10 November 2008

[media-sumut] PLTA Terancam Jadi Rongsokan

PLTA Terancam Jadi Rongsokan

 

Sejumlah mesin Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) milik PT PLN di Sumatera Utara terancam menjadi barang rongsokan. Kondisi ini dipicu oleh turunnya debit air yang selama ini dikelola oleh BUMN tersebut.

 

Humas PT PLN Wilayah Sumatera Utara, Raidir Sigalingging mengatakan beberapa PLTA milik PT PLN di Sumut sangat bergantung dengan pasokan air yang akan dikelola untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Khususnya PLTA yang terdapat di kawasan Hutan Batang Toru, yang meliputi tiga kabupaten; Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara.

 

PLTA tersebut di antaranya PLTA Aek Sibundong, Aek Silang dan Aek Raisan I dan PLTA Aek Raisan II. Masing-masing PLTA ini diperkirakan memberi pasokan arus listrik di Sumatera Utara, dengan besaran rata-rata mencapai 750 kilowatt.

 

"Kita sangat mengharapkan adanya dukungan pengelolaan lingkungan atas kawasan berdirinya PLTA tersebut. Karena itu juga kami menjadi sebuah perusahaan yang concern terhadap pengelolaan lingkungan," kata Sigalingging di kantornya.

 

Ditemui terpisah, Pendiri Perkumpulan Partisipasi untuk Rakyat (Petra), Monang Siringo-ringo mengatakan debit air yang selama ini dikelola oleh PT PLN tidak terlepas dari kondisi ketertutupan hutan di Batang Toru, sebagai lokasi tangkapan air. Untuk itu, dibutuhkan komitmen antar instansi untuk mendukung upaya penyelamatan lingkungan.

 

Sebab berdasarkan survey yang dilakukan Petra, percepatan kerusakan hutan di kawasan Hutan Batang Toru per tahun mencapai lima persen. Yang dengan sendirinya kondisi ini dipastikan akan mempengaruhi debit air yang terdapat di 11 Sub Daerah Aliran Sungai (DAS) di daerah itu.

 

Aktivitas perusakan ini berlangsung di hulu DAS oleh sejumlah perusahaan berskala nasional. Ditambah lagi beberapa perusahaan pemilik HPH yang beroperasi di kawasan Hutan Batang Toru. Luas areal Hutan Batang Toru Blok Barat 81.344 hektar dan Batang Toru Blok Timur 54.940 hektar hanya segelintir yang masuk dalam kawasan hutan lindung di tiga kabupaten Tapsel, Taput dan Tapteng hanya 20.076 di Hutan Batang Toru Blok Barat. Sedangkan di Blok Timur 5.239 hektar saja.

 

"Dengan kondisi minimnya hutan lindung di Hutan Batang Toru, dipastikan debit air yang selama ini dikelola oleh PLN akan terus menurun," kata Siringo-ringo Senin (10/11) sore.

 

Siringo-ringo melanjutkan, tidak hanya PLTA ukuran mini seperti PLTA Aek Raisan I dan Aek Raisan II yang akan terancam operasional akibat penurunan debit air. PLTA Sipansihaporas yang menjadi salah satu mega proyek PT PLN juga akan bernasib sama.

 

Untuk mempertahankan pasokan air ini, Siringo-ringo meyakini langkah yang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini hanyalah revisi atas tata ruang Hutan Batang Toru. Sebagai bentuk revisi atas SK Menhut No 44 tahun 2005. Dengan mengalokasikan minimal 40 persen wilayah tiap-tiap kabupaten sebagai kawasan hutan lindung. Sehingga menutup peluang bagi pihak luar maupun masyarakat sekitar untuk melakukan perambahan atas kawasan tersebut.

Di sisi lain, Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Djati Witjaksono Hadi mengaku persoalan ketertutupan lahan tidak hanya berdampak langsung pada debit air di sebuah kawasan hutan. Ketertutupan kawasan berupa hutan juga memberi pengaruh langsung terhadap satwa-satwa yang terdapat di dalamnya.

 

Khusus Hutan Batang Toru, pihaknya mencatat wilayah tersebut merupakan tempat tinggal bagi beberapa populasi satwa yang dilindungi karena jumlahnya yang terus mengalami penurunan. Seperti halnya Orangutan Sumatera (Pongo Abelii) dan harimau Sumtera. Dengan berkurangnya wilayah hutan, dipastikan akan terus menekan populasi satwa yang dilindungi ini. Padahal sejumlah pegiat lingkungan mencatat jumlah populasi orangutan yang terdapat di Kalimantan maupun Sumatera tidak lebih dari 7.000 ekor lagi. Sementara untuk Harimau Sumatera, jumlah hanya sekitar 300 ekor saja.

 

"Kalau izin kawasan belum berubah, satwa dilindungi yang terdapat di dalamnya dipastikan akan terus mengalami penurunan," kata Djati.

 

Untuk upaya pelestarian ini, Djati mengakui dibutuhkan kerjasama lintas sektoral maupun instansi, tidak hanya sebatas pihak kehutanan. (rel)

 

Note:

Sebagai informasi, terkait persoalan ini juga dapat menindaklanjutinya dengan wawancara langsung tentang rencana pengelolaan pembangkit listrik panas bumi Sarulla. Selasa (11/11) akan ada seminar AMDAL Sarulla di Bapedaldasu jam 09.00 WIB.

 




Sikap Peduli Lingkungan?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers! __._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: