15 January 2009

[media-sumut] Malari dan Pembredelan Pers

Malari dan Pembredelan Pers
Soeharto: Tutup! Tutup! Tutup!
Luhur Hertanto - detikNews

Jakarta - Hari ini, Kamis (15/1/2009) ingatan jatuh pada peristiwa Malapetaka 15 Januari 1974 (Malari). Peristiwa ini adalah bagian gelap dalam sejarah Orde Baru.

Unjuk rasa mahasiswa anti-Jepang yang digelar bertepatan dengan kedatangan PM Tanaka, meledak dalam bentuk aksi massal pembakaran kendaraan bermotor dan pertokoan di Jakarta.

Puluhan orang aktivis, cendekiawan, mahasiswa dan pimpinan lembaga kemahasiswaan ditangkap.

Satu hari setelah peristiwa Malari, pemerintah membredel harian dan penerbitan pers. Hanya tiga kata dari Presiden Soeharto ketika memerintahkan tindak represif atas media massa yang dituduh memprovokasi masyarakat agar membenci Jepang.

"Hanya tiga patah kata itu yang diucapkan pada saya, yaitu tutup, tutup, tutup!" cerita Menpen Mashuri SH (alm) tentang pertemuannya dengan Presiden Soeharto di Bina Graha, Jakarta, pada 16 Januari 1974.

Kesaksian almarhum ini tercantum di halaman 86-89 buku berjudul Dari Soekarno Sampai SBY, Intrik dan Lobi Politik Para Penguasa karya Prof Dr Tjipta Lesmana, MA , yang terbit Januari 2009.  Penulis adalah karya Guru Besar Komunikasi Politik pada Universitas Pelita Harapan.

Sehari setelah aksi pembakaran kendaraan bermotor dan gedung-gedung pertokoan yang bertepatan dengan tibanya PM Jepang Tanaka di Jakarta, Soeharto memanggil Mashuri ke Bina Graha. Mashuri sudah bisa meraba pemanggilan dirinya terkait pemberitaan media massa pra-Malari, pun menyiapkan bahan yang diperlukan.

Soeharto memperhatikan sebentar daftar nama harian dan penerbitan pers yang dianggap bermasalah. Dengan raut muka masam dan nada keras, Mashuri diperintahkan menjatuhkan sanksi bredel.

Soeharto: Tutup!
Mashuri : Maaf, Bapak Presiden, berapa hari?
Soeharto: Tutup!
Mashuri : Tetapi karyawannya banyak, Pak?
Soeharto: Tutup!

Kata "tutup" yang ketiga menyadarkan Mashuri bahwa perintah Soeharto tidak dapat ditawar lagi dan harus dilaksanakan hari itu juga. Saran agar sanksi bredel itu tidak disamaratakan karena kesalahannya berbeda-beda, urung Mashuri sampaikan karena Soeharto tidak memberinya kesempatan bicara.

Beberapa jam kemudian, Menpen mengumumkan pembredelan yang diperintahkan Presiden. Belasan penerbitan pers yang dituduh telah mematangkan kondisi social politik bagi pecahnya kerusuhan dan kekerasan, dibredel. Belakangan beberapa di antaranya diberi kesempatan terbit kembali setelah meminta maaf pada pemerintah.

Di mata Soeharto, pers telah berdosa besar dan karenanya harus dihukum keras. Pertama, pers melalui pemberitaan-pemberitaannya telah membakar rasa anti-Jepang hingga aksi mahasiswa kian panas. Dua, pers mengadu domba antara sesama pembantu dekat Presiden.

Bukan pers hanya yang dihukum Soeharto. Ada puluhan orang aktivis mahasiswa, pimpinan lembaga kemahasiswaan dan cendekiawan ditangkap pemerintah. Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro dan Asisten Presiden urusan Khusus Letjen Ali Moertopo dicopot dari jabatannya.
 
 
 
 
 
salam
Abdul Rohim

__._,_.___

media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: