06 June 2009

[media-sumut] Nol Persen adalah Seratus Persen







http://batampos.co.id/Opini/Opini/Nol_Persen_adalah_Seratus_Persen.html

Nol Persen adalah Seratus Persen

Sabtu, 06 Juni 2009
Oleh: M RASYID NUR
Guru SMA Negeri 3 Karimun

LAPORAN di Batam Pos (01/06/09) dengan judul "Nasib SMP Negeri 14 Satu Atap, Kampung Madong Tanjungpinang- Muridnya 16 Orang, Belum Pernah Ada yang Lulus" di satu sisi terasa menyedihkan, serta membuat kita terenyuh. Karena berita itu menyatakan tidak/belum seorangpun peserta UN (Ujian Nasional) dari sekolah ini yang mampu lulus UN. Tapi di sisi lain, kenyataan itu pun sekaligus menginformasikan ''mungkin'' masih ada kejujuran dalam pelaksanaan UN di sekolah.

Di tengah kerisauan adanya kecurangan (yang terdeteksi) dan mungkin lebih banyak kecurangan lain (yang tak terdeteksi) dalam pelaksanaan UN selama ini maka dugaan (lebih tepat: harapan) kejujuran dalam pelaksanaan ujian pastilah menjadi serasa setitik harapan di tengah dahaga kejujuran itu sendiri.

Meski tidak segencar tahun-tahun sebelumnya, info kecurangan pelaksanaan UN tahun ini juga tak sepi berita. Laporan Batam Pos (31/05/09) berjudul "Tak Lulus 100 Persen, 19 SMA UN Ulang" telah menyiratkan terjadinya kecurangan dalam pelaksanaan ujian "sakral" yang berlangsung medio April lalu itu. Dugaan tidak lulusnya yang konon disebabkan oleh beredarnya kunci jawaban palsu yang diberikan sekolah kepada peserta UN, jelas-jelas mengandung arti bahwa sekolah memang telah melakukan kecurangan dalam pelaksanaan ujian tersebut. Di media lain tentu ada juga berita-berita yang seirama.

Bayangkan, 19 SMA diberitakan akan mengulangi UN kembali. Pertanyaannya, bagaimana status ujian ulangan itu dan ketentuan yang mana sebagai landasannya? Dalam POS (Prosedur Operasional Standar) UN 2008/ 2009 yang dikeluarkan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) sebagai penyelenggara UN melalui Keputusan BSNP No 1512/ BSNP/ XII/ 2008 tentang POS UN SMA/ MA Tahun 2008/ 2009 dan dijabarkan lagi melalui Permendiknas RI No 77/ 2008 tentang UN, hanya ada ketentuan ujian susulan bagi peserta yang karena halangan tertentu (seperti sakit) dapat mengikuti UN susulan seminggu setelah ujian utama dilaksanakan. Tidak ada ujian susulan bagi peserta yang salah mencontek kunci jawaban. (Baca Kep. BSNP bag I. A.6 dan IV. A.1-4)

Pada ketentuan yang tertuang dalam Permendiknas 77 itu juga tidak ada peraturan yang menyatakan peserta yang tidak lulus karena salah mencontek untuk dapat mengulang UN pada tahun yang sama. Pada pasal 4 ayat 3 dan 4 diperuntukkan ujian susulan hanya bagi yang belum mengikutinya karena alasan tertentu yang disertai bukti yang sah. Sekali lagi, hanya yang belum mengikuti UN.

Pemberian kunci jawaban oleh penyelenggara ujian (sekolah) walaupun ternyata belakangan diketahui kunci jawabannya itu keliru, tetap saja itu sebagai suatu pelanggaran pelaksanaan ujian. Jelas motivasinya membantu peserta ujian secara illegal atau keliru. Artinya, itu adalah suatu kecurangan yang nyata.

Sesungguhnya, motivasi yang keliru yang selama ini banyak ditemukan di tataran penyelenggara UN telah menyebabkan terjadinya kecurangan-kecurangan dalam pelaksanaan UN. Motivasi yang keliru tidak hanya membuat guru dan kepala sekolah berlaku curang dalam menyelenggarakan UN bahkan bisa juga motivasi yang keliru merembes ke tataran di atasnya (pemerintah) secara berjenjang.

Walaupun sulit membuktikan, tapi motivaasi yang keliru oleh sebagian guru mata pelajaran (GMP). Ketika posisinya menjadi pengawas (silang) di sekolah lain, dia tidak hanya membiarkan peserta bekerja sama dengan peserta lain (saling mencontek) akan tetapi bahkan ikut memberi jawaban kepada peserta. Itu semua dilakukan sekadar menyenangkan kepala sekolah. Jelas keinginan untuk menyenangkan kepala sekolah itu merupakan motivasi yang keliru.
Selanjutnya kepala sekolah yang sekadar menyenangkan pejabat di atasnya atau karena berutang budi secara keliru kepada orang tua siswa, dengan kekuasaannya sebagai ketua penyelenggara UN di sekolah bisa pula ikut-ikutan mencurangi pelaksanaan UN di sekolahnya. Bagi kepala sekolah yang mempunyai motivasi seperti itu, "seribu jalan ke Roma" akan ditempuh.

Buat sekolah atau daerah yang selama ini sudah melaksanakan UN dengan baik dan benar hendaklah menjadi acuan sekolah lain yang secara sadar mencurangi pelaksanaan ujian. Ke depan tidak akan kita baca lagi berita guru (seperti di salah satu provinsi di Pulau Sumatera dan di Jawa) yang harus berurusan dengan penegak hukum (polisi) karena berlaku curang dalam ujian. Dan berita nol persen kelulusan SMP Satu Atap itu harus disikapi seratus persen sebagai pengajaran yang baik. Semua pihak harus mau menerimanya.

Memang akan timbul pertanyaan jika sekolah yang proses pembelajarannya amburadul, guru malas dan jarang masuk, jauh dari koleksi buku-buku pegangan untuk belajar, guru yang serba kurang, namun tiba-tiba peserta UN-nya lulus seratus persen. Rumput bergoyang pun, juga akan curiga.

Saat ini, beberapa hari ke depan ini, adalah hari-hari yang dinantikan oleh para peserta UN 2008/ 2009 di negeri ini.
Apapun hasil yang akan diumumkan oleh penyelenggara UN, pada dasarnya sekolah telah berusaha melakukan bermacam kegiatan agar peserta UN dapat meraih hasil maksimal dan sukses dalam UN. Di samping berusaha mengefektifkan dan memaksimalkan pembelajaran regular (jadwal biasa) oleh sekolah juga telah dilakukan jadwal tambahan (terobosan/bimbingan UN) di luar jam belajar biasanya. Belajar tambahan yang juga dilengkapkan dengan try out UN, itu semua adalah untuk antisipasi pelaksanaan UN itu sendiri. Maka apapun hasilnya nanti seharusnya dapat diterima oleh semua pihak. Tiada yang saling menyalahkan. ***


[Non-text portions of this message have been removed]




--
Merdeka!!!
Tim Media Pemenangan Mega Prabowo Pro Rakyat Sumut


__._,_.___


media sumut



Your email settings: Individual Email|Traditional
Change settings via the Web (Yahoo! ID required)
Change settings via email: Switch delivery to Daily Digest | Switch to Fully Featured
Visit Your Group | Yahoo! Groups Terms of Use | Unsubscribe

__,_._,___

No comments: