27 December 2008

[media-sumut] Masyarakat Sumatera Utara habiskan Rp1,8 T berobat ke LN


DAVID SWAYANA
WASPADA ONLINE

MEDAN - Banyaknya jumlah pasien dari Sumatera Utara yang berobat ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura, ternyata tidak hanya didominasi kelompok masyarakat umum. Bahkan ada beberapa di antara pasien tersebut berprofesi sebagai dokter.

Demikian dikatakan anggota Kelompok Kerja Pengkajian Masalah Tingginya Minat Masyarakat Sumut Berobat Keluar Negeri Dinas Kesehatan Sumut, Drs. Noersal Chan M. Noer, Apt, ketika dihubungi Waspada Online, tadi malam. Hasil survei yang dilakukan sebuah lembaga pemerintah, kata Noersal, pada tahun 2005 sekitar 600.000 penduduk Indonesia berobat ke luar negeri. Jumlah ini meningkat menjadi satu juta orang pada tahun 2008.

Di Sumatera Utara, diperkirakan sekitar 180.000 orang berobat ke luar negeri dengan tujuan Malaysia dan Singapura pada tahun 2008. Ini berarti rata-rata hampir 500 orang yang berobat ke luar negeri dalam sehari. "Jika setiap pasien menghabiskan uang Rp10 juta untuk biaya berobat dan akomodasi selama di luar negeri, maka total uang yang keluar dari Sumatera Utara pada tahun 2008 mencapai Rp1,8 triliun," ujar Wakil Ketua Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) Sumut ini.

Menurut Noersal, orang yang dalam kondisi sakit tentunya sangat berharap mendapat pelayanan kesehatan yang berkualitas. Karena itu, mereka akan melakukan apa saja agar penyakit yang dideritanya bisa cepat sembuh.
Jadi, tidak mengherankan jika kelompok masyarakat yang berduit lebih memilih berobat ke luar negeri. Ini mengisyaratkan telah terjadi krisis kepercayaan terhadap kualitas dokter di Indonesia.

Noersal juga menyoroti tentang kebiasaan masyarakat Indonesia memilih dokter untuk berobat. Selama ini, masyarakat cenderung memilih dokter yang mempunyai banyak pasien.

Padahal tanpa disadari, dokter yang mempunyai pasien terlalu banyak, pada akhirnya tidak bisa membagi waktu dengan baik. Sebagaimana ketentuan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), bahwa setiap dokter harus memberikan konseling kepada setiap pasien selama 30 menit.

"Jika dokter tersebut hanya membuka praktik selama dua jam, maka pasien yang seharusnya dilayani hanya berkisar 4–5 orang saja. Kenyataan di lapangan, terkadang ada dokter yang membuka praktik selama dua jam, namun melayani pasien cukup banyak," ujar Noersal.

Ke Singapura

Di tempat terpisah, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan Dr. M. Nur Rasyid Lubis, SpB-FInaCS mengakui adanya sejumlah dokter asal Indonesia yang memilih berobat ke luar negeri. "Umumnya dokter-dokter itu memilih berobat ke Singapura karena peralatan medis di sana lebih lengkap," ujarnya.

 Rasyid memberikan contoh peralatan medis berupa CT Scan. "Rumah sakit di Kota Medan belum ada yang memiliki CT Scan Multi Slize seperti yang dimiliki rumah sakit Singapura. Karena itu, kalau peralatan medis seperti ini tidak dimiliki rumah sakit di Kota Medan, maka wajar saja banyak pasien yang berobat ke luar negeri," tambahnya.

Menurut Rasyid, CT Scan tersebut merupakan salah satu peralatan medis canggih yang memiliki harga cukup mahal. Jadi, belum ada rumah sakit di Kota Medan yang mampu membeli CT Scan tersebut. "CT Scan yang ada di rumah sakit Kota Medan saat ini tergolong masih sederhana," demikian Rasyid.
(dia)
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 
  
salam
Abdul Rohim

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: