29 March 2009

[media-sumut] Ikuti "Natur-E Writing Contest" di ajang "Natur-E Journey To Beauty"

Ikuti "Natur-E Writing Contest" 

di ajang

"Natur-E Journey To Beauty"

 

Pengantar

 

Dalam rangka pelaksanaan acara "Natur-E Journey To Beauty" yang digelar di beberapa kota di Indonesia, Natur-E mengundang Anda  untuk mengikuti "Natur-E Writing Contest". Lomba penulisan artikel ini khusus ditujukan untuk rekan-rekan wartawan media cetak dan online. Lomba penulisan ini sebagai bentuk apresiasi dari Natur-E kepada rekan-rekan wartawan di Indonesia untuk ikut serta dalam mengangkat citra kaum perempuan di Indonesia. Untuk itu, Natur-E mengajak rekan-rekan wartawan kiranya dapat ikut berpartisipasi dalam lomba penulisan ini.

 

 

Tema

 

"Natur-E Writing Contest" kali ini mengangkat tema "Journey To Beauty", dimana lomba ini terbuka untuk diikuti oleh para pewarta dimana saja berada.

 

Kriteria lomba

 

  • Untuk dapat mengikuti lomba ini, Anda kami undang meliput acara "Natur-E Journey To Beauty" yang digelar di berbagai kota (Jakarta, Medan, Surabaya, Yogyakarta, Bandung, dan Makassar).  

 

  • Isi artikel yang Anda tuliskan menggambarkan suasana kegiatan yang digelar oleh Natur-E pada tahun ini.

 

  • Tulisan karya Anda yang akan dinilai oleh Dewan Juri adalah yang dimuat di media cetak dan online media sebelum 30 Mei  2009.

 

  • Keputusan Dewan Juri tak dapat diganggu gugat.

 

Hadiah

 

Hadiah untuk para pemenang lomba:

 

Juara 1 – Handphone Blackberry

+ Merchandise Natur-E

 

Juara 2 – Gadgets (senilai Rp 5 juta)

+ Merchandise Natur-E

 

Juara 3 – Gadgets (senilai Rp 2,5 juta)

+ Merchandise Natur-E

 

Syarat keikutsertaan dalam "Natur-E Writing Contest"

 

Kirimkan karya Anda yang sudah dimuat  (bukan fotokopi, plus data peserta lomba (nama, nomor telepon/HP, e-mail dan alamat lengkap) atau lampirkan kartu nama serta foto copy KTP, tujukan kepada:

 

Radityo Djadjoeri

BizzComm!

Jl. Angsana Raya no 26

Pejaten Timur – Jakarta Selatan 12510

 

E-mail: mediacare@cbn.net.id

Facebook: Radityo Djadjoeri

 

 

 

Pengumuman

 

Pengumuman pemenang  lomba akan dilaksanakan pada awal Juni 2009 di Jakarta.

 

 

Facebook: Radityo Djadjoeri


__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

28 March 2009

Re: [media-sumut] Erwin_Caleg DPR RI Sumut I

Hehehehehe..akhirnya tahu juga.. :))
 
 
Facebook: Radityo Djadjoeri
----- Original Message -----
From: Roy Romero
Sent: Tuesday, March 17, 2009 6:14 PM
Subject: Re: [media-sumut] Erwin_Caleg DPR RI Sumut I

ahhahaha.....bernasib sama. gak tahu kenapa tiba2 di blok sama punggawa facebook. kirim email konfirmasi ke mereka gak dibalas2. baru tahu ternyata kita gak boleh pake 'catatan kaki' menuliskan alamat website sekalipun itu fakta atau referensi. sistem mesin mereka berpikir kita mengirimkan spam. kita juga gak boleh banyak2 add teman. baru tahu yang kayak ginian ternyata facebook banyak aturan dan mainnya juga mesti 'save', gak boleh terlalu sering kirim komen juga pada shoutbox orang2.

tapi brontak zine sekarang dah ada facebook di brontak_zine@yahoo.com

ntar satu atau dua hari ini yang facebook pribadi mau dicreate lagi...

--- On Wed, 3/18/09, mediacare <mediacare@cbn.net.id> wrote:

From: mediacare <mediacare@cbn.net.id>
Subject: Re: [media-sumut] Erwin_Caleg DPR RI Sumut I
To: media-sumut@yahoogroups.com
Date: Wednesday, March 18, 2009, 3:36 AM

 
Roy, facebookmu kenapa? Kok tiba-tiba menghilang?
 
 
 
 
 
----- Original Message -----
From: Roy Romero
Sent: Saturday, March 07, 2009 4:14 AM
Subject: Re: [media-sumut] Erwin_Caleg DPR RI Sumut I


kok websitenya .biz.tm? kenapa tidak .com saja biar kelihatan lebih serius. tapi pas diakses pengen tahu informasi detail dan desainnya, eh malah muncul ERRROR. whuzz up???


Roy Romero
BERONTAK ZINE
http://www.berontak zine.com/
freelance webdesigner
061.77480666



--- On Thu, 3/5/09, durheni esterina <durheni_766hi@ yahoo.com> wrote:

From: durheni esterina <durheni_766hi@ yahoo.com>
Subject: [media-sumut] Erwin_Caleg DPR RI Sumut I
To: media-sumut@ yahoogroups. com, media-sumatera@ yahoogroups. com, "mediacare yahoogroups" <mediacare@yahoogrou ps.com>, "naratamatv" <NaratamaTV@yahoogro ups.com>, "warga" <warga@yahoogroups. com>
Date: Thursday, March 5, 2009, 9:21 PM

Dear teman, saudara dan sahabat tercinta.
 
Mari kita sukseskan pemilu yg sebentar lagi akan kita laksanakan. Jika kita saat ini belum memiliki kandidat yg sesuai dengan pilihan kita mungkin dia ini bisa menjawab keinginan kita semua dengan pemikiran segarnya. terima kasih.
 
 
Cordially,
Heni s
P Please save a tree for our environment





__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

27 March 2009

[media-sumut] Earth Hour 2009

 

Dear Temans...yukkk ikutan mencegah global warming yang semakin parah. Caranya gampang banget!!!

 

PADAMKAN LAMPU DI SEKITAR MU PADA:

Sabtu, 28 Maret 2009

Pkl. 20.30 - 21.30 WIB.

 

Mari kita semua bersama-sama padamkan lampu satu jam saja dan nyalakan masa depan!!

 

Psssttt...jangan lupa forward email ini ya, spread the news to save the world!!!

 

Salam!!!





__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

24 March 2009

[media-sumut] Penguasa, Capres, dan "New Media"

Penguasa, Capres, dan "New Media"

Penguasa, Capres, dan "New Media"

Oleh Lily Yulianti Farid
http://media-klaten.blogspot.com/2009/03/penguasa-capres-dan-new-media.html

Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad mengumumkan peluncuran blog-nya pada 14 Agustus 2006 dan laporan media menyebutkan partisipasi di online voting blog tersebut melampaui angka 12.000 pada hari pertama. Dan, ketika berita ini tersebar ke seluruh penjuru dunia, banyak yang mengeluh tak bisa mengakses blog tersebut saking padatnya kunjungan warga maya (netizen).



Keputusan tokoh dunia yang kencang mengkritik AS dan Barat ini untuk menyapa dunia melalui blog memang jadi berita kala itu. Ada yang memuji, tapi tak sedikit yang mengkritik, bahkan mencurigai. Aktivis hak asasi manusia (HAM) di Barat yang mengecam kontrol ketat atas media di Iran, termasuk terhadap blogger, mencibir dan mengatakan blog Ahmadinejad itu propaganda terselubung rezim yang dipimpinnya.

Meski tak banyak tulisan yang diposting Ahmadinejad dalam tiga tahun terakhir dan bahkan tak ada artikel sepanjang tahun 2008, ia setidaknya telah menunjukkan upaya komunikasi personal kepada dunia. Blog yang tersaji dalam empat bahasa: Persia, Arab, Inggris, dan Perancis itu diawali dengan biografi panjang. Ketika respons pengunjung memuncak sementara postingannya semakin gersang, Ahmadinejad menjelaskan bahwa ia tetap teguh pada janjinya meluangkan waktu 15 menit per minggu (ya betul, hanya 15 menit per minggu!) memeriksa semua pesan. Ia dibantu sejumlah mahasiswa melakukan tabulasi pesan yang disebutnya sebagai masukan penting yang perlu ditindaklanjuti.

Dengan alokasi waktu yang superminim untuk memelihara blog-nya, pada pengujung tahun 2007, Ahmadinejad mengumumkan bahwa ia memutuskan untuk memanfaatkan waktu itu untuk membaca pesan yang masuk daripada menulis postingan baru. "Semua pesan saya baca, termasuk pesan yang dibuka dengan kalimat: saya tahu bahwa presiden tidak akan membaca pesan ini...."

Blog ini sudah lama tidak diperbarui, tapi Ahmadinejad menangguk untung: pesan tetap terus mengalir dan ia memiliki "kolam ide" berkat komentar dari segala penjuru dunia.

Di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dapat diikuti aktivitasnya di situs www.presidensby.info. Tapi ini media resmi, bukan sebuah kanal komunikasi yang didesain agar sang presiden bisa bercakap-cakap secara lebih personal dengan publik. Yang jadi berita heboh pekan ini justru blog Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sejak Rabu (4/3) mengisi lahan blogger tamu Kompasiana. Postingan pertama berjudul "Assalamu Alaikum", tulisan dua paragraf sebagai salam pembuka, yang langsung disambut riuh komentar pembaca. Beberapa jam sebelumnya, Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto juga menulis blog di Kompasiana. Postingan pertama Prabowo berjudul "Pengalaman Singkat Saya Bermilis" ditayangkan di laman public blogger. Ia pun juga panen puluhan komentar dan meroket sebagai salah satu tulisan terpopuler.

Menarik perhatian



Respons yang tumpah ruah bagi Kalla dan Prabowo bukan hal yang mengejutkan. Pejabat, politisi, dan newsmaker lain yang memutuskan membuat media personal pastilah menarik perhatian. Publik ingin tahu, bagaimana sosok yang selama ini diberitakan, kini mengabarkan diri atau menyajikan pikirannya sendiri. Bagi sang tokoh, membuktikan bahwa tulisan itu karya sendiri adalah tantangan awal untuk menumbuhkan kepercayaan audiens meski tentunya agak sulit meyakinkan audiens bahwa capres dan wapres yang supersibuk bakal punya waktu membaca semua komentar.

Perilaku warga maya, menurut Dan Gillmor dalam We the Media (2004), adalah cerminan rakyat "dunia nyata" yang bila memiliki akses berdialog dengan tokoh publik akan memanfaatkan peluang itu sebaik-baiknya. Yang membedakan, karena rakyat dunia maya adalah audiens yang bisa langsung merespons secara kritis dan menempatkan diri setara dengan siapa saja. Mereka adalah representasi warga yang sadar akan haknya dan tak mudah digiring untuk percaya pada suatu pandangan.

Gelombang New Media tak pelak menuntut perubahan model komunikasi pejabat pemerintah, politisi, korporat, dan media mainstream, empat elemen yang selama ini menguasai kanal informasi dan publikasi. Sekarang ada arus We Media, yakni orang- orang biasa yang aktif bercakap di dunia virtual melalui media alternatif yang mereka ciptakan dan isi sendiri. Topik yang mereka bahas terbentang dari hal terpenting hingga yang paling remeh, termasuk kiprah penguasa dan politisi korup, perusahaan yang menipu konsumen, dan media besar yang kehilangan independensi. Suara warga dunia maya ini begitu kencang.

Pada Pemilu 2009, peran New Media jelas semakin signifikan. Preseden gemilang telah dicatat Barack Obama dalam Pilpres AS, ketika barisan pendukung dan relawan yang direngkuhnya tumbuh pesat berkat Web-based organizing campaigns. Di Tanah Air, politisi ramai-ramai mengikuti jejak Obama, merambah blog dan SNS (social network system), seperti Facebook dan Youtube. Tak cukup beriklan di media mainstream, tim komunikasi caleg dan capres pun terjun ke media alternatif.

Sayangnya, penguasa dan politisi yang terbiasa dirubung staf, banyak yang terlambat menyadari kekuatan media baru ini. Bagi Jusuf Kalla, Prabowo, atau capres lain yang menemui publik lewat blog adalah penting mengingat bahwa netizen memiliki ekspektasi untuk menemukan the real you, sosok yang mendengarkan dan meladeni percakapan yang dinamis dan kritis, tanpa mendelegasikannya. Ini merepotkan, tapi tak mustahil. Meski hanya 15 menit sepekan, seperti yang pernah dilakukan Ahmadinejad.



Lily Yulianti Farid Aktif Mengembangkan Citizen Journalism di www.panyingkul.com



http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/24/05094018/penguasa.capres.dan.new.media

 



__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Apa Persamaan PDIP dan Syekh Puji?

Apa Persamaan PDIP dan Syekh Puji?
Anwar Khumaini - detikPemilu


Jakarta - Rasanya sulit mencari persamaan antara Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan Syekh Puji, pria asal Semarang, Jawa Tengah yang tiba-tiba tenar lantaran mengawini gadis belia usia 12 tahun, Lutviana Ulfah. Tapi tak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

Jika Anda melihat tayangan acara komedi politik Benar-benar Membangun (BBM) yang ditayangkan RCTI Senin 23 Maret malam kemarin, Anda pasti mempunyai jawabannya. Kesamaan Syekh Puji dan PDIP adalah 'sama-sama mencintai wong cilik'. Apa hubungannya?

Dalam acara yang dipandu oleh pakar komunikasi politik Effendi Ghazali tersebut, ditampilkan nara sumber suami Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas dan putri Mega, Puan Maharani. Acara yang berlangsung gayeng tersebut juga menghadirkan Syekh Puji gadungan, alias Syekh Muji, pria yang didandani mirip Syekh Puji beneran.

Dalam sebuah dialog, Syekh Muji sesumbar dirinya mempunyai kesamaan dengan PDIP. "Kalau PDIP mencintai wong cilik (rakyat kecil), lha wong saya juga mencintai wong cilik (Lutviana Ulfah). Sama kan?" kata Syekh Muji disambut tawa penonton di studio RCTI, Senin 23 Maret malam.

Syekh Muji memang tidak tampil lama. Mengenakan dandanan khas Syech Puji dengan jubah putih, berjenggot, berkepala plontos plus bertasbih panjang, pria yang wajahnya sebenarnya tidak terlalu mirip Syekh Puji ini pun hanya tampil dalam beberapa menit saja.

Dalam kesempatan ini, Taufik Kiemas berkesempatan menyanyikan sebuah lagu lama yang dipopulerkan oleh Dian Pisesa 'Tak Ingin Sendiri'. Berduet dengan Puan, Taufik terlihat tidak terlalu hapal melantunkan lagu berirama pop ini.

Usai bernyanyi, kedua anak dan bapak ini didatangi sang ibu, Megawati Soekarnoputri gadungan alias Megakarti. Taufik Kiemas tampak tertawa geli saat Megakarti menyalaminya dengan sopan.

"Tadi saya dengar mereka berdua menyanyikan lagu 'Tak Ingin Sendiri'. Jadi saya datang ke sini supaya mereka tidak kesepian lagi," ucap Megakarti lagi-lagi disambut tawa hadirin.

"Merdeka!! (Merah demi kemenangan)," teriak Megakarti sok mengikuti gaya Megawati sebenarnya..
 
 
 
 
salam
Abdul Rohim



__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

22 March 2009

[media-sumut] leafleat Panda Nababan

 



__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Fwd: Profile Panda Nababan_Caleg DPR RI PDI Perjuangan Sumut_Dapil Sumut 1 Nomor urut 1



---------- Forwarded message ----------
From: rion aritonang <rionpandacenter@gmail.com>
Date: 2009/3/7
Subject: Profile Panda Nababan_Caleg DPR RI PDI Perjuangan Sumut_Dapil Sumut 1 Nomor urut 1
To: mediacare yahoogroups <mediacare-subscribe@yahoogroups.com>, media-sumut@yahoogroups.com


Menentang Kemiskinan

untuk Mencapai

Indonesia Sentosa

Berjuang, berjuang, berjuang. Itulah kata-kata yang dapat menggambarkan sosok Panda Nababan. Seakan, sepanjang hidupnya, ia tak mengenal kata jera dalam perjuangan. Padahal, ketika negeri ini dipimpin oleh Soeharto, Panda Nababan dua kali masuk penjara, tanpa pernah diadili, masing-masing sekitar satu tahun. Ia dipenjara di Rumah Tahanan Militer Budi Utomo, Jakarta. Gara-garanya, Panda Nababan adalah seorang pendukung Soekarno dan ia menjadi Ketua Departemen Organisasi Gerakan Mahasiswa Bung Karno, ketika menjadi mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta.

Toh, Panda Nababan tak pernah kapok memperjuangkan kebenaran, membela kaum tertindas, dan menyuarakan kepentingan rakyat banyak. Lepas dari penjara, ia menjadi wartawan. Dan, selama 30 tahun menjadi wartawan, Panda Nababan tetap berani mengungkapkan berbagai kebobrokan pemerintah yang merugikan rakyat, seperti kasus korupsi, manipulasi, dan nepotisme. Panda pun "diganjal" kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah, oleh rezim Orde Baru. Namanya juga selama bertahun-tahun dilarang muncul sebagai wartawan atau sebagai pengasuh media massa, meski Panda ikut mendirikan media itu.

Sebagai wartawan, banyak kasus besar telah Panda ungkap, antara lain kasus kekejian Orde Baru di Losarang, Jawa Barat, menjelang Pem

ilu 1971 dan kebobrokan aparat pemerintah di Pelabuhan Tanjungpriok dan Bandara Halim Perdanakusuma. Untuk pemberitaan soal Bandara Halim Perdanakusuma itu, ia malah memperoleh penghargaan Adinegoro pada tahun 1976.

Panda Nababan juga pernah memberitakan kasus Kepala Dolog Kalimantan Timur yang melakukan korupsi. Begitu pula dengan kasus korupsi besar-besaran di tubuh Polri; skandal Pluit yang merugikan negara dengan nilai yang sangat besar pada masanya; kasus penggusuran tanah di Kalibata, Jakarta; pembajakan pesawat Woyla di Bangkok, dan; Tragedi Kapal Tampomas II yang menelan banyak korban.

Tekadnya untuk menyuarakan kebenaran dan membela kepentingan rakyat kemudian ia salurkan lewat partai politik. Pada tahun 1993, Panda Nababan memilih berdiri di belakang Megawati Soekarnoputri, yang sedang dizalimi oleh penguasa Orde Baru. Panda Nababan menjadi Ketua Tim Sukses Megawati Soekarnoputri untuk menjadi Ketua Umum PDI dalam kongres luar biasa di Surabaya. Megawati secara de facto terpilih menjadi ketua umum. Namun, Soeharto sang presiden tak setuju dan kemudian menjadikan Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI. Megawati dipaksa turun, sampai akhirnya kemudian terjadilah Peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli 1996.

Ketika angin reformasi berembus, Panda Nababan tetap berada satu barisan dengan Megawati Soekarnoputri, di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan). Panda Nababan ingin terlibat aktif dalam mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia: menciptakan masyarakat adil dan makmur; menentang kemiskinan untuk mencapai Indonesia sentosa. Dan, ketika PDI Perjuangan menjadi partai dengan suara terbanyak pada Pemilu 1999, Panda Nababan dipercaya untuk menjadi wakil rakyat di DPR RI.

Selama tahun 1999 sampai dengan 2004, Panda Nababan masuk dalam Komisi II DPR RI, bidang hukum dan dalam negeri. Dan, banyak hal telah ia lakukan untuk memperjuangkan dan membela kepentingan rakyat banyak. Karena itulah, pada Pemilu 2004, rakyat kembali memberi kepercayaan kepada Panda Nababan untuk memperjuangkan aspirasi mereka di DPR RI. Untuk masa bakti 2004 sampai dengan 2009, ia duduk sebagai anggota Komisi III DPR RI, bidang hukum.

Dalam pemilihan umum 2009 sekarang ini, Panda Nababan tetap ingin menyuarakan kepentingan rakyat banyak, terutama masyarakat Sumatra Utara di Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan Tebing Tinggi. Karena itulah, Panda Nababan kembali mencalonkan diri untuk menjadi wakil rakyat. "Rakyat harus terus dibela dan kebenaran harus selalu diperjuangkan," ujar Panda. Itulah panggilan hidupnya. ***




__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

21 March 2009

[media-sumut] Rp1 Miliar Untuk Kampanye 15 Menit


Rp1 Miliar Untuk Kampanye 15 Menit



Oleh Akhmad Kusaeni

Medan (ANTARA News) - Semahal itukah ongkos sebuah kampanye?

Ketua Dewan Penasehat Partai Golkar Surya Paloh, misalnya, menghabiskan dana lebih dari Rp1 miliar hanya untuk berpidato selama 15 menit di panggung kampanye di sebuah lapangan sepakbola, di Mandailing Natal, Sumatera Utara.

Pada hari pertama kampanye terbuka, Selasa (17/3), Surya langsung tancap gas.

Pukul 07.00 pagi dia bertolak dari Bandar Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, dengan pesawat jet pribadinya, jenis BAe, yang katanya pesawat bekas milik Ratu Inggris Elizabeth. Tujuannya, Lapangan sepakbola Aekgodang, Mandailing Natal.

Tak banyak orang yang mendampingi bos Media Group yang brewokan itu. Yang menemani Surya di pagi hari itu antara lain Sekretaris Dewan Penasihat Partai Golkar Hatta Mustafa dan Chairuman Harahap, calon anggota legislatif untuk Daerah Pemilihan Mandailing Natal.

Tentu saja dia membawa kameramen Metro TV, stasiun televisi milik Surya.

"Ini pesawat paling aman. Jet lain mesinnya cuma dua, yang ini empat. Kalau dua mesin mati, masih ada dua mesin yang bekerja. Tapi karena empat mesin, jadi boros," katanya sesaat setelah "boarding".

Surya membeli pesawat buatan Inggris itu pada tahun 2004 ketika akan keliling Indonesia untuk Konvensi Partai Golkar. Kini, dengan pesawat yang sama, Surya akan keliling Indonesia lagi untuk berkampanye.

"Hari ini baru start, saya harus jaga stamina karena harus datangi daerah-daerah dari Aceh sampai Papua," katanya.

"Pesawat ini pas untuk jelajahi Indonesia karena bisa mendarat di bandara perintis dengan landasan pendek, seperti Bandara Tapanuli Selatan yang akan kita datangi," katanya lagi.

Saat pesawat bergambar kepala elang, lambang Media Group, itu menjelajah langit dengan ketinggian 27.000 kaki, Surya menyiapkan materi pidatonya.

Ia berfikir tidak banyak yang bisa disampaikan pada kampanye terbuka di lapangan yang terik pada pukul dua siang dengan hadirin yang asyik berjoget dan berdangdut ria. Ia memilih satu pesan moral kampanye yang akan menjadi "soundbite".

"Saya akan ingatkan para elite untuk tidak lagi membohongi rakyat. Rakyat harus dicerdaskan, bukan dibodoh-bodohi!" katanya dengan suara keras dan mata membelalak.


Sewa helikopter

Setelah mendarat di Bandara Perintis Tapanulis Selatan, Surya harus naik helikopter lagi selama 30 menit untuk bisa ke panggung kampanye.

Ia menyewa helikopter jenis Bell yang hanya bisa dimuati empat penumpang.

Terapung-apung di antara bukit dan gunung, Surya manggut-manggut menyadari betapa luasnya wilayah Sumatera Utara. Jika naik angkutan darat, dari Medan ke Mandailing Natal bisa memakan waktu 12 jam sampai 14 jam.

"Tidak heran banyak warga sini yang meminta pemekaran," katanya merujuk pada tewasnya Ketua DPRD Sumatera Utara Azis Angkat dari Partai Golkar saat unjuk rasa yang anarkis ketika massa meminta rekomendasi dibentuknya propinsi Tapanulis Selatan.

Surya hanya beristirahat sejenak untuk makan siang sebelum diboyong ke lapangan sepakbola yang sudah dipenuhi massa.

Pilot helikopter sudah mewanti-wanti agar kampanye tidak lama-lama karena pergerakan awan yang menggumpal hitam menandakan hujan akan segera turun.

"Makin sore makin berbahaya. Cuaca di kawasan pegunungan begitu cepat berubah," kata pilot mengingatkan.

Akibatnya, Surya tidak bisa berlama-lama di atas panggung kampanye. Setelah pidato dan teriakan hidup Golkar yang menggelegar selama 15 menit, lelaki berperawakan tinggi besar mirip penyanyi opera Luciano Pavarotti itu segera pamit.

Ia harus buru-buru kembali di Tapanuli Selatan sebelum hujan turun sore itu.

Meski hujan belum turun, angin berhembus kencang. Helikopter beberapa kali berguncang-guncang. Untuk menghindari guncangan, pilot menurunkan ketinggian sehingga helikopter berwarna biru itu menyelusup lembah-lembah di antara bukit dan gunung.

Gerakan helikopter itu mirip dengan yang biasa dilihat dalam film tentang perang Vietnam. Berkelok-kelok dengan suara mesin dan baling-baling yang menderu-deru.

"Kalau terjadi apa-apa pasti kita selesai. Karena di antara bukit dan gunung, tidak ada tempat untuk mendarat darurat," kata Hatta Mustafa yang tampak lega akhirnya bisa mendarat dengan selamat di Bandara Tapanuli Selatan meski mengaku sempat tegang dan stres.


Tak masuk logika

Saat melanjutkan perjalanan ke Bandara Polinia Medan, Surya menceritakan mengapa dirinya rela menghabiskan uang miliaran dan menghadapi resiko keselamatan terbang dengan helikopter dalam cuaca buruk hanya untuk berpidato selama 15 menit di panggung kampanye.

Menurut Surya, perjalanan kampanye hari pertamanya menghabiskan lebih dari Rp1 miliar, antara lain untuk avtur dan kru jetnya, menyewa helikopter, akodasi hotel, dan biaya logistik lainnya.

"Gila. Ini gila. Tidak masuk logika orang mengeluarkan Rp1 miliar hanya untuk pidato 15 menit," katanya.

Jika tidak untuk kecintaan kepada bangsa ini, jika tidak untuk sesuatu yang berarti bagi rakyat negeri ini, lanjut Surya, ia tidak akan segila ini.

Dia pun mengaku menyadari ada orang yang yang menuduhnya memiliki motif-motif dan ambisi kekuasaan tertentu di balik segala yang dilakukannya.

Sejumlah kritik yang dialamtakan ke dia antara lain, Surya berambisi menjadi Ketua Umum Golkar dan kemudian menjadi calon Presiden pada Pemilu 2014.

"Silakan menuding seperti itu. Saya terima dan jalani saja. Tetapi yang saya protes, kalau orang menilai apa yang saya lakukan itu tidak ikhlas. Itu yang tidak benar," katanya.

Surya mengatakan, boleh dibilang ia sudah memiliki segalanya, harta dan kehormatan sudah ada dalam genggamannya.

Kalau dia mau, katanya, dia bisa seperti konglomerat lain yang tinggal menikmati hidup dan bersenang-senang dengan kekayaannya.

"Kalau semua orang berfikir begitu, lalu siapa yang memikirkan bangsa dan rakyat ini? Hancurlah bangsa ini jika semua orang begitu," katanya sambil mengusap rambut-rambut yang lebat di pipi dan dagunya.

A Keng, pengusaha Medan yang teman sepermainan Surya semenjak SD, mengatakan, sohibnya memang seorang eksentrik.

Menurut dia, Surya adalah tokoh yang langka.

Bangsa Indonesia saat ini mengalami defisit orang-orang eksentrik berkarakter yang memiliki kekuatan mental, kebernasan gagasan dan keberanian moral untuk mengambil pilihan sendiri di luar kelatahan.

Pakar politik John Stuart Mill mengatakan orang eksentrik biasanya yang membuat sejarah. Kreativitas sosial memerlukan tumbuhnya eksentrisitas. Orang eksentrik berani berfikir dan berbuat "out of the box".

Menurut pakar itu, ia berfikir melesat jauh ke masa depan dengan idealisme dan cita-cita tingggi dan bersemangat mencapainya.

"Saya kira Surya orang seperti itu. Bangsa Indonesia, paling tidak Golkar, beruntung memiliki tokoh semacam Surya Paloh," katanya.

Karena sikapnya yang eksentrik pulakah yang membuat Surya Paloh rela mengeluarkan uang satu miliar rupiah dan berani terbang dengan helikopter dalam cuaca buruk hanya untuk berpidato 15 menit di kabupaten terpencil yang tidak banyak dikunjungi orang? (*)
COPYRIGHT © 2009
 
 
 
 
salam
Abdul Rohim



__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

[media-sumut] Calon Presiden dan ‘New Media’

Calon Presiden dan 'New Media'

Lily Yulianti Farid, penulis, aktif mengembangkan citizen journalism
I even have read those messages that have started with a sentence like "I know that the president is not going to read this message..."
(Blog Mahmud Ahmadinejad)
Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad mengumumkan peluncuran blognya pada 14 Agustus 2006, dan laporan media menyebutkan partisipasi di online voting blog tersebut melampaui angka 12 ribu di hari pertama. Dan ketika berita ini tersebar ke seluruh penjuru dunia, banyak yang mengeluh tak bisa mengakses blog tersebut saking padatnya kunjungan warga maya (netizen).
Keputusan tokoh dunia yang kencang mengkritik Amerika Serikat dan Barat ini untuk menyapa dunia melalui blog memang menjadi berita di kala itu. Ada yang memuji, tapi tak sedikit yang mengkritik, bahkan mencurigai. Aktivis hak asasi manusia di Barat yang mengecam kontrol ketat atas media di Iran, termasuk terhadap blogger, mencibir dan mengatakan blog Ahmadinejad itu propaganda terselubung rezim yang dipimpinnya.
Meski tak banyak tulisan yang di-posting oleh Ahmadinejad dalam tiga tahun terakhir dan bahkan tak ada artikel sepanjang 2008, ia setidaknya telah menunjukkan upaya komunikasi personal kepada dunia. Blog yang tersaji dalam empat bahasa--Persia, Arab, Inggris, dan Prancis--itu diawali dengan biografi panjang. Ketika respons pengunjung memuncak, sementara hasil posting-nya semakin gersang, Ahmadinejad menjelaskan bahwa ia tetap teguh pada janjinya meluangkan waktu 15 menit per minggu (ya betul, hanya 15 menit per minggu!) memeriksa semua pesan. Ia dibantu sejumlah mahasiswa melakukan tabulasi pesan yang disebutnya sebagai masukan penting yang perlu ditindaklanjuti.
Dengan alokasi waktu yang superminim untuk memelihara blognya, di pengujung 2007 Ahmadinejad mengumumkan bahwa ia memutuskan untuk memanfaatkan waktu itu membaca pesan yang masuk daripada menulis posting baru. "Semua pesan saya baca, termasuk pesan yang dibuka dengan kalimat 'saya tahu bahwa Presiden tidak akan membaca pesan ini'."
Blog ini sudah lama tidak diperbarui, tapi Ahmadinejad menangguk untung: pesan tetap terus mengalir dan ia memiliki "kolam ide" berkat komentar dari segala penjuru dunia. Di Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dapat diikuti aktivitasnya di situs www.presidensby.info. Tapi ini media resmi, bukan sebuah kanal komunikasi yang didesain agar sang Presiden bisa bercakap-cakap secara lebih personal dengan publik. Yang jadi berita heboh pekan ini justru blog sang Wakil Presiden, Jusuf Kalla, yang sejak Rabu lalu (4 Maret) mengisi lahan blogger tamu Kompasiana. Posting pertama berjudul "Assalamu Alaikum", tulisan dua paragraf sebagai salam pembuka, yang langsung disambut riuh komentar pembaca. Beberapa jam sebelumnya, Ketua Partai Gerindra Prabowo Subianto juga menulis blog di Kompasiana. Posting pertama Prabowo berjudul "Pengalaman Singkat Saya Bermilis" ditayangkan di laman public blogger. Ia pun juga panen puluhan komentar dan meroket sebagai salah satu tulisan terpopuler.
Respons yang tumpah-ruah bagi Kalla dan Prabowo bukan hal yang mengejutkan. Pejabat, politikus, dan newsmaker lainnya yang memutuskan membuat media personal pastilah menarik perhatian. Publik ingin tahu, bagaimana sosok yang selama ini diberitakan kini mengabarkan diri atau menyajikan pikirannya sendiri. Bagi sang tokoh, membuktikan bahwa tulisan itu karya sendiri adalah tantangan awal untuk menumbuhkan kepercayaan audiens, meski tentunya agak sulit meyakinkan audiens bahwa calon presiden dan wakil presiden yang supersibuk bakal punya waktu membaca semua komentar.
Perilaku warga maya, menurut Dan Gillmor dalam We the Media (2004), adalah cerminan rakyat "dunia nyata" yang bila memiliki akses berdialog dengan tokoh publik akan memanfaatkan peluang itu sebaik-baiknya. Yang membedakannya adalah rakyat dunia maya merupakan audiens yang bisa langsung merespons secara kritis dan menempatkan diri setara dengan siapa saja. Mereka adalah representasi warga yang sadar akan haknya dan tak mudah digiring untuk percaya terhadap suatu pandangan.
Gelombang new media tak pelak menuntut perubahan model komunikasi pejabat pemerintah, politikus, korporat, dan media mainstream, empat elemen yang selama ini menguasai kanal informasi dan publikasi. Sekarang ada arus new media, yakni orang-orang biasa yang aktif bercakap di dunia virtual melalui media alternatif yang mereka ciptakan dan isi sendiri. Topik yang mereka bahas terbentang dari hal terpenting hingga yang paling remeh, termasuk kiprah penguasa dan politikus korup, perusahaan yang menipu konsumen, dan media besar yang kehilangan independensi. Suara warga dunia maya ini begitu kencang.
Pada Pemilu 2009, peran new media jelas semakin signifikan. Preseden gemilang telah dicatat Barack Obama dalam pemilihan presiden AS, ketika barisan pendukung dan relawan yang direngkuhnya tumbuh pesat berkat web-based organizing campaigns. Di Tanah Air, politikus ramai-ramai mengikuti jejak Obama, merambah blog, serta SNS (social network system), seperti Facebook dan Youtube. Tak cukup beriklan di media mainstream, tim komunikasi calon legislator dan calon presiden pun terjun ke media alternatif.
Sayangnya, penguasa dan politikus yang terbiasa dirubung staf itu banyak yang terlambat menyadari kekuatan media baru ini. Bagi Jusuf Kalla, Prabowo, atau calon presiden lainnya, menemui publik lewat blog merupakan hal yang penting mengingat bahwa netizen memiliki ekspektasi untuk menemukan the real you, sosok yang mendengarkan dan meladeni percakapan yang dinamis dan kritis, tanpa mendelegasikannya. Ini merepotkan, tapi tak mustahil, meski hanya 15 menit sepekan, seperti yang pernah dilakukan Ahmadinejad. *
 


 
 
 
salam
Abdul Rohim



__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

20 March 2009

[media-sumut] Surat Terbuka Dewan Pers

From: Dewan Pers <dewanpers@cbn.net.id>
Subject: surat terbuka dewan pers
Date: Wednesday, March 18, 2009, 6:24 PM

Yth. Redaksi media massa
di
     Indonesia
 
terlampir kami sampaikan surat terbuka dewan pers.
semoga saudara berkenan ikut menyebarluaskannya.
 
terima kasih
 
dewan pers
 
----------------
 


Surat Terbuka Dewan Pers

Kepada Pemerintah Daerah di Seluruh Indonesia

Dewan Pers akhir-akhir ini kembali menerima sejumlah pengaduan dan keluhan dari berbagai pihak mengenai penyalahgunaan profesi wartawan. Mereka yang mengaku wartawan itu melakukan tindakan yang tidak sejalan dengan etika jurnalistik seperti memeras, memaksa, atau mengancam narasumber.

Berdasar pengaduan dan keluhan tersebut, Dewan Pers ingin mengingatkan kembali Pernyataan Dewan Pers Nomor: I/P-DP/III/2008 tentang Praktek Jurnalistik yang Tidak Etis, yang dikeluarkan pada 5 Maret 2008. (terlampir)

Dengan memedomani Pernyataan Dewan Pers itu diharapkan masyarakat, terutama pemerintah daerah di seluruh Indonesia , dapat membantu memerangi praktek-praktek jurnalistik tidak etis itu demi penegakan kemerdekaan pers.

Demikian agar menjadi perhatian semua pihak. 

Jakarta, 17 Maret 2009

Dewan Pers,

Drs. Sabam Leo Batubara

Wakil Ketua

Pernyataan Dewan Pers

Nomor: 1/P- DP/III/2008

tentang

Praktek Jurnalistik yang Tidak Etis

Dewan Pers beberapa bulan belakangan ini menerima sejumlah pengaduan, pemberitahuan, dan permohonan perlindungan terkait dengan praktik-praktik jurnalisme yang tidak sejalan dengan prinsip-prinsip etika. Terdapat pengaduan yang mempertanyakan cara-cara etis dalam melakukan wawancara, media secara sepihak mengklaim adanya informasi manipulasi yang perlu dikonfirmasi, yang berujung pada upaya pemerasan. Contoh pengaduan lainnya menyangkut nama "penerbitan pers" yang menimbulkan kesalahpahaman (misalnya, penamaan tabloid KPK, yang tidak ada kaitannya dengan Komisi Pemberantasan Korupsi; nama penerbitan Buser yang mengesankan sebagai satuan tugas kepolisian).

Praktek pelanggaran etika jurnalistik tersebut memanfaatkan kemerdekaan pers dengan menyalahgunakan prinsip-prinsip kemerdekaan pers untuk keuntungan atau kepentingan individu. Dengan menyalahgunakan kartu pers, organisasi wartawan, atau institusi pers, sejumlah individu mengidentifikasi diri sebagai "wartawan" sebagai sarana mencari keuntungan secara kurang etis. 

Contoh tersebut merupakan sebagian dari persoalan yang muncul dari praktek penyalahgunaan institusi pers dan profesi wartawan. Dengan semakin maraknya kasus-kasus penyalahgunaan tersebut, Dewan Pers pada kesempatan ini merasa perlu menegaskan kembali prinsip-prinsip etika jurnalistik, untuk diketahui dan menjadi pegangan masyarakat ketika berhadapan dengan wartawan atau pers:

1.            Wartawan wajib menegakkan prinsip-prinsip etika, seperti yang tercantum dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ), yang telah disepakati oleh organisasi-organisasi wartawan. Wartawan tidak menggunakan cara-cara pemaksaan dan klaim sepihak terhadap informasi yang ingin dikonfirmasikan kepada narasumber.

2.            Wartawan tidak boleh menerima suap (amplop) dari narasumber dalam mencari informasi, oleh karena itu masyarakat/narasumber tidak perlu menyuap wartawan. Kode Etik Jurnalistik dengan jelas menyatakan wartawan Indonesia selalu menjaga kehormatan profesi dengan tidak menerima imbalan dalam bentuk apa pun dari sumber berita. Dengan tidak menyuap, masyarakat turut membantu upaya menegakkan etika dan upaya memberantas praktek penyalahgunaan profesi wartawan.

3.            Masyarakat berhak menanyakan identitas wartawan dan mencek kebenaran status media tempatnya bekerja. Masyarakat berhak menolak melayani wartawan yang menyalahgunakan profesinya dalam melakukan kegiatan jurnalistik.

4.            Dewan Pers mengimbau agar komunitas wartawan dan pers bahu-membahu bersama masyarakat untuk memerangi praktik penyalahgunaan profesi wartawan dan melaporkan pada kepolisian.

Jakarta, 5 Maret 2008

Dewan Pers

Prof. Dr. Ichlasul Amal, M.A.

Ketua

 

 



__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___