04 October 2009

[media-sumut] Infotainment : antara Idealisme dan Bisnis

5 Oktober 2009


Oleh : Rezanades Muhammad, MM


Infotainment pada awal mulanya berdiri untuk menampilkan berita- berita seputar kehidupan selebritis dan dunia hiburan Indonesia. Dihadapan program – program TV lainnya saat itu di sekitar tahun '97, Infotainment muncul sebagai program TV yang tidak hanya unik tetapi juga bergengsi. Mungkin karena dahaga rasa ingin tahu masyarakat yang begitu menumpuk terhadap para pesohornya. Karena sebelumnya tidak ada media massa yang dapat memuaskan rasa dahaga tersebut, begitulah infotaiment cepat mendapat tempat di hati pemirsa televisi. Tidak seperti sekarang yang mendapat citra `buruk' di masyarakat, dahulu Infotainment tampil bersahabat, atau paling tidak diniatkan sebagai medium yang aman untuk ditonton dalam membawakan informasi seputar selebritis. Istilah `media gosip', sebenarnya tidak pernah ditempelkan dalam periode awal- awal kejayaan Infotainment. Atau pun tidak pernah dimaksudkan untuk memberitakan seputar kisah perselingkuhan , perceraian, keretakan rumah tangga, narkoba, penyimpangan seksual selebritis dan lain- lain.

Hanya belakangan setelah stasiun televisi dan sejumlah praktisi Infotainment mempelajari bahwa berita – berita seputar kasus selebritis ; perselingkuhan , perceraian, keretakan rumah tangga, narkoba, penyimpangan seksual selebritis, konflik selebritis dan lain –lain memiliki kecendrungan rating yang lebih tinggi, mereka mulai merubah kebijakan tampilan infotainment. Istilah "gosip" mulai dimasukkan kedalam narasi content dan percakapan presenter. Tampilan presenter yang awalnya tampil dengan wanita cantik-ceria berubah menjadi wanita muda memakai gaun malam dengan karakter bawel- suka bergunjing. Ada juga infotainment yang suara narasinya dibuat seperti membaca puisi dari awal sampai akhir, untuk menguatkan intonasi berita konflik yang sedang dibawakannya. Dan lain- lain usaha yang dilakukan untuk menaikkan rating , dengan asumsi bahwa pemirsa atau angka rating menyukai gosip, rating menyukai kasus, rating menyukai konflik dan lain- lain. Sampai disini impresi tentang infotainment sudah bergeser dari posisinya yang semula. Paling tidak , hal ini terlihat dari nama –namanya yang muncul diawal- awal seperti : Cek dan Ricek, Kroscek, Halo Selebriti, Buletin Sinetron, Otista, Kabar –Kabari, KISS (Kisah Seputar Selebritis), dll. Jauh berbeda dengan yang kemudian muncul, lebih tendensius untuk mengumbar sensasi bombastis, gossip atau berita koran kuning : Was Was, Kasak Kusuk, Hot Shot, Silet (Program Silet juga termasuk yang muncul sudah lama, tapi sebelumnya Silet tidak mengarahkan contentnya kepada Infotainment ), Insert Investigasi, dll.

Di masa persaingan ketat industri televisi, --yang ditandai dengan kemunculan berbagai stasiun televisi Nasional baru dari tahun 1997--, tayangan Infotainment berubah fungsi menjadi tayangan ekonomis. Persaingan ketat antar televisi swasta yang membuat share audiens nasional semakin terbagi- bagi, membuat televisi swasta semakin gencar berebut pemasang iklan. Stasiun televisi pun semakin keras memutar otak untuk melakukan efisiensi dalam mengelola airtime mereka. Segera setelah mereka menyadari bahwa biaya pembuatan infotainment begitu murah, merekapun segera mengisi banyak jam siaran mereka dengan beragam program Infotainment. Hingga sempat sampai puluhan jam perminggu siaran program Infotainment memenuhi layar kaca kita. Kondisi ini juga menciptakan kebingungan bagi masyarakat luas, "mengapa hampir semua jam siaran TV Nasional dipenuhi Infotainment ?" Jawabannya adalah karena program Infotainment yang begitu murah pembuatannya, sehingga stasiun televisi swasta yang sedang kekurangan sumber daya untuk mengisi jam siaran mereka menjadikan Infotainment sebagai solusi cepat. Karena biaya pembuatannya yg murah, "program Infotainment" , mau dipasang di jam berapapun selalu masih ketemu marginnya. Sehingga daripada jam siaran kosong, begitu pula lah menjadi mudah saja stasiun televisi untuk mengisinya dengan Infotainment.

Idealisme Tayangan Berkualitas

"MENCARI UNTUNG SEBESAR- BESARNYA DAN MENEKAN BIAYA SEKECIL –KECILNYA" ,adalah salah satu prinsip penting kapitalisme. Dimana – mana pun berlaku seperti itu, begitu juga di dunia televisi. Sampai pada titik ini, mereka mulai mengelompokan infotainment sebagai "low cost program" ( program televisi berbiaya rendah ). Yang pertama, adalah karena dari pengalaman sebelumnya mereka sudah menyadari soal biaya pembuatannya yang rendah yang kalau ditaruh di hampir semua jam tayang televisi, masih ketemu nilai marginnya. Maksud saya disini adalah untuk menerangkan definisi "murah" itu sendiri. Misalnya sesuatu yang dikatakan murah, tapi maksudnya murah dibandingkan dengan apa ? Yaitu dengan membandingkannya dengan rate iklan jam tayang televisi. Tiap jam tayang tentu tidaklah sama harganya iklannya , ada yang murah di jam sepi penonton dan ada yang paling mahal misalnya di jam ramai penonton ( prime time ). Yaitu sekitar jam 20:00 WIB s/d jam 23:00 WIB, itu adalah jam rata- rata orang Indonesia pulang kerja dan menikmati bersantai bersama di rumah. Kalau untuk Infotainment, dipasang di jam siaran yang rate cardnya rendah pun , masih bisa mendapatkan marginnya, itulah yang dimaksud dengan murah.

Pertama- tama para stasiun televisi membeli Infotainment dari para production house. Kemudian mereka mulai mencoba untuk memproduksi Infotainment didalam manejemen mereka sendiri. Walau hingga sekarang tidak semua televisi memproduksi program infotainmentnya sendiri. Kemampuan itu membuat televisi mengurangi pembelian program Infotaiment dari production house (PH), yang kemudian memperkuat posisi tawar –menawarnya kepada para production house infotaiment untuk menekan harga jual program infotainment hingga sangat rendah.

Sampai disini, tentunya kita berpikir tentang apa yang dimaksud dengan tayangan berkualitas atau bagaimana membuat program infotainment yang berkualitas ? Sebab yang dimaksud dengan definisi "tayangan berkualitas" oleh para stasiun televisi swasta kebanyakan adalah, berbeda dengan yang kita pahami pada umumnya. Kita biasa memahami tayangan berkualitas adalah tayangan yang mencerdaskan selain menghibur , paling tidak menghargai intelektualitas penontonnya. Tayangan yang berkualitas adalah tayangan yang netral , kredibel, memiliki kompetensi , jujur dan lain sebagainya. Sedangkan yang dimaksud "tayangan berkualitas" oleh stasiun televisi swasta adalah tayangan yang menghasilkan "profit" atau laba. Walau sekilas mungkin sejalan satu sama lain, namun sesungguhnya tidak selalu. Karena definisi profit adalah pendapatan dikurangi biaya, pada kenyataannya sebuah tayangan bisa menjadi sangat tidak mendidik , sangat tidak berkualitas, pada saat yang bersamaan ia juga menghasilkan laba. Hal ini adalah salah satu contoh kasus yang terjadi pada program infotainment. Sehingga opini atau pendapat masyarakat terhadap suatu program digolongkan sebagai ekses atau dampak. Sedangkan performa ( kualitas ) programnya di tandai dari rating atau jumlah penontonnya yang akan menghasilkan pendapatan buat stasiun televisi.

Saya masih ingat ucapan pengamat media , Veven SP. Wardhana 3 tahun lalu yang mengatakan ," bahwa infotainment ibaratnya seperti fast food". Saya menyetujui pendapatnya ,bahwa mereka membuat program infotainment seperti fast food, walau sebenarnya mereka bisa membuatnya seperti "home made food". "Fast food" ( makanan cepat saji ) dibuat dengan biaya yang sangat efisien, dengan produksi skala besar dan dalam waktu yang cepat sampai ke meja tamu restorannya. Namun fast food tidak menyehatkan , banyak mengandung penyedap rasa, banyak mengandung lemak, kolesterol dan kalau dimakan terus menerus sangat tidak baik buat kesehatan. Veven memberikan analogi bahwa jam infotainment yang sering di tayangan televisi ibarat seseorang yang dijejali fast food setiap hari. Yang kesemuanya itu adalah kebalikan dari "home made food" ( makanan masakan rumah ). Yang walaupun bisa jadi tidak seenak fast food rasanya, namun dapat menyehatkan. Karena dibuatnya seperti fast food biaya produksinya pun ditekan semurah mungkin. Yang terpenting, akibat dari tayangan televisi yang dibuat seperti fast food adalah penelantaran idealisme infotainment sebagai produk jurnalistik. Termasuk diantaranya adalah peran pembinaan dan pengawasan yang seolah hilang sama sekali. Kebanyakan para reporter infotainment yang terjun ke lapangan melakukan liputan kurang menyadari kehadiran dirinya sebagai wartawan di hadapan narasumbernya, melainkan hanya sebagai pekerja biasa. Adalah termasuk ekses dari perekrutan yang asal- asalan, berorientasi pada gosip, berita `panas', dan lain- lain. Sedangkan pada peran pengawasan yang longgar, infotainment menjadi lebih condong mengedepankan sensasi ketimbang menyampaikan fakta. Selain program infotainment yang diproduksi oleh stasiun televisi sendiri, stasiun televisi juga menekan harga jual program infotainment ke production house, bahkan hingga ke titik yang mendekati biaya produksinya. Sampai pernah harga sebuah program infotainment dijatuhkan hingga 1 juta per episode. Walau murah pun diterima juga program itu untuk dikerjakan PH tersebut. Tapi bisa kita bayangkan tentunya nanti, infotainment seperti apa yang dibuat dengan harga minim tersebut ? sumber daya manusia (SDM) seperti apa yang bakal direkrutnya ? Dan lain- lain, tetapi yang terpenting bagaimana kualitas program tersebut ? **Secara kualitas dari pihak televisi tentu bisa dipenuhi. Tetapi bagaimana secara kualitas menurut penonton ?**

Bicara idealisme, tentunya yang dimaksud disini adalah idealisme jurnalistik. Bahwa infotainment sebagai media massa jurnalistik memiliki kekuatan untuk mempengaruhi opini masyarakat luas, selain eksistensinya sebagai media hiburan, oleh karena itu juga harus memikul tanggung jawab sebagaimana layaknya media jurnalistik. Sekilas mungkin infotainment terlihat tidak mempunyai manfaat buat kepentingan umum ( masyarakat luas ) sebagaimana isi media massa `news' pada umumnya. Seperti misalnya berita – berita liputan tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, nasional, daerah dan lain sebagainya. Tetapi tayangan infotainment jelas mempengaruhi opini masyarakat tentang hamil di luar nikah, seks diluar nikah, keretakan rumah tangga, perceraian, dan lain- lainnya. Oleh karena itu sangat penting agar media infotainment menjadi lebih bertanggung jawab dengan berpihak kepada norma- norma dan nilai yang sedang dipegang masyarakat. Hal ini dapat dilakukan misalnya sebagai media infotainment agar jangan salah mengesankan bahwa prilaku- prilaku penyimpangan tertentu yang dilakukan selebritis kita adalah suatu hal yang biasa pada masyarakat kita. Atau selebihnya agar lebih selektif dalam memilih materi penayangan berita, sehingga tidak kebablasan mengedepankan sensasi.


------------------------------------

media sumutYahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-sumut/

<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/media-sumut/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:media-sumut-digest@yahoogroups.com
mailto:media-sumut-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
media-sumut-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

No comments: