21 September 2008

[media-sumut] Mantan wartawan Kontan alih profesi jadi detektif swasta

From: Winuranto Adhi <winuranto@gmail. com>
Subject: [ajisaja] Mantan Aktivis yang Tekuni Bisnis Detektif Swasta (Ulin)
Date: Tuesday, September 16, 2008, 1:12 AM

Jawa Pos, Minggu, 14 Sept 2008,
Mantan Aktivis yang Tekuni Bisnis Detektif Swasta

Punya Klien Ibu-Ibu sampai Kandidat Pilkada

Sekelompok mantan aktivis merintis jasa penyelidik swasta dan
manajemen risiko yang belum banyak digeluti di Indonesia. Ladang
garapnya sangat variatif. Mulai merekam jejak calon pejabat, rival
politik, calon investor, hingga mencari bukti perselingkuhan.

RIDLWAN HABIB, Jakarta

MALAM belum larut benar. Dari perangkat sound system sebuah kafe di
kompleks pertokoan Sarinah, Jakarta Pusat, mengalun lagu Apologize
milik OneRepublik. Beberapa wanita muda asyik bercanda di dekat bar
yang bercorak futuristik. Seorang lelaki berkacamata duduk di sudut
dekat pintu. Dua unit telepon genggam tergeletak di meja. Dia memesan
es teh dan kopi sekaligus.

"Kamu mau minum apa?" ujarnya ramah saat Jawa Pos datang. Nama
lengkapnya Ulin Niam Yusron. Namun, oleh para karibnya, dia sering
dipanggil Ulin. Perawakannya sedang, tak terlalu kekar tak terlalu
kurus. Rambutnya dicukur nyaris gundul.

Malam itu alumnus Fakultas Pertanian Universitas Negeri Sebelas Maret,
Solo, itu sedang "bekerja". Maklum, meski punya kantor, Ulin bukan
orang kantoran. Waktu kerjanya tak pasti seperti pegawai pada umunya.
Dia berprofesi sebagai penyelidik swasta. "Sekarang ini kami sedang
menangani order kredit macet sebuah bank dan menelusuri rekam jejak
calon pejabat badan pemerintah," katanya.

Sebuah badan pemerintah, kata Ulin, hendak merekrut pegawai baru
setingkat eselon II. "Mereka ingin kami meneliti calon-calonnya,
apakah ada cacat jabatan di posisi sebelumnya. Termasuk apakah ada
indikasi korupsi atau ada masalah rumah tangga," kata Ulin.

Untuk penanganan kredit macet, klien Ulin adalah sebuah bank
pemerintah. Ada debitor yang gagal melunasi utang. Alasannya,
aset-aset perusahaan tidak cukup untuk membayar. "Karena itu, kami
diminta untuk menelusuri aset, istilahnya asset tracing. Kami mencari
data yang bisa menjadi dasar yang kuat bagi pihak bank untuk menagih,"
katanya.

Bisnis tersebut baru digeluti Ulin setahun. Sebelumnya, aktivis yang
pernah memimpin demonstrasi besar-besaran di Solo pada 20 Mei 1998 itu
bekerja sebagai jurnalis. Dia tujuh tahun menjadi redaktur sebuah
media ekonomi bisnis. Ulin juga sempat menjadi ketua Aliansi Jurnalis
Independen Jakarta pada 2004-2006.

"Awalnya saat aku ketemu dengan Alex (Edwin Alexander) dan Moti (Haris
Rusly Moti). Kami berpikir bersama-sama mendirikan bisnis yang belum
banyak pemainnya di Indonesia," katanya.

Haris Rusly Moti juga punya background aktivis. Alumnus UGM itu bahkan
sempat menjadi pengurus Partai Rakyat Demokratik (PRD) di awal-awal
reformasi. Sebelum bersama Ulin mengelola bisnis, Haris sudah menjadi
konsultan independen banyak tokoh politik, pejabat negara, dan
pengusaha.

Edwin Alexander juga seorang aktivis LSM. Dia pernah memimpin Lembaga
Pemajuan Budaya yang di periode akhir Orde Baru menjadi incaran intel
pemerintah. Alex punya pengalaman di bidang business intelligence
karena pernah bekerja di Consolidated Service International dan
mengikuti pendidikan competitive intelligence di Kuala Lumpur,
Malaysia.

Bertiga mereka lalu mendirikan Aviyasa Consulting. "Nama itu dari
Begawan Abiyoso. Filosofinya, dia itu menjadi konsultan Pandawa, tapi
juga dekat dengan Kurawa. Jadi, tak hanya melayani orang baik, dengan
orang jahat juga akrab," kata Ulin, lalu tertawa.

Di Indonesia, perusahaan yang khusus melayani jasa tersebut masih
sedikit. Bahkan, kata Ulin, bisa dihitung dengan jari tangan.
"Rata-rata perusahaan asing yang berbasis di Singapura dan Hongkong.
Backing mereka eks-CIA (Dinas Rahasia Amerika) atau eks tentara
Singapura," katanya.

Sebelum berbendera Aviyasa, secara individual mereka sering dimintai
bantuan oleh perusahaan asing serupa itu. "Akhirnya kami pikir,
mengapa tidak mendirikan sendiri. Daripada hanya menangani
outsourcing, biaya bisa kita potong. Lebih murah," katanya.

Pelan, tapi pasti, Aviyasa menggeliat. Kantornya yang berada di
kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, sekilas mirip bangunan biasa.
Mereka punya 15 staf tetap. "Tapi, yang diketahui publik cukup kami
bertiga saja," katanya. Di Aviyasa, Ulin menjabat direktur urusan
relation management, Haris sebagai direktur utama, dan Alex sebagai
direktur riset dan operasional.

Mereka menangani berbagai kasus. "Order pertamaku mengecek alamat di
Bandung. Aku dibayar USD 90, ongkos habis Rp 180 ribu. Jadi, untung
cuma sekitar Rp 600 ribuan. Tapi, itu pelaris," katanya.

Aviyasa mematok bayaran dalam kurs dolar. Harganya sangat bergantung
kepada beban kerja, tingkat kesulitan, dan risiko yang harus diambil.
"Ada yang cuma USD 150, 400, 4.000, bahkan ada yang USD 10.000. Ya
bergantung besar kecilnya lingkup pekerjaan," katanya.

Jika kasusnya cukup sulit, Ulin akan menurunkan beberapa tim. Satu tim
bisa dua sampai empat orang. "Kami punya orang-orang yang disebut
akses di seluruh Indonesia. Mereka ini yang membantu kerja. Jika tak
mampu, baru kirim orang dengan tambahan biaya dibebankan ke klien,"
katanya.

Sebagian besar akses itu adalah teman-teman mereka saat menjadi
aktivis dan wartawan dulu. "Kami tak melibatkan tentara dan bukan
polisi," tambahnya.

Untuk menangani order due diligence (uji tuntas), biasanya ditangani
tiga orang. "Due diligence itu, misalnya, ada orang yang mau bekerja
sama dalam bisnis. Mereka butuh tahu calon partner-nya seperti apa,
afiliasi politiknya ke mana, dan uangnya akan aman atau tidak,"
katanya.

Persaingan bisnis yang makin ketat di Indonesia membuat Aviyasa laris.
"Kami pernah diminta untuk menangani kasus persaingan perusahaan
farmasi dan air mineral. Dua bisnis ini keras dan main kayu," katanya
sambil mengadu dua kepalan tangan.

Dia mencontohkan, petugas quality control sebuah perusahaan air minum
yang gajinya hanya Rp 3 juta. Padahal, tanggung jawabnya besar. "Kalau
ada kompetitor yang bayar dia Rp 15 juta untuk menaruh mikroba atau
lumut, dampaknya bagi perusahaan itu sangat besar," katanya.

Dalam kasus semacam itu, tugas Aviyasa biasanya menelisik apakah ada
orang dalam yang sudah "dibeli" pihak lain. Siapa yang menungganggi
dan menggerakkan. "Penyelesaiannya terserah klien," ujarnya.

Selain itu, mereka bergerak di bidang intellectual property rights
(perlindungan hak cipta). Misalnya, saat menyelidiki penggunaan merek
ban tanpa izin. "Kami menyamar sebagai pembeli dalam jumlah besar,"
tuturnya.

Mereka juga pernah membantu pemerintah sebuah daerah yang kaya hutan
untuk memetakan cukong-cukong kayu. "Karena urusannya dengan mafia,
tampilan kami juga harus seperti mereka. Pokoknya mimikri. Kadang
macak kere seperti pemungut sampah, tapi juga harus bisa tampil
perlente," katanya.

Jasa mereka juga sering digunakan istri-istri pejabat. Untuk klien
golongan itu, rata-rata misinya sama. Diminta untuk membuktikan sang
suami berselingkuh. "Mereka bilang, 'tolongin, Mas', tapi uangnya tak
seberapa. Ya, kami anggap untuk job ini kerja sosial saja," katanya.
Keuntungan order dari komunitas ini adalah promosi gratis dari mulut
ke mulut. "Kalau duitnya, kecil sekali," tambahnya.

Yang repot, kata Ulin, permintaannya sering macam-macam. Bahkan, ada
yang minta membuktikan perselingkuhan sampai video mesumnya. "Ini kami
tolak. Bukan karena tidak bisa. Mampu saja, tapi ada biaya yang besar
untuk mengarahkan target ke kamar yang sudah kami setting. Ada juga
risiko hukumnya kalau sampai ketahuan," kata calon ayah yang sedang
menanti kelahiran anak pertamanya itu.

Padahal, untuk membuktikan adanya affair intim atau perselingkuhan,
sebenarnya tidak harus sampai video. "Dilihat saja dari check in
mereka. Apakah bergandengan tangan masuk hotel, atau justru
sendiri-sendiri dan diam-diam. Dilihat dari makan malamnya, pandangan
matanya. Itu kami buktikan dengan dokumentasi foto," tuturnya.

Untuk sebuah operasi, Aviyasa tak butuh alat-alat canggih. "Kami punya
kamera-kamera kecil, tapi hanya untuk misi tertentu. Yang penting,
kata orang Jawa, solah bawane (tindak tanduknya)," katanya.

Ulin bercerita, pernah saat mencoba memotret target dalam sebuah
private party lampu (blits) kamera handphone lupa dimatikan.
"Tiba-tiba, klap. Semua kaget, tapi kami juga pura-pura nggak tahu.
Kami juga ikut tengak-tengok, " katanya, lalu terkekeh.

Bisnis tersebut memang menuntut kerahasiaan tinggi. Termasuk
kerahasiaan pemesan order. "Mereka tak boleh memberi tahu data
didapatkan dari kami. Itu tercantum dalam kontrak kerja. Kami juga tak
mau menjadi saksi di pengadilan dalam kasus yang beperkara hukum,"
ujarnya.

Menurut Ulin, dalam beberapa bulan terakhir, order yang masuk sering
datang dari komunitas politik. Misalnya, disuruh mengecek kekuatan dan
kekayaan lawan dalam pilkada. "Tapi, kami agak selektif menerima order
seperti ini. Soalnya uangnya seret. Giliran selesai nggak dibayar.
Kayak order spanduk, sudah disablon gak bisa ditagih. Apalagi, banyak
yang order teman kami sendiri. Jadi, agak sungkan," katanya.

Sebuah job maksimal dikerjakan dalam waktu 14 hari kerja, minus Sabtu
Minggu dan hari libur nasional. "Prinsip kami, data kami sajikan tepat
waktu. Apa adanya, akurat, dan tidak bisa dipoles, harus berdasar
fakta lapangan," katanya.

Pernah gagal? Ulin mengangguk. "Kami diminta untuk membuntuti orang,
tapi setelah berhari-hari ternyata tidak ada nakalnya, judi enggak,
selingkuh enggak, ya udah kami sampaikan apa adanya," katanya.

Bisnis seperti itu, kata Ulin, parameter keberhasilannya susah diukur.
Sebab, tingkat kesulitan satu kasus dengan kasus yang lain berbeda.
"Misalnya, kamu bisa wawancara langsung Menhan, tapi apa bisa
wawancara Menkeu. Jadi meskipun kita sukses di satu kasus, belum tentu
bisa sukses di problem yang lain," ucapnya.

Tapi, satu hal yang sangat dijaga Aviyasa. Jangan pernah membocorkan
data klien. Apalagi, kepada pihak pesaing. "Kami ini jualan skill.
Bukan mafia atau broker," katanya. (el)

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: