30 May 2008

[media-sumut] Bahan Pangan Lokal Terabaikan

Bahan Pangan Lokal Terabaikan
Jumat, 30 Mei 2008 | 20:21 WIB


MEDAN, JUMAT
- Bahan pangan alternatif berbasis lokal banyak terabaikan sebagai produk pangan berpotensi. Padahal bahan pangan alternatif bisa dipakai mengganti bahan pangan utama yang selama ini dikonsumsi masyarakat.  

Salah satu produk lokal Sumut yang berpotensi adalah pisang barangan. "Sejak lama pisang ini sudah berkembang baik di Sumut, " kata Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Katolik (Unika) Santo Thomas, Medan Posman Sibuea, Jumat (30/5) dalam acara peluncuran Program Bantuan Dana Penelitian Pangan Bagi Kalangan Akademisi 2008.

Posman menjelaskan, selain pisang barangan ada ubi jalar yang bisa dikembangkan untuk menggantikan bahan pangan utama. "Sayangnya, bahan pangan itu hanya diolah seadanya, minim inovasi. Padahal pengembangan ini berpotensi mengurangi konsumsi beras dan terigu masyarakat yang tinggi," katanya.

Penggantian bahan baku utama, tuturnya, bisa terwujud jika ada keberpihakan pemerintah. Pemerintah Provinsi Sumut mestinya mengembangkan pisang ini sebagai sumber pangan alternatif yang strategis. Dia menuturkan produk olahan pisang barangan bisa dipakai sebagai bahan campuran roti dan puding.  

"Olahan ini mudah dikonsumsi untuk sarapan pagi," katanya. Posman mengatakan pisang barangan baik untuk kesehatan karena merupakan sumber karbohidrat, vitamin antioksidan dan mineral. Pisang ini bisa berbuah 105 sampai 109 per tandan. Daerah penghasil pisang di Sumut di antaranya Kabupaten Karo dan Deli Serdang.  

Manajer Komunikasi PT PT Indofood Sukses Makmur (ISM) Tbk Roland Taunay mengatakan mengubah kebiasaan pola konsumsi pangan masyarakat perlu waktu panjang. Hal ini menyangkut dengan budaya dan pencitraan yang ada di masyarakat. "Bisa muncul anggapan jika tidak makan nasi maka kelas sosialnya akan turun," katanya.

Untuk mengembangkan bahan pangan alternatif, PT ISM membantu pendanaan penelitian kepada peneliti dan mahasiswa. Setiap tahun PT ISM menyediakan dana Rp 1 miliar untuk penelitian bahan pangan alternatif. "Namun dana yang kami sediakan selalu saja berlebih. Tidak banyak penelitian yang serius mencari bahan pangan," tuturnya.

Bahan pangan alternatif yang dimaksud antara lain gandum, jagung, ubi jalar, pisang, singkong, kelapa sawit, kedelai, kentang, sagu, dan garut. Menurut dia, pengembangan bahan alternatif ini penting untuk menghindari ketergantungan pada beras. "Semakin lama produksi beras semakin menurun, lahannya semakin menyempit," katanya.(NDY)     

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/05/30/20215253/bahan.pangan.lokal.terabaikan

 

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: