10 June 2008

[media-sumut] Siaran Pers: Unilever Hadirkan Program CSR Baru Bertajuk "Markas Petualangan Taro"

Siaran Pers - Dapat Disiarkan Segera

 

Unilever Hadirkan Program CSR Baru Bertajuk

"Markas Petualangan Taro"

Aktivitas ini merupakan langkah lebih lanjut dari program Jakarta Green & Clean untuk menggerakkan komunitas guna membentuk karakter anak yang mandiri, peduli dan kreatif melalui aktivitas petualangan

Jakarta, 10 Juni 2008 – Menyusul kesuksesan Jakarta Green & Clean (JGC), PT. Unilever Indonesia, Tbk melalui merek camilan andalannya, Taro, meluncurkan program Corporate Social Responsibility (CSR) baru bertajuk Markas Petualangan Taro (MPT). Program kepedulian pada anak-anak ini mulai dijalankan oleh masyarakat pada April 2008 lalu. MPT diciptakan dengan tujuan untuk membentuk karakter anak yang mandiri, peduli dan kreatif melalui aktivitas petualangan dengan memanfaatkan lahan di sekitar tempat tinggal.

 

"Kampanye Markas Petualangan Taro kami yakini akan memberikan manfaat bagi masa depan anak-anak kita, karena masa depan bangsa ini terletak di tangan mereka," tutur Adeline Ausy Setiawan selaku Marketing Manager Modern Snacks & Beverages PT. Unilever Indonesia, Tbk. "Kami menyadari, untuk mewujudkan misi sosial ini kami tidak dapat melakukannya sendiri, maka kami menggandeng JGC yang telah sukses dengan program pemberdayaan masyarakat untuk lebih peduli mencintai lingkungan. Dan untuk mengimplementasikannya kami bermitra dengan Masyarakat, PKK, psikolog dari Propotenzia dan Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk saling bahu-membahu demi mewujudkan karakter anak yang unggul," jelas Ausy.  "Pada tahap awal MPT berlangsung di 25 RW (Rukun Warga) yang tersebar di DKI Jakarta, dengan masing-masing wilayah Kotamadya dipilih lima titik. Ke-25 titik ini merupakan proyek awal," tambahnya.

Psikolog anak Lina E. Muksin, M.Psi berpendapat, "Setiap anak memiliki jiwa petualang, anak usia Sekolah Dasar mulai mengenal lingkungan di luar rumah sebagai aktivitas petualanganya. Sayangnya, di kota-kota besar pada umumnya kurang ramah terhadap anak, dimana amat minim lahan bermain. Tak heran banyak anak bermain di ruang terbuka yang bukan difungsikan sebagai lahan bermain yaitu jalanan. Jika kondisi ini tidak diakomodir dengan baik akan menjerumuskan anak untuk menyerap secara langsung yang ada di lingkungannya."

 

General Manager Yayasan Unilever Peduli, Sinta Kaniawati, memaparkan bahwa MPT merupakan anak program JGC – MPT terlahir dari program JGC yang secara holistik mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk peduli terhadap lingkungannya, tetapi juga mengajak masyarakat untuk peduli tehadap perkembangan anak dilingkungannya. Berdasarkan pengamatan tim JGC, pihaknya melihat area JGC masih kekurangan sarana untuk bermain anak, padahal lingkungan tersebut sebenarnya bisa memanfaatkan lahan yang tersedia sebagai sarana anak untuk berpetualang. Oleh karena itu pihaknya menggandeng Taro untuk menggarap program sosial kemasyarakatan yang dapat mengeliminir masalah kurangnya lahan bermain buat anak-anak."  

.

Program MPT dikemas dengan misi agar semua anak tetap bisa tumbuh sesuai dengan kebutuhan usianya sehingga mereka berkembang dengan masa kanak-kanak yang lebih menyenangkan dan bermakna. Menurut Brand Manager Taro Amalia Sarah Santi, "MPT mengajak masyarakat luas untuk berperan serta menjadi sahabat bermain dan pelindung, dimana mereka bisa mendapatkan dukungan dan membangun harapan bersama."

 

Berdasarkan riset yang dilakukan di area MPT oleh Propotenzia hubungan antara orang tua dan anak kurang berjalan maksimal, ini dikarenakan 83% orang tua cenderung mengalami stres. Oleh karena itu peran orang  kurang efektif dalam mengasuh anak. Sehingga anak cenderung kurang optimal dalam perkembangan psikososialnya yaitu penggambaran citra diri yang negatif, kurang dapat mengendalikan emosi, kurang harmonis dengan orang tua, tidak dapat bersosialisasi.

  

Sarah melanjutkan, "MPT juga ditujukan untuk lebih mempererat hubungan antara anak dan ibunya melalui aktifitas petualangan yang digelar secara berkala di lingkungan masing-masing. Melalui program MPT, anak dapat kembali bebas bermain, termasuk mengenal lingkungannya di tengah kurangnya lahan bermain. Sebagai contoh lapangan badminton yang biasanya dipakai orang dewasa setiap Sabtu atau Minggu dapat digunakan menjadi ajang bermain anak-anak peserta program MPT. Melalui aktivitas petualangan yang dilakukan secara rutin selama 2 jam per minggu, anak-anak mendapat kesempatan untuk melatih dan mengembangkan kompetensi, berinteraksi dengan teman sebaya, terlibat dalam kerjasama tim, kreatif memecahkan masalah, menumbuhkan kepedulian dan mengembangkan inisiatif, mengontrol emosi serta mengevaluasi diri. Program ini juga sebagai sarana memberdayakan para Ibu untuk turut serta mendidik anak, serta mampu membuat anak memiliki haknya kembali untuk bermain."

Beberapa contoh permainan dalam MPT adalah "Peta RT-ku", "Ranjau Darat", "Sekolah Batu", "Para Semut Petualang", "Sahabat Taro Peduli" dan "Keluargaku Teman Petualanganku".  

"Kami mengharapkan peran aktif masyarakat dalam menanamkan kepedulian akan pentingnya membentuk karakter anak melalui aktivitas petualangan di lahan sekitar. MPT yang dikembangkan dan dimiliki masyarakat kami harapkan akan bermanfaat, berkelanjutan dan optimal," Sarah menambahkan. 

Program MPT versus fenomena anak jalanan

 

Kurangnya lahan bermain dapat menjadi salah satu pemicu kenaikan anak jalanan. Psikolog anak Lina E. Muksin, M.Psi mengatakan anak di usia sekolah sangat suka berpetualang. Hanya saja, rumah dan benda-benda di dalamnya bukan lagi area petualangan yang menarik bagi anak. Mereka ingin sesuatu yang baru sehingga lingkungan di luar rumah menjadi tujuan mereka berpetualang. Pengaruh lingkungan dapat diserap langsung oleh anak sehingga berakibat buruk, seperti anak usia dini yang mulai merokok, tingginya angka anak jalanan, serta hal-hal negatif lainnya. Sebagai contoh kondisi di kota Jakarta sebagai ibu kota negara yang masih memprihatinkan, dimana ruang ruang terbuka bebas terus berkurang. Di Jakarta,  ruang terbuka hijau pada 2002 hanya tersisa 5.059 Ha ( 9 % ) dari luas DKI sebesar 66.152 Ha.

Berikut data dari BPS menyangkut Fenomena Anak Jalanan di DKI Jakarta Trimester I, II, III & IV 2001 sebagai rujukan:

http://www.bps.go.id/papers/Papers_and_Analysis/Fenomena_Anak_Jalanan_DKI_Jakarta/

 

 

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: