22 December 2008

[media-sumut] Menggarap Laskar Bupati


Menggarap Laskar Bupati

Sepuluh bupati dan wali kota pilihan "dikerjai" fotografer Tempo. Menjadi model dadakan.
INI bukan konferensi, apalagi muktamar luar biasa para kepala daerah. Delapan bupati dan wali kota berdatangan ke kantor redaksi majalah Tempo, Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu pekan lalu. Ada yang hadir berkostum formal, lengkap dengan dasi. Yang lain bercelana jins dengan lengan baju dilipat hingga siku.
Andi Hatta Marakarma, Bupati Luwu Timur, Sulawesi Selatan, datang paling awal. Disusul Suyanto, Bupati Jombang, Jawa Timur, yang wajahnya selalu dihias senyum. Berturut-turut hadir Bupati Badung (Bali) Anak Agung Gde Agung, Wali Kota Makassar Ilham Arif Sirajuddin, Wali Kota Blitar Djarot Saiful Hidayat, Bupati Sragen Untung Sarono Wiyono Sukarno, Wali Kota Solo Joko Widodo, serta Bupati Gorontalo David Bobihoe.
Acara hari itu jauh lebih penting daripada konferensi: pemotretan bersama sepuluh tokoh pilihan Tempo 2008. Mereka disaring dari tiga ratus lebih pemimpin kabupaten atau kota seluruh Indonesia selama hampir tiga bulan. Merekalah "A Few Good Men", meminjam judul film yang dibintangi Tom Cruise dan Jack Nicholson.
Sebelum "acara puncak" dimulai, para pejabat daerah itu diundang untuk berbagi pengalaman memimpin daerah masing-masing. "Kalau bukan Tempo, saya tak mungkin datang," kata Untung, yang hadir dengan baju putih, celana jins biru, dan jaket merah menyala.
Delapan pejabat daerah itu berkumpul di ruang yang biasa dipakai untuk rapat perencanaan redaksi setiap Senin. Tak ada musik penyambutan dan karangan bunga, tapi para pemimpin itu menyatakan terhormat hadir di ruang sempit itu. Mereka disambut antara lain oleh Pemimpin Redaksi Tempo Toriq Hadad dan Pemimpin Redaksi Koran Tempo S. Malela Mahargasarie.
Dua jam lebih mereka membagi pengalaman. Joko Widodo menceritakan suksesnya memindahkan ribuan pedagang kaki lima dengan atraksi kirab budaya. Untung mempresentasikan jaringan online yang menghubungkan semua desa di wilayahnya. Djarot menyampaikan filosofi pemerintahannya, bahwa reformasi birokrasi harus dimulai dari sang pemimpin. Ilham mengisahkan ketegasannya membenahi Lapangan Karebosi dan Pantai Losari.
Masih ada dua orang yang ditunggu pada Rabu itu: Wali Kota Tarakan, Kalimantan Timur, Jusuf Serang Kasim; dan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto.. Keduanya terbang langsung dari daerahnya dan akan tiba beberapa saat sebelum sesi pemotretan. Pengambilan gambar untuk sampul ini dilakukan di Padang Golf Suwarna, Bandar Udara Soekarno-Hatta. "Sengaja dipilih dekat bandara, untuk memudahkan yang baru datang dan yang harus segera terbang kembali," kata Budi Setyarso, pemimpin proyek edisi akhir tahun 2008..
Dari kantor redaksi majalah Tempo, para bupati dan wali kota "diarak" menuju Padang Golf Suwarna. Tentu saja, lebih dulu mereka makan siang ala Tempo: semua harus antre berderet-deret untuk mengambil makanan. Perlu waktu satu jam menuju lokasi. Djarot dan Suyanto yang satu bus dengan awak redaksi Tempo mengundang tawa sepanjang perjalanan dengan dialog-dialog khas Jawa Timur-nya. Guyonan mereka klop benar dengan Toriq dan Wahyu Muryadi, Redaktur Eksekutif Tempo, yang juga berasal dari Jawa Timur.
Para bupati dan wali kota diminta membawa dua kostum: formal dan kasual. Tim edisi khusus sempat meminta mereka membawa juga baju adat. Tapi bongkar-pasang baju daerah itu diperkirakan memerlukan banyak waktu sehingga dibatalkan. Sesi pemotretan kemudian dipandu oleh Qaris Tajudin, Redaktur Pelaksana U-Mag, majalah gaya hidup saudara Tempo. Ijar Karim, fotografer U-Mag, lebih dulu memilih sudut pas, yang memungkinkan latar belakang udara terbuka dengan rumput hijau menghampar. "Untuk menggambarkan bahwa mereka pemimpin yang mau turun ke lapangan," ujarnya.
Pada pukul 15.00, sepuluh tokoh itu lengkap siap difoto. Sesi pertama dilakukan dengan kostum formal, setelan jas lengkap dengan dasi. Disiram matahari yang masih terik, mereka bersemangat dalam berpose. Djarot terlihat fotogenik, selalu bergaya pas. Suyanto pun langsung memasang gaya manisnya. Adapun Anak Agung Gde Agung selalu menjaga busana rapinya. Hermien Y. Kleden, Deputi Redaktur Eksekutif Tempo, menyorongkan tisu basah buat para tokoh yang mulai bercucuran peluh.
Dua sesi pemotretan itu dilakukan kurang dari satu jam. Itu karena Joko Widodo harus mengejar pesawat pukul 16.00. Pada akhir pemotretan, para pejabat itu tampak riang meski wajahnya berpeluh-peluh. "Lengkap sudah kita dikerjain teman-teman Tempo," kata Suyanto. Toriq Hadad menyampaikan penghargaan dan terima kasihnya untuk mereka.
Sebelum "dikerjai" di Jakarta, mereka memang telah lebih dulu diminta bergaya di daerah masing-masing. Untuk keperluan reportase, Tempo mengirim sepuluh reporter dan lima fotografer ke daerah mereka. Khusus untuk lima daerah di Jawa, pemotretan dilakukan dua fotografer yang sepekan bermobil menyusuri Jombang, Blitar, Sragen, Solo, dan Yogyakarta. Sepuluh tokoh itu sangat kooperatif, meski kadang diselipi tawar-menawar tentang "pose gila" mereka.
Jusuf Serang Kasim rela diminta berpotret di antara akar-akar hutan bakau dengan baju adat kuning benderang. Pak Wali berambut perak ini juga manut saja ketika Bismo Agung, fotografer Tempo, memintanya berbaring di kereta pengangkut sampah. "Seperti bekantan aku dibuatnya," kata pria 64 tahun itu.
Belum puas, Bismo meminta Jusuf mengenakan jas lengkap keesokan harinya. Pak Wali Kota dibawa ke tepi Pantai Amal Indah, yang kini sedang direklamasi buat menahan abrasi. Jusuf harus melepas sepatu dan berjalan 50 meter menuju lidah ombak Laut Sulawesi. Ia sampai geleng-geleng kepala melihat Bismo nungging di laut untuk mengambil angle yang bagus hingga celananya kuyup. "Apa kata kau sajalah, sekarang kau panglimanya," katanya sambil tertawa ke arah Bismo.
Wali Kota Djarot diminta mengenakan pakaian ala Bung Karno, proklamator yang lahir di Blitar. Di Pasar Legi, pasar terbesar di kota itu, Djarot menyapa banyak orang. Dua fotografer, Yosep Arkian dan Tony Hartawan, sibuk mencari tempat yang pas. Setelah keliling ke sana-sini, mereka menemukan warung kopi milik Mbah Munawaroh, 75 tahun, di samping pasar.
Warung ini menempel di trotoar jalan, dekat tempat parkir sepeda motor.. Emper warung ini disangga tiga kayu, yang disambung pagar bambu. Saking bersemangatnya, Yosep dan Tony langsung main copot pagar bambu tadi. Melihat aksi itu, Mbah Munawaroh panik. Ia mengira fotografer itu anggota Satuan Polisi Pamong Praja penggusur pedagang kaki lima. "Warung saya jangan dirusak, Pak," ia berteriak dengan bahasa Jawa.
Dwidjo Utomo Maksum, wartawan Tempo di Kediri yang wilayah liputannya hingga Blitar, tanggap. Ia mendekati Mbah Munawaroh dengan tutur bahasa Jawa halus, bahwa pagar dicopot untuk sementara guna memotret Wali Kota Djarot.. Pendekatan Dwidjo mujarab. Mbah Munawaroh takjub, warungnya mendapat tamu kehormatan. Apalagi Djarot menyodorkan selembar Rp 100 ribu di akhir pemotretan.
Selesai difoto dengan berbagai gaya dan kostum, Djarot menghubungi Suyanto di Jombang. Ia bercerita habis dikerjai fotografer Tempo dan meminta koleganya itu tidak kaget bila nanti diminta bergaya. Dengan "katebelece" Djarot ini, pemotretan Suyanto menjadi lebih mudah. Sang bupati oke saja ketika diminta berfoto di bengkel sepeda, juga memindah-mindah sangkar burung.
Di Solo, pemotretan Joko Widodo menghebohkan tukang becak. Yosep Arkian ingin memotret Pak Wali mengayuh kendaraan roda tiga itu. Ia pun memakai seorang tukang becak sebagai model awal, untuk keperluan pengaturan cahaya dan posisi. Model dadakan ini dipotret di dekat rel kereta. Ketika Yosep asyik menjepret, kereta tiba-tiba datang. Tapi pengayuh becak itu tak mau beranjak, "Yang penting difoto dulu, Mas." Yosep lemas enggak keruan.
Tiba giliran Joko Widodo, Yosep telah menyiapkan oblong dan kaus kaki. Sang Wali Kota ternyata menganggap properti itu terlalu bersih. Ia balik ke rumah dan kembali dengan menenteng kaus lusuh miliknya. Ia benar-benar menjiwai peran barunya.....
 
   Salam
Abdul Rohim

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: