif. Kedua, diskusi oleh peserta yang akan di pandu oleh moderator.

Untuk menghasilkan capaian diskusi yang bernas, serta menghasilkan ide-ide cerdas tentunya diperlukan narasumber yang tidak hanya memahami kebijakan moratorium logging, lebih dari itu diperlukan narasumber yang berhubungan dan bersentuhan langsung dengan aktivitas ini, untuk itu kami mencoba menghadirkan empat narasumber yang mempunyai background berbeda, yaitu:

# Bakti Siahaan –Ketua Tim Penyusun Rencana Strategis Pengelolaan Hutan Aceh.

Tim Tipereska akan mesharing dan update bagaimana status terkini penyusunan rencana strategis hutan Aceh, seperti yang dimandatkan dalam Instruksi Gubernur No.5 Tahun 2007 dan mandat yang diberikan Gubernur Pemerintahan Aceh kepada Tim Tipereska.

# Bambang Antariksa –Direktur Eksekutif WALHI Aceh.

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia adalah salah satu lembaga lingkungan hidup yang sejak tahun 2001, gencar mendesak dilakukan-nya moratorium logging di seluruh Indonesia, termasuk Aceh. WALHI menilai, untuk mencapai keadilan dalam pengelolaan sumberdaya alam, diperlukan penyusunan tata kelola baru, untuk memberi tempat bagi masyarakat yang termarginalkan, terutama oleh kebijakan yang pro-modal. Ketika moratorium logging diberlakukan oleh Pemerintahan Aceh, tentunya peran WALHI sebagai lembaga "Watch dog" terhadap kebijakan pemerintah, mempunyai catatan kritis terhadap pelaksanaan moratorium logging di Aceh dalam perspektif pengelolaan sumberdaya alam yang berkeadilan untuk rakyat Aceh.

# Muhammad Hamzah –Ketua Aliansi Jurnalistik Independen-Banda Aceh.

Pers merupakan pilar keempat dalam membangun demokrasi. Peran pers dalam menyajikan berita merupakan kunci dalam mencerdaskan masyarakat. "Untuk melihat tingkat kecerdasan masyarakat suatu bangsa, lihatlah kondisi dunia pers-nya." Statement ini tidak kosong, menggambarkan begitu pentingnya peran pers dalam membangun kecerdasan masyarakat melalui informasi yang diberikan. Satu tahun kebijakan moratorium logging, tentunya telah banyak pemberitaan menyangkut kebijakan ini, dan begitu banyak bingkai atau "Framming" yang digunakan untuk menggmbarkan kebijakan moratorium logging.

AJI Banda Aceh sebagai salah satu organisasi Pers tentunya mempunyai catatan kritis terhadap pelaksanaan moratorium logging di Aceh, terutama persoalan diseminasi informasi kebijakan moratorium logging dari narasumber (Pemerintah) kepada wartawan, dan wartawan kepada publik. Publik secara luas mendapatkan informasi dari apa yang ditulis oleh media. Benar kata media, benar kata publik, dan sebaliknya.

# M. Jakfar –Sekretaris Forum Sayeung Krueng Kalok (FORSAKA)  – Aceh Besar.

Dampak kebijakan moratorium logging secara langsung dirasakan oleh masyarakat, terutama yang berlokasi di sekitar hutan. Penting untuk mendengar langsung catatan dari gampong, menyoal implikasi pelaksanaan moratorium logging. Karena, dampak terbesar dari pelaksanaan kebijakan ini adalah masyarakat setempat. Pertanyaannya, bagaimana pelibatan masyarakat adat dalam pelaksanaan moratorium logging?, sejauh mana penyusunan tata kelola hutan Aceh mengakomodir kepentingan masyarakat Adat?. Bagaimana kemudian masyarakat yang tergabung dalam Forsaka mengorganisir dirinya sendiri untuk mempertahankan tutupan hutannya sebagai sumber mata air mereka.

VI.     Penutup

Term of Referenfec ini merupakan panduan diskusi publik "Satu Tahun Moratorium Logging, Bagaimana Kondisi Hutan Aceh?." Menggambarkan bagaimana ide-ide yang muncul direspon dan diformulakan dalam diskusi publik yang akan dilaksankaan 5 Juni 2008. Kehadiran rekan-rekan sekalian merupakan kontribusi besar bagi keberlangsungan hutan Aceh, jika kita sepakat, bahwa tanggungjawab pelestarian hutan ada pada kita bersama. 

 

 

=======================================
 
 
"Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian."
[Pramoedya Ananta Toer]

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

Re: [media-sumut] Turis Asing Sulit Masuk Sabang

Memang banyak sekali alasan Sumatera untuk merdeka. Emosi rasanya mendengar kabar seperti ini.


----- Original Message ----
From: mediacare <mediacare@cbn.net.id>
To: media aceh <media-aceh@yahoogroups.com>; media sumut <media-sumut@yahoogroups.com>; media sumatera <media-sumatera@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, May 25, 2008 7:52:08 PM
Subject: [media-sumut] Turis Asing Sulit Masuk Sabang

24/05/08 23:37

Turis Asing Sulit Masuk Sabang



Banda Aceh (ANTARA News) - Turis asing sulit masuk ke Sabang Pulau Weh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) karena tidak diberikannya visa perjalanan langsung ke Aceh oleh Kedutaan Besar Indonesia di London.


"Kami berharap adanya sinergis antara pemerintah pusat dan daerah karena visa itu penting untuk memajukan sektor pariwisata Sabang," kata Walikota Sabang Munawarliza Zainal saat bersilaturrahmi dengan wartawan di kantor Sekber jurnalis Aceh di Banda Aceh, Sabtu.


Padahal tahun kunjungan wisata Indonesia 2008 diharapkan sektor pariwisata Sabang menjadi andalan untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara, tapi menurut dia masih sulit diwujudkan karena gaungnya yang tidak sampai ke pulau tersebut.


Ia menyebutkan adanya keluhan sejumlah turis asing yang ingin langsung ke Sabang tapi sulit karena harus ke Jakarta atau Medan terlebih dahulu untuk mengurus visa perjalanan yang dinilai membutuhkan waktu lebih lama.


"Saya banyak menerima keluhan turis asing dari salah satu agen wisata Lumba-lumba Diving di Iboih Sabang bahwa sampai sekarang Kedubes Indonesia di London menolak memberi visa turis kepada mereka yang ingin masuk ke Aceh," katanya.


Lumba-lumba Diving yang mensponsori seorang penulis dari salah satu majalah diving terbesar di Inggris untuk mempromosikan dunia bawah laut Pulau Weh. Ia mendatangi Kedubes Indonesia di London namun menolak mengeluarkan visa langsung ke Aceh.


Ini merupakan publikasi yang kurang layak jika ia menulis dalam artikelnya bahwa orang yang ingin mengunjungi Aceh tidak bisa langsung dari London dan harus melalui daerah lain atau Jakarta.


"Seharusnya visa bisa langsung dapat diberikan bila dikaitkan dengan kunjungan wisata 2008. Karena kalau bisa dilaksanakan sektor pariwisata Sabang akan lebih maju, terlebih lagi saat ini Aceh sudah damai," kata Munawar.


Ia mengharapkan Sabang menjadi pusat wisata dan olahraga karena potensinya yang besar seperti kekayaan laut dan pantai yang indah. Untuk itu, kerjasama semua pihak perlu dibangun bagi kemajuan Sabang di masa mendatang, ujarnya.(*)


http://www.antara. co.id/arc/ 2008/5/24/ turis-asing- sulit-masuk- sabang/
 
 

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Turis Asing Sulit Masuk Sabang

24/05/08 23:37

Turis Asing Sulit Masuk Sabang



Banda Aceh (ANTARA News) - Turis asing sulit masuk ke Sabang Pulau Weh Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) karena tidak diberikannya visa perjalanan langsung ke Aceh oleh Kedutaan Besar Indonesia di London.


"Kami berharap adanya sinergis antara pemerintah pusat dan daerah karena visa itu penting untuk memajukan sektor pariwisata Sabang," kata Walikota Sabang Munawarliza Zainal saat bersilaturrahmi dengan wartawan di kantor Sekber jurnalis Aceh di Banda Aceh, Sabtu.


Padahal tahun kunjungan wisata Indonesia 2008 diharapkan sektor pariwisata Sabang menjadi andalan untuk menarik wisatawan lokal maupun mancanegara, tapi menurut dia masih sulit diwujudkan karena gaungnya yang tidak sampai ke pulau tersebut.


Ia menyebutkan adanya keluhan sejumlah turis asing yang ingin langsung ke Sabang tapi sulit karena harus ke Jakarta atau Medan terlebih dahulu untuk mengurus visa perjalanan yang dinilai membutuhkan waktu lebih lama.


"Saya banyak menerima keluhan turis asing dari salah satu agen wisata Lumba-lumba Diving di Iboih Sabang bahwa sampai sekarang Kedubes Indonesia di London menolak memberi visa turis kepada mereka yang ingin masuk ke Aceh," katanya.


Lumba-lumba Diving yang mensponsori seorang penulis dari salah satu majalah diving terbesar di Inggris untuk mempromosikan dunia bawah laut Pulau Weh. Ia mendatangi Kedubes Indonesia di London namun menolak mengeluarkan visa langsung ke Aceh.


Ini merupakan publikasi yang kurang layak jika ia menulis dalam artikelnya bahwa orang yang ingin mengunjungi Aceh tidak bisa langsung dari London dan harus melalui daerah lain atau Jakarta.


"Seharusnya visa bisa langsung dapat diberikan bila dikaitkan dengan kunjungan wisata 2008. Karena kalau bisa dilaksanakan sektor pariwisata Sabang akan lebih maju, terlebih lagi saat ini Aceh sudah damai," kata Munawar.


Ia mengharapkan Sabang menjadi pusat wisata dan olahraga karena potensinya yang besar seperti kekayaan laut dan pantai yang indah. Untuk itu, kerjasama semua pihak perlu dibangun bagi kemajuan Sabang di masa mendatang, ujarnya.(*)


http://www.antara.co.id/arc/2008/5/24/turis-asing-sulit-masuk-sabang/
 
 
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

21 May 2008

[media-sumut] Andai Yuni Shara punya buku harian

Andai Yuni Shara punya buku harian

 



aku menerima sepiring nasi tumpeng dari mbak memoria, manajer merek bango




koleksi foto lamaku dalam balutan kain batik




Andai pelantun tembang-tembang lawas Yuni Shara masih rajin mengisi buku harian, ia akan menuliskan sederet lembaran hidupnya sebagai berikut:

Sabtu, 10 Mei 2008, di Stadion Brawijaya Surabaya, Jawa Timur

Hari ini sungguh hari yang amat monumental. Kejadian ini tak pernah kuimpikan dalam tidurku. Orang bilang mimpi itu cuma kembang tidur belaka, tapi tidak buatku. Terkadang mimpi memberiku inspirasi dan menajamkan imajinasiku. Sayangnya, aku kok tidak pernah bermimpi menyantap aneka ragam hidangan nostalgik yang dulu di masa kecil dan remaja pernah aku nikmati.

Jauh-jauh terbang dari Jakarta ke Surabaya cuma buat makan, makan, dan makan sampai kekenyangan. Pasalnya aku mampir ke ajang Festival Jajanan Bango (FJB) 2008 sekaligus untuk merayakan ulang tahun Bango ke-80. Acaranya sungguh amat meriah dan dijubeli warga Surabaya yang amat ramah. Ada potong tumpeng, ada lepas balon aneka warna, ada aneka tarian tradisional, ada 80 petani kedelai hitam, ada Cak & Ning Suroboyo sing ganteng lan ayu, ada gerombolan KoBaMa (Komunitas Bango Mania), ada kerumunan wartawan, dan hmmm begitu banyak tenda-tenda yang menjajakan aneka ragam makanan tradisional khas Nusantara warisan nenek moyang kita yang begitu aikonik. Para penjaja pun aikonik pula. Sedihnya, Mas Henry Siahaan tersayang tak ada di sampingku...:((

Yah, hari ini aku diajak tim Bango Cita Rasa Nusantara (BCRN) ikutan syuting untuk episode spesial yang bakal tayang di Indosiar pada hari Sabtu, 24 Mei mendatang. Aku pun keliling stadion yang luas untuk mencicipi aneka jajanan kesukaanku, sedari pagi hingga siang. Tanpa malu-malu, kulahap makanan yang lezat dan nikmat itu. Ku tak peduli pada kerumunan masyarakat yang mengerubutiku. Saat rehat, ada yang minta tanda tangan, ada yang minta foto bareng, ada yang memegangi bajuku, bahkan ada yang mencubiti pipiku. Waduh, asal nyubitnya tidak kenceng-kenceng, no problem buatku.

Tak mau berpanjang-panjang, nah, ini dia aneka ragam kuliner Jawa Timur yang top markotop pilihanku: Nasi Udang Bu Rudy, Tahu Telor Cak Kahar, Rawon Setan Ibu Sup, Lontong Kikil Pak Said, Kupang Lontong Suko dan Sate Kerang Pak Slamet. Aku juga ikutan demo masak cara meracik Tahu Telor yang super spesial. Cak Kahar yang jago masak ikut mendampingiku.

______________________________


Tayangan ini dapat Anda saksikan hanya di INDOSIAR dalam program:


BANGO CITA RASA NUSANTARA - NOSTALGIA KULINER

Sabtu, 24 Mei 2008

mulai pukul 9.00 WIB

Lengkap dengan berbagai tips memasak dan kiat menikmati makanan tradisional, serta kuis dengan hadiah menarik.

Rp 500,000 untuk tiap pemenang

Kirimkan jawaban via SMS ke: 0813-85499995

Tuliskan jawaban, nama, dan alamat.


Bersama Bango, Mari Kita Lestarikan Warisan Kuliner Nusantara!

Sphere: Related Content
 
__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

19 May 2008

[media-sumut] PELUNCURAN NOVEL "LANANG" Karya Yonathan Rahardjo, Jumat 23 Mei 2008

UNDANGAN

 

 

Dengan Hormat,

 

Sastra Indonesia membutuhkan terobosan dan penyegaran yang terus-menerus. Sebab jika tidak, ia hanya akan berjalan di tempat dan segera ketinggalan zaman, kisut di tengah mekar-meriahnya sastra mancanegara.

 

Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta adalah sejumput rangsangan untuk penciptaan-penciptaan baru. Lanang karya Yonathan Rahardjo, pemenang Harapan II Sayembara Menulis Novel DKJ 2006 adalah salah satu hasilnya—di antara empat pemenang lainnya yang terbit lebih dulu. Dengan caranya sendiri Yonathan menjawab tantangan ini dengan menggarap tema yang jarang sekali disentuh oleh pengarang kita: rekayasa genetika.

 

Dengan pendekatan konspirasi global, karya yang diciptakan oleh seorang dokter hewan dan juga mengisahkan tentang dokter hewan ini juga mengusung isu sosial, psikologi, bioteknologi dan politik kesehatan.

 

Bekerjasama dengan penerbit Alvabet yang menerbitkan novel ini, Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta akan menggelar diskusi novel Lanang pada

 

Jumat, 23 Mei 2008,

14.30 WIB – 17.00

Galeri Cipta III  - Taman Ismail Marzuki.

Jl. Cikini Raya no 73, Jakarta Pusat

Pembicara:

Lisabona Rahman

Yusi Avianto Pareanom

Moderator

Gratiagusti Chanaya Rompas.

 

Untuk itu kami mengundang Bapak/ibu/sdr/i untuk berkenan hadir pada acara tersebut. Demikian undangan kami sampaikan, untuk informasi lebih dapat  menghubungi DKJ 021- 3162780 / 31937639/39899364 (Sdri.Shinta Tobing). Atas perhatian anda kami ucapkan terima kasih.

 
 
 
_________________________________________________________________________________________________
 
TENTANG NOVEL LANANG
Judul                          : LANANG
Penulis                       : Yonathan Rahardjo
Kategori serial            : AlvabetSastra
Editor                         : A. Fathoni
Cetakan                     : I, Mei 2008
Ukuran                      : 12,5 x 20 cm
Tebal                          : 440 halaman
ISBN                           : 978-979-3064-59-8
Harga                         : Rp. 55.000,- 

 

SINOPSIS

Doktor Dewi seorang antek korporasi asing. Berkepentingan memasok produk rekayasa genetika dari luar negeri, dia ciptakanlah hewan transgenik penyebar virus penyakit, Burung Babi Hutan. Sejak kemunculan makhluk aneh ini, area peternakan sapi perah tempat Lanang bekerja tiba-tiba terserang penyakit gaib. Ribuan sapi mati. Warga pun gempar.

Bersama pemerintah dan masyarakat, Lanang, dokter hewan yang cerdas, obsesif, dan melankolis, sibuk mencari tahu sebab kematian sapi perah. Seminar dan penelitian dilakukan, tapi penyakit misterius tak kunjung ketemu. Usaha ilmiah pun menemui jalan buntu. Lalu, mengemukalah isu dari seorang dukun hewan bahwa biang keladi kematian sapi adalah Burung Babi Hutan, makhluk jadi-jadian. Polemik mistikisme tradisional versus bioteknologi modern pun menambah ruwet persoalan. Akankah proyek Doktor Dewi berjalan mulus?

Ditulis dalam gaya thriller, plot cerita novel ini sungguh menegangkan. Karakter tokoh-tokohnya pun rumit dan penuh intrik. Dengan pendekatan konspirasi, karya ini menjadi bacaan kritis bagi yang tertarik pada isu-isu sosial, psikologi, bioteknologi, dan politik kesehatan.

 

 

***** 

KOMENTAR-KOMENTAR  TENTANG NOVEL LANANG 

"Membaca novel ini, saya segera merasakan kemiripannya dengan kesusastraan Eropa abad ke-20, misalnya novel Prancis Plague (Penyakit Pes) karya Albert Camus atau karya-karya Géza Csáth dalam kesusastraan Hungaria: kita harus menghadapi kehadiran simbolik, mistik, rasional, dan irasional secara bersamaan. Sebagai "pemula" dalam kesusastraan Indonesia, saya membandingkannya dengan Harimau–Harimau karya Mochtar Lubis. Musikalitas dan plastisitas deskripsi dalam novel ini luar biasa, seperti skenario film!"

Mihaly Illes, Duta Besar Hungaria untuk Indonesia 

 

 

 

"Yonathan seperti Taufiq Ismail yang juga dokter hewan, sama dengan Asrul Sani idem ditto dokter hewan. Ditarik lebih jauh ke masa lampau, Marah Rusli, pengarang roman Siti Nurbaya, pun dokter hewan. Saya pikir, tentu ada sesuatu yang "spesial" dengan dokter hewan. Bisa bersajak, bisa mengarang.

... Saya pikir, Yonathan ini wong edan, gendheng, gilo-gilo baso, sifat yang melahirkan kreativitas, orisinalitas. Kukirim sajakku padamu Yonathan. Bunyinya: Katakan beta/manatah batas/antara gila/dengan waras."

—Rosihan Anwar, Tabloid Cek & Ricek

 

"Kekuatan utama novel ini terletak pada wawasan baru yang mewarnainya.

Rumit tapi…. Sangat menarik."

—Ahmad Tohari, novelis 

 

"Novel yang kaya dan dalam, menampilkan berbagai wajah dan genre yang beberapa di antaranya belum dirambah pengarang Indonesia lain: sains, thriller, sosial, psikologi."

—Prof. Dr. Apsanti Djokosujatno, Guru Besar Sastra Universitas Indonesia

 

"Ada beberapa dokter hewan yang terjun dan bergelut di dunia sastra. Tetapi, agaknya, hanya (Dokter Hewan) Yonathan Rahardjo yang coba memperkaya sastra Indonesia dengan rekayasa genetika sebagai bagian dari pengucapan literernya melalui novel Lanang."

—Martin Aleida, wartawan Tempo 1971-1984

 

"Penyair yang dokter hewan ini dikenal dengan puisi-puisi kontekstual dan sosialnya. Kritik-kritiknya tajam, kendati dibalut dengan bahasa yang telanjang."

—Kompas

 

"Lanang adalah perpaduan mengejutkan antara eksperimen biologi mutakhir dengan alam spiritual tradisional. Kerumitan alur cerita, keterampilan bahasa, dan kompleksitas psikologi yang ditampilkannya adalah tawaran gelagat baru yang menakjubkan dalam denyut sastra Indonesia mutakhir."

Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan

 

"Jalinan cerita dan tokohnya memang buah imajinasi, tapi latar belakang teknologi dan konspirasi global yang menjadi setting ceritanya boleh jadi mendekati kenyataan. Gabungan fiksi dan kenyataan yang membuat masyarakat perlu berpikir ulang ihwal teknologi!"

—Hira Jhamtani, pengamat kehidupan, Gianyar, Bali

 

"Cara bercerita dalam novel Lanang memperkaya khazanah susastra Indonesia, sebuah cara penceritaan yang baru, rinci, telaten, merayap, namun arahnya pasti dan penuh kejutan.

Penceritaan hal-hal sensitif, yang menjadi kontroversi berbagai pihak dalam konteks sastra dan moralitas sastraIndonesia, mampu disampaikan secara terbuka dan terus terang namun tidak blak-blakan dan vulgar, dikemas dalam kata dan kalimat indah khas susastra, dengan tetap menjaga dan mempertahankan greget suasana dan makna.

Konflik kejiwaan dan karakter tokoh utama ditampilkan secara mendalam, menghadirkan konflik itu terasa nyata, dan memang sebetulnya mewakili kondisi kejiwaan dan spiritualitas manusia Indonesia pada umumnya dalam menghadapi masalah yang menyangkut kepentingan bangsa." —Ahmadun Yosi Herfanda, Redaktur Budaya Harian Republika

 

"Novel ini menggarap satu tema yang sangat menantang: rekayasa genetika. Sebuah tema yang memerlukan pengetahuan khusus dan kecakapan menulis yang lebih dari cukup. Dalam beberapa hal, sang pengarang telah memenuhinya. Selebihnya, biar sidang pembaca yang menilai."

—Zen Hae, penulis sastra, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta

 

"Yonathan Rahardjo, seorang dokter hewan lulusan Universitas Airlangga Surabaya, memilih berkecimpung di dunia tulis menulis ketimbang berpraktek sebagai dokter hewan....

Dari semua tulisan yang dibuatnya, Yonathan menyadari dirinya cenderung menyukai tulisan-tulisan yang mengungkap rasa, yaitu tulisan sastra, bukan berita ilmiah ataupun laporan, tapi bahasa indah yang di dalamnya ada prosa dan puisi, yang punya benang merah dengan apa yang ia lakukan waktu kecil."

—Bisnis Indonesia

 

"Novel (Dokter Hewan) Lanang mengangkat kisah kemanusiaan dokter hewan dan seluk-beluknya secara rinci, gamblang dan imajinatif dalam menyelidiki misteri kematian hewan dalam jumlah besar, yang memengaruhi hajat hidup masyarakat dan bangsa.

Jatuh bangunnya Drh. Lanang dalam menyelidiki kasus penyakit penyebab kematian hewan itu merupakan cermin apa yang sesungguhnya terjadi di bidang kedokteran hewan dan peternakan di tanah air, dengan menggunakan dasar ilmiah dan dikembangkan sebagai fiksi dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi.

Novel yang patut menjadi bacaan "wajib" bagi kalangan kedokteran hewan dan peternakan serta peminat seni sastra pada umumnya. Penyajiannya sangat inspiratif dan menjadi jembatan emas antara dunia ilmiah kedokteran hewan dan dunia kemanusiaan (humaniora)."

 —Prof. Drh. Charles Ranggatabbu, MSc, PhD,

pakar Kedokteran Hewan, Guru Besar dan

Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada Jogjakarta

 

"'Kita kembali pada karya sastra saja,' ujar Yonathan Rahardjo, salah satu pemenang sayembara novel Dewan Kesenian Jakarta. Karyanya adalah salah satu di antara pilihan juri yang mencengangkan publik sastra karena realisme hampir nampak dalam karya para pemenang ini." —Sihar Ramses Simatupang, Sinar Harapan

 

"Yonathan Rahardjo selama ini mencermati berbagai tema kehidupan, seperti kehidupan politik yang bobrok, porak porandanya lingkungan, dan berbagai kenyataan sosial lainnya. Semua itu dicurahkannya…."

—Warta Kota

 

"Sebuah roman yang akan membawa kita meruntuhkan blokade terhadap orang lain sebagai impersonalitas menuju sesuatu yang personal dengan menciptakan ruang intim. Orang lain hadir dengan berbagai "cara memahami" sebagai warisan budaya dalam menetapkan berbagai definisi berikut batas-batas kategori dan klasifikasi yang kaku. Roman ini mendobrak batas-batas itu dan menjadikan semua tokoh ceritanya sebagai cermin yang dalam untuk menjenguk diri kita sebagai manusia dengan kecemasan, harapan, rasa sakit, dan cinta."

—Wicaksono Adi, kritikus seni,

Juara I Lomba Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2004

*****

 

TENTANG PENGARANG

Yonathan Rahardjo lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, pada 17 Januari 1969. Semasa sekolah menulis di media siswa SMPN 1 dan SMAN 2 Bojonegoro. Semasa kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya juga menjadi Wartawan Koran Harian Memorandum, menulis di media kampus dan organisasi masyarakat, media massa nasional dan daerah, serta menjadi wartawan daerah majalah Infovet.

Terus menulis setelah menjadi dokter hewan dan pernah bekerja sebagai technical service Obat Hewan, medical representative Obat Manusia, dokter hewan panggil, aktivis LSM lingkungan, hingga hijrah ke Jakarta sejak 1999, dipercaya mengelola majalah Infovet sampai sekarang, pernah menjadi penanggung jawab teknis Obat Hewan, aktif baca puisi di beberapa kota, baca puisi sambil melukis (Syairupa), menjadi pembicara dan moderator diskusi kedokteran hewan dan sastra-seni-budaya.

Sejak 1983, tulisannya berupa karya jurnalistik, opini, sastra puisi dan cerpen secara kronologis dimuat di media koran, majalah, jurnal, buletin: Kartika, Tantular, Sema Pos, Memorandum, Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, Karya Darma, Swadesi, Jaya Baya, Warta Advent, Warta Konferens, Warta Bethany, Efod, Akrab Dengan Tuhan, Infovet, Putra Agung, Lahai Roi, Seloliman, Bumi, Berita Bumi, Kabar Bumi, Ozon, Satwa Kesayangan, Meja Budaya, Horison, Media Indonesia, Aksara, JakVet, Bina Desa, Jurnal Nasional, Signal, Warta Kota, Suara Pembaruan, Seputar Indonesia, Suara Karya, Majelis, Republika, Majemuk, Batam Pos dan Hidup.

Karyanya juga ada dalam buku bersama Setengah Abad Sejarah Ayam Ras Indonesia, Penyakit Unggas dan Pengendaliannya; antologi puisi Padang Bunga Telanjang; antologi puisi Bisikan Kata Teriakan Kota; antologi puisi Maha Duka Aceh; antologi puisi-cerpen-curhat-esai Tragedi Kemanusiaan 1965-2005; antologi puisi Nubuat Labirin Luka; dan antologi puisi Ode Kampung.

Buku tunggalnya: Avian Influenza, Pencegahan dan Pengendaliannya (2004); kumpulan puisi Jawaban Kekacauan (2004); dan novel Lanang (2008), peraih Penghargaan Sastra sebagai salah satu Pemenang Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006.

 

KETERANGAN PENDUKUNG:

www.novelanang.co.cc

www.alvabet.co.id

 

PENERBIT ALVABET

Ciputat Mas Plaza Blok B/AD

Jl.Ir. H.Juanda No.5A, Ciputat

Jakarta Selatan

Telp.7494032, 74704875

 

 

 


__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___