22 July 2008

Re: [media-sumut] Re: [bango-mania] Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel

Mak Paenah Love Foreverrr
 
Salam,
Dedy Sinuhaji
Medan, North Sumatera
www.sinuhajimage.com


----- Original Message ----
From: juli simanjuntak <juliyantika@yahoo.co.id>
To: media-sumut@yahoogroups.com
Cc: wartawan indonesia <wartawanindonesia@yahoogroups.com>; ppiindia@yahoogroups.com; orangmedia@yahoogroups.com; bizzcomm@yahoogroups.com; bango-mania@yahoogroups.com; media sumut <media-sumut@yahoogroups.com>
Sent: Monday, July 21, 2008 10:49:00 AM
Subject: Re: [media-sumut] Re: [bango-mania] Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel

 
Kalo ngomongin mak paenah,memang gak ada habisnya.Kita kagum dengan kebaikannya. Tapi,kalo dengar dan liat sisi lain kehidupannya bersama ketiga anaknya dan sejumlah cucunya,mungkin akan ada rasa kesal dan miris,dan ini yang aku rasakan.
Waktu mak paenah jadi pengisi kalender Kompas 2004,mak paenah dapat uang terima kasih 4 juta.Tapi,tiga hari setelah uang itu ia terima,dengan wajah pucat ia mencari aku di DPRD.Katanya ia mau ngembaliin uang itu.Sang anak dan cucu menakut-nakutin emak dengan bilang akan dipenjara jika uang itu tetap disimpan dengan alasan dituduh sebagai antek-antek PKI.Kisah kelam di tahun 65 yang memisahkan ia dari sang suami kedua membuat ia trauma .Ujung-ujungnya, setelah tahu kalo uang itu "aman",sang generasi penerus emak dengan tidak tahu malu menerima bagian.Dan mak paenah sebagai sang model,hanya mengambil sedikit saja.Padahal, kalo emak mau,uang itu harusnya bisa disimpan untuk biaya hidup ketika ia tak bisa jualan karena sakit.
Ketergantungan anak dan cucu dalam segi materi masih terlihat ketika emak lagi-lagi mencari aku ke DPRD untuk memintaku datang ke rumahnya agar ngasih penjelasan ke anak dan cucunya kalo penampilannya di Trans TV tidak menghasilkan duit seperti ketika di Kompas.
Emak memang perempuan tua yang tangguh dan berusaha tidak menggantungkan hidup kepada ketiga anaknya.Ia rela tinggal di gubuk tua di pinggiran sungai Deli,padahal ia punya tiga rumah di kawasan Tanjung Gusta.Kecerewetan dikhawatirkannya menjadi alasan ketidakcocokan dengan menantu.
Keengganannya menggantungkan hidup ke keluarga dekatnya juga tetap ia pegang teguh walau ia sakit.Ia tetap tidak mau mengganggu keluarganya dengan tetek bengek biaya perobatan atau sekedar meluangkan waktu untuk mengantarnya ke dukun kampung.Tetangga dan wartawan yang sudah dianggapnya anak lah yang menjadi tumpuan.
Dan pertengkaranku dengan emak selalu dikarenakan hal ini.
Kabar terakhir aku dengar dari Mak Paenah sekitar 2 tahun lalu,waktu itu ia dikabarkan sakit.Sayangnya, aku gak bisa meluangkan waktu untuk datang menjenguk,dan hingga saat ini mak paenah gak pernah terlihat lagi.
 
Mak Paenah : sahabat semua wartawan dan Pendemo
 
salam,
julie simanjuntak
_____ Original message _____
Subject: [media-sumut] Re: [bango-mania] Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel
Author: andi lubis <andikurniawan@ yahoo.com>
Date: 20th July 2008 4:55:6
 
Kisah teladan yang asik. Ini saya attach foto Mak Paenah. Beliau adalah sahabat saya.


salam,
andi lubis
www.andilubis. multiply. com

--- On Sun, 7/20/08, mediacare <mediacare@cbn. net.id> wrote:

From: mediacare <mediacare@cbn. net.id>
Subject: [bango-mania] Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel
To: "media sumut" <media-sumut@ yahoogroups. com>, bango-mania@ yahoogroups. com, bizzcomm@yahoogroup s.com, orangmedia@yahoogro ups.com, ppiindia@yahoogroup s.com, "wartawan indonesia" <wartawanindonesia@ yahoogroups. com>
Date: Sunday, July 20, 2008, 2:34 AM






Etos Kerja dalam Sepincuk Nasi Pecel

Untuk apakah kita hidup?
Tanyakanlah ini kepada Mak Paenah yang tiap hari berjualan pecel di depan Gedung DPRD Sumatera Utara (Sumut) di Medan. Dalam usianya yang–menurut pengakuannya– 86 tahun, Mak Paenah masih setia mendorong-dorong kereta pecelnya demi mengumpulkan rupiah selembar demi selembar dari Rp 1.500 per pincuk (piring dari daun pisang) pecel jualannya itu.
Gerobaknya cukup berat dengan dua roda becak yang sering kempis anginnya. Sebuah topi bambu lebar
menemani tubuh ringkihnya menempuh jarak sekitar lima kilometer dari rumah cucunya di kawasan Glugur ke Gedung DPRD Sumut di Jalan Imam Bonjol melewati jalanan aspal yang terik dan ramai.
Pernah suatu hari Mak Paenah tidak kunjung muncul pada jam makan siang, dan baru datang berjualan saat matahari sudah sangat condong ke Barat.
"Aku diserempet mobil. Iki lho awakku babak bundas (lihat tubuhku babak belur)," katanya dalam ujaran yang selalu tercampur dengan bahasa Jawa kasar.
Setiap hari, biasanya sekitar pukul 11.00, ia sudah tiba menggelar dagangannya. Dan, beberapa jam
kemuadian, ia pulang lagi dengan kereta dorongnya yang sudah kosong dan segepok uang di dalam tas pinggang yang terbuat dari kain batik lusuh.
Soal berapa banyak uang dalam tas pinggangnya itu, Mak Paenah sering tidak tahu.Ia memang tidak peduli dapat uang berapa hari itu. Bahkan, sering ada beberapa lembar ribuan tercecer di bawah kakinya, yang selalu diambilkan orang lain. Yang ia tahu pasti, ia tidaklah pernah rugi.
"Bathi kuwi ora usah okeh-okeh, Serakah jenenge…(kalau untung itu jangan besar-besar. Serakah namanya..)," katanya pelan. Tidak serakah ini pula yang membuat Mak Paenah cenderung royal dalam memberi nasi pecel saat dagangannya hampir habis. Kata orang, kalau beli di Mak Paenah, sebaiknya menjelang ia mau pulang. Pasti dapat pecel lebih banyak.
Dengan keyakinan pasti tidak rugi itu pula, sering Mak Paenah membelikan rokok untuk orang lain yang tampak memerlukannya. Andi Lubis, fotografer harian Analisa, Medan, yang perokok berat, beberapa kali diberi rokok oleh Mak Paenah kalau tampak sedang bengong dan tidak merokok.
"Nyoh rokok. Kowe lagi ra nduwe duwit tho? (ini rokok kamu sedang tidak punya uang yaa?)" kata Mak Paenah tanpa basa-basi.
Bagi Mak Paenah, apa salahnya menyisihkan uang untuk menyenangkan orang lain. Tidak jarang ia berikan pecelnya secara gratis kalau ada yang lapar, tapi tak punya uang.
Jadi, untuk apa Mak Paenah berjualan dalam usianya yang sudah sangat senja itu? Di kota-kota besar, orang-orang yang jauh lebih muda darinya sudah santai-santai di rumah menikmati uang pensiun bersama cucu-cucu.
"Aku bekerja karena memang manusia itu harus bekerja. Aku sakit kalau nganggur. Menganggur adalah bersahabat dengan setan. Kerja selalu ada kalau kita mau mencarinya. Jangan mau menganggur, sampai kita mati," katanya seakan ahli filsafat.
Banyak yang meragukan apakah benar Mak Paenah telah berusia 86 tahun. Tapi, mendengar beberapa cerita yang sering diuangkapkannya sambil meracik pecel, apalagi mengamati wajahnya yang selalu teduh itu, kita yakin bahwa setidaknya ia sudah berusia di atas 80 tahun. Ia pernah bercerita bagaimana suaminya yang tentara terbunuh dalam perang kemerdekaan, sementara saat itu anak sulungnya berusia kira-kira belasan tahun.
Begitu suami meninggal, rasa tanggungjawab untuk menghidupi ketiga anaknya memaksa Mak Paenah yang lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur, ini berjualan pecel. Baginya, tidak ada cerita untuk meminta belas kasihan dari orang lain.
"Aku hanya bisa bikin pecel. Jadi, aku mencari makan dengan pecel ini.Sudah puluhan tahun tanganku bikin sambel pecel. Sampai kapalan mengulek he..he..," kata Mak Paenah sambil memamerkan mulutnya yang sudah ompong.
Mengapa tidak menikah lagi setelah menjanda waktu itu?
"Sopo sing gelem karo rondo bakul pecel…lethek. .he..he.. he..(siapa yang mau dengan janda penjual pecel yang lusuh dan bau)," katanya terkekeh.
Tapi, setelah anak-anaknya bisa mandiri, untuk apa uangnya?
"Keuntungan penjualan, tiap hari saya simpan di bawah bantal. Uang itu saya pakai untuk menolong orang kalau ada yang membutuhkannya. Siapa tahun, kan?" katanya dengan arif.
Mak Paenah menceritakan, ia pernah menolong tetangganya yang mendadak membutuhkan uang. Tetangganya itu tidak menyangka ketika tiba-tiba Mak Paenah yang hanya berjualan pecel itu mampu meminjaminya uang dalam jumlah cukup besar, tanpa bunga pula.
Setiap pagi, Mak Paenah mengambil Rp 15.000 dari simpanannya untuk berbelanja di Pasar Glugur. Pukul 04.00, ia sudah bangun dan pada pukul 06.00 ia sudah mulai memasak bumbu-bumbu pecel dan juga sayurannya.
"Bangun pagi membuat saya sehat. Tiap hari berbelanja dan menawar juga membuat saya tidak pikun," paparnya.
Dalam usianya itu, Mak Paenah sering membuat kagum orang dengan kemampuannya mengitung dengan cepat.
"Meja ini habis sembilan pincuk. Jadi, tiga belas ribu lima ratus," katanya suatu kali saat menagih kepada para wartawan yang makan.
Pada bulan Juni dan Juli 2002, para wartawan Medan yang biasa mangkal di depan Gedung DPRD kehilangan Mak Paenah. Dua bulan lebih waita tua itu menghilang. Banyak yang kuatir kalau-kalau Mak Paenah sakit, atau bahkan sudah meninggal dunia. Dan, Mak Paenah baru muncul lagi pada akhir Juli.
Ternyata, Mak Paenah pulang ke Blitar menengok sanak saudaranya. Menurut dia, semua yang dikenalinya sudah meninggal.
"Uangku habis Rp 3,5 juta untuk beli oleh-oleh. Tapi, aku senang bisa melihat Blitar lagi. Sudah sangat berubah. Aku sama sekali sudah tidak bisa mengenali tempat mana pun di sana," katanya dengan mata berbinar-binar saat membicarakan kota yang ditinggalkannya pada awal tahun 1940-an ini.
Ketika diingatkan bahwa para wartawan kuatir dengan kepergiannya selama dua bulan itu, Mak Paenah justru marah.
"Kamu yang muda-muda kok tidak punya perasaan. Kan, semua tahu di mana rumahku. Kalau kuatir, ya mbok menengok ke rumah. Coba, bagaimana kalau saya sakit betulan? Ya, kan?" kata Mak Paenah.
Namun, sejak awal Agustus ini, Mak Paenah menghilang kembali. Setelah ditengok ke rumahnya, ternyata ia tidak kurang suatu apa.
"Aku pindah tempat jualan. Aku ngalah pada yang muda yang lebih perlu uang," katanya yang kemudian menimbulkan tanda tanya.
Ternyata, Mak Paenah kini memilih berjualan di Lapangan Merdeka. Menurut dia, di depan Gedung DPRD itu sudah muncul seorang saingan. Seorang penjual pecel yang masih muda dilihatnya selalu berusaha menyainginya dalam merebut hati pembeli.
"Aku tidak ingin bersaing. Rezeki sudah ada yang mengatur. Biarlah aku yang sudah tua ini pindah," katanya tanpa emosi.
Kompas - Jumat, 16 Agustus 2002
















__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: