20 September 2008

[media-sumut] Press Release: Penolakan Saut Situmorang Atas Khatulistiwa Literary Award

Press Release:

PENOLAKAN SAUT SITUMORANG
ATAS KHATULISTIWA LITERARY AWARD


During times of universal deceit,
telling the truth becomes a revolutionary act
-George Orwell


Menanggapi beredarnya Long-list Khatulistiwa Literary Award (KLA)
2008 yang memasukkan buku saya "otobiografi" ([sic] Yogyakarta,
November 2007) sebagai salah satu 10 besar kategori Puisi, dengan ini
saya nyatakan menolak pengikutsertaan buku saya tersebut. Adapun
alasan saya adalah sebagai berikut :

1. Sejak awal saya menganggap keberadaan KLA tidak layak dan tidak
representatif bagi kesusasteraan Indonesia karena dasar dan sistem
penilaian karya tidak pernah jelas, inkonsisten, improvisasi, dan
tidak profesional.

Beberapa cacat fatal dapat disebutkan:

a. Panitia maupun juri melanggar aturan yang mereka buat sendiri.
Contoh: Menangnya buku puisi Goenawan Mohamad, "Sajak-sajak Lengkap",
pada KLA perdana, merupakan pelanggaran terang-terangan atas aturan
yang sudah diumumkan panitia sebelumnya bahwa karya kompilasi (yang
sudah pernah diterbitkan terdahulu) tidak bisa diikutkan dalam
penilaian, dan buku yang diterbitkan oleh Metafor Publishing (milik
bos KLA, Richard Oh) juga tidak akan diikutkan dalam penilaian.
Kenyataannya, "Sajak-sajak Lengkap" Goenawan Mohamad yang merupakan
gabungan puisi lama dan baru dan diterbitkan Metafor Publishing pula,
terpilih sebagai pemenang!

Hal ini terulang pada KLA 2005 dimana buku puisi Iman Budhi Santoso,
"Matahari-matahari Kecil", yang berisi 100 puisi pilihan yang
merupakan trade-mark karya kompilasi penerbit Grasindo, masuk dalam 5
besar penilaian!

Dan hal ini terjadi lagi pada buku puisi saya, "otobiografi" ([sic]
Yogyakarta, November 2007). Buku ini jelas-jelas berisi puisi lengkap
saya yang sebagian pernah terbit dalam "saut kecil bicara dengan
tuhan" (Bentang Budaya, 2003) dan "catatan subversif" (BukuBaik,
2004)!

b. Panitia dan juri tidak profesional, bekerja asal-asalan dan
ngawur. Contoh: Dalam KLA 2005, buku puisi penyair cilik, Abdurahman
Faiz (saya lupa judulnya) semula muncul dalam daftar 10 besar, tapi
setelah adanya sejumlah protes dan kritik, tiba-tiba nama Abdurahman
Faiz dihapus begitu saja, dan segera diganti nama dan buku lain.
Terlepas dari protes atau kritik yang ada, layakkah sebuah karya yang
sudah dinilai juri kemudian diumumkan kepada publik, lantas ditarik
begitu saja tanpa pertanggungjawaban juri dan penjelasan panitia
secara publik?!

c. Kriteria buku yang dinilai tidak jelas: apakah buku yang ditulis
secara perorangan atau antologi-bersama? KLA 2008 ini, misalnya,
memasukkan sebuah antologi-puisi-bersama di posisi 10 besar!

d. Konsep KLA rancu dan amburadul: apakah berupa anugrah (award) atau
lomba? Jika penghargaan, mengapa panitia dan juri tidak proaktif
mencari buku untuk dinilai, tapi malah secara pasif menunggu penerbit/
penulis mengirimkan bukunya kepada panitia, lengkap dengan batas
waktu sebagaimana lazimnya syarat sebuah lomba? Padahal, sejauhmana
pengumuman KLA dapat diakses para penulis/penerbit yang bertebaran di
seluruh Indonesia? Alhasil, hanya mereka yang mengirim yang akan
dinilai, yang tidak mengirim akan luput.

Nah, anehnya, buku "otobiografi" TIDAK pernah dikirimkan oleh
Penerbit maupun oleh saya sebagai penulisnya kepada Panitia KLA
(sebagaimana yang mereka syaratkan) tapi kok bisa muncul di 10
besar?!

e. Kerja penjurian hanyalah upaya untuk membuat legitimasi bahwa
Panitia KLA sudah melakukan mekanisme penilaian yang benar, padahal
dasar penilaian dan proses penjurian lebih tepat disebut sebagai
sebuah skandal! Contoh: Tidak ada pertemuan antar-juri, bahkan di
antara mereka tidak saling tahu, serta tidak ada pertanggungjawaban
apapun dari juri bagi karya yang terpilih/pemenang!

Contoh lain, seorang calon juri di Yogyakarta mengundurkan diri
karena sistem penilaian yang diterapkan Panitia KLA sangat tidak
masuk akal. Ia dihubungi sekitar tanggal 25 Agustus 2008 oleh
Panitia KLA di Jakarta, yang memintanya menjadi Juri Tahap I dengan
honorarium 1 juta rupiah. Anehnya, daftar buku yang akan dinilai
sudah ditentukan oleh panitia (mungkin berdasarkan buku yang dikirim
penulis/penerbit?), padahal posisi yang ditawarkan adalah Juri Tahap
I yang dalam konteks penilaian lebih tinggi posisinya ketimbang
panitia. Lha, kok panitia yang menentukan lebih dulu? Gawatnya, hasil
penilaian harus sudah sampai dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Logikanya, seorang juri tentu mesti baca buku yang dinilainya. Namun
dengan waktu yang mepet dan honor 1 juta rupiah, mungkinkah seorang
juri dapat membaca atau membeli buku-buku yang hendak dinilainya?
Jikapun diasumsikan ada juri yang menyempal, misal mengusulkan buku
yang tidak ada dalam daftar, bukankah suara usulannya itu akan
bersifat "minoritas" belaka, sebab juri lain bisa saja tak mengetahui
buku tersebut? Apalagi penilaian berupa tabulasi, penjumlahan angka
dari dewan juri, sebagaimana sistem "Idol" di televisi. Pada
akhirnya, itu semua hanyalah semacam fait accompli sebab skenario
sebenarnya sudah disiapkan dan juri hanyalah alat legitimasi!
Tak sampai sebulan sejak tanggal 25 Agustus 2008 kita semua tahu Long-
list KLA 2008 dikeluarkan, berarti para juri telah sanggup
merampungkan tugas membaca dan menilai buku-buku sastra di Indonesia
yang terbit kurun waktu satu tahun! Hebat!

2. Di tengah dekadensi kondisi Sastra Kontemporer Indonesia lantaran
merajalelanya para petualang/dilettante sastra dengan politik
uangnya, perkoncoan, manipulasi isu-isu kesusasteraan Indonesia atau
isu bangsa secara umum di luar negeri atau kepada sponsor baik asing
maupun domestik, yang kemudian dilegitimasi dengan "niat suci demi
Sastra" padahal tidak sama sekali –– sebagaimana dengan jelas
diperlihatkan pada cara kerja Panitia KLA seperti yang saya
elaborasikan di atas, atas bobroknya sistem, moral dan
pertanggungjawaban Panitia KLA, sponsor dan juri-jurinya itu, maka
dengan ini saya MELARANG KERAS KARYA SAYA "otobiografi" ([sic]
Yogyakarta, November 2007) DIIKUTSERTAKAN DALAM KHATULISTIWA LITERARY
AWARD!

3. Kepada kawan-kawan sastrawan Indonesia, marilah kita pikirkan
bersama kondisi Sastra kita yang sudah rusak oleh hadiah-hadiah
sastra yang tidak jelas maksud-tujuannya seperti KLA dan oleh
peristiwa-peristiwa sastra semacam Teater Utan Kayu International
Literary Biennale dan Ubud Writers and Readers Festival. Apakah
absennya sebuah tradisi Kritik Sastra yang baik dan benar lantas
harus membuat Sastrawan Indonesia menjadi tidak kritis! Jangan cuma
karena uang dan ambisi untuk "go international" kita jadi lupa
daratan!

Yogyakarta, 20 September 2008

Tertanda,
SAUT SITUMORANG

Ikut mendukung:
Penerbit [sic] Yogyakarta


------------------------------------

media sumutYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-sumut/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-sumut/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:media-sumut-digest@yahoogroups.com
mailto:media-sumut-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
media-sumut-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

No comments: